Waspada
Waspada » Harga Ikan Teri Asin Anjlok Di Belawan
Ekonomi

Harga Ikan Teri Asin Anjlok Di Belawan

Meski harga anjlok, pengelola ikan teri asin tetap memilah-milah ikan teri sebelum ditolak ke pasaran di tangkahan nelayan Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan, Minggu (5/1). Waspada/Andi Aria Tirtayasa
Meski harga anjlok, pengelola ikan teri asin tetap memilah-milah ikan teri sebelum ditolak ke pasaran di tangkahan nelayan Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan, Minggu (5/1). Waspada/Andi Aria Tirtayasa

BELAWAN (Waspada) : Sejumlah penjual Ikan Teri Asin di tangkahan nelayan Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan mengeluhkan anjloknya harga ikan teri asin. Teri nasi atau teri Medan yang biasanya dijual Rp.75.000 per Kg kini menjadi Rp45.000 /Kg.

Anjloknya harga ikan teri asin tersebut disebabkan melimpah ruahnya tangkapan ikan yang dilakukan oleh kapal-kapal nelayan berskala besar di Gabion Pelabuhan Belawan.

Salah seorang nelayan penangkap ikan teri bernama Muhammad Fitri ,42, kepada Waspada, Minggu (5/1) di lokasi pengolahan ikan asin teri tangkahan nelayan Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan menyebutkan, meski hasil tangkap nelayan teri tradisional mencukupi namun hasil tangkap nelayan berskala besar ternyata lebih banyak sehingga teri melimpah ruah dan harga pasaran jadi anjlok.

“Sejak Oktober 2019 hingga awal tahun baru 2020, harga teri masih anjlok. Pasalnya, hasil tangkapan kapal-kapal berskala besar melimpah ruah, apalagi kapal-kapal berskala besar juga menangkap ikan di zona terlarang nelayan kecil,” ujar Fitri yang juga mengelola usaha ikan teri asin.

Menurut Fitri, selain teri nasi atau Teri Medan, teri pekto yang dulunya Rp.60.000 kini turun di kisaran harga Rp.40.000 /Kg. Teri Pektang sempat Rp50.000 /kg turun menjadi Rp.20.000 /kg.

Fitri berharap agar Dinas Perikanan dan Kelautan melakukan pengawasan terhadap harga ikan sehingga harga ikan tidak tergantung pada hasil tangkap kapal-kapal berskala besar.

‘Selain itu, para nelayan teri juga berharap agar peraturan menteri Kelautan dan Perikanan (Permen) KP No 71 ditinjau ulang karena keberadaan Permen 71 itu membuat nelayan berskala kecil semakin sengsara dan acap menjadi sasaran razia dari pihak-pihak tertentu.

“Permen KP 71 harus ditinjau ulang karena semua nelayan berskala besar mencari makan hingga ke zona nelayan kecil bahkan alat tangkap yang super modern merusak biota laut karena mencari ikan di zona nelayan skala kecil,” sebut Fitri lagi.

Dijelaskan Fitri, sekarang ini kapal-kapal nelayan berskala besar ukuran 10 GT menangkap ikan di bawah 10 mil, padahal seharusnya kapal 10 GT itu menangkap ikan di atas zona 10 mil ke atas namun prakteknya mereka malah merambah ke zona nelayan teri biasa. Akibatnya, tangkapan nelayan tradisional menurun.

“Dalam prakteknya di lautan, kapal-kapal 10 GT menangkap ikan hingga ke zona nelayan teri sehingga tankapan nelayan teri berkurang dan berdampak pada kerusakan biota laut,” ujar Fitri seraya berharap agar pemerintah meninjau ulang Permen KP 71 karena keberadaannya menyengsarakan para nelayan,” ujar Fitri.(h04)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2