Gubernur BI Desak Perbankan Turunkan Bunga Kredit

  • Bagikan
Gubernur BI Perry Warjiyo (Ist)

JAKARTA (Waspada): Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendesak agar perbankan  ikut menurunkan suku bunga kredit. Sebab data BI menyebutkan bahwa penurunan bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRRR yang kini berada di level 3,50 persen belum banyak diikuti bunga perbankan. 

“Komitmen BI tetap berpegang pada bunga rendah, selagi tidak ada gejolak. Penurunan suku bunga kebijakan moneter dan longgarnya likuiditas mendorong suku bunga seharusnya  terus menurun. Karena itu suku bunga kredit perbankan masih perlu terus didorong turun,” ujarnya pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, Kamis (2/12). 

Menurutnya, longgarnya likuiditas dan penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 150 basis points (bps) sejak 2020 telah mendorong rendahnya rata-rata suku bunga pasar uang antar bank sekitar 2,96 persen selama Februari 2021. 

Namun demikian, penurunan suku bunga kredit hingga Januari 2021 masih cenderung terbatas. Yaitu hanya sebesar 75 basis point ke level 9,72 persen, Januari 2020 hingga Januari 2021,” ungkapnya.

“Di tengah penurunan suku bunga BI7DRRR sebesar 125 bps sampai Januari 2021, suku bunga dasar kredit perbankan pada periode yang sama baru turun sebesar 75 basis point secara tahunan,” ungkap Perry. 

Hal ini menyebabkan suku bunga dasar kredit terhadap BI7DRRR cenderung melebar dari 5,82 persen pada Januari 2020 menjadi sebesar 6,28 persen pada Januari 2021. 

Di sisi lain, suku bunga deposito satu bulan juga telah menurun sebesar 189 BPS year on year (yoy) ke tingkat 4,06 persen sejak Januari 2020 hingga Januari 2021.

“Justru suku bunga deposito lebih cepat dalam merespon suku bunga kebijakan. Sehingga spread antara suku bunga dasar kredit dan suku bunga dasar deposito satu bulan juga alami kenaikan dari 4,86 persen menjadi 5,97 persen,” tuturnya. 

Perry menegaskan, keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan rendah ini diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami sampaikan secara jelas arah bauran kebijakan BI tahun depan, dengan menyikapi ketidakpastian global tentu saja kepentingan negeri ini memerlukan stabilitas,” ungkapnya.

Selain suku bunga rendah, lanjut Perry, pihaknya juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut.

“Antara lain meningkatkan koordinasi bersama KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) untuk terus mendorong pemulihan ekonomi nasional,” urainya. (J03) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *