Waspada
Waspada » DPR RI, Kardaya Warnika minta Pemerintah menekan Pencemaran Udara dari PLTU
Ekonomi Nusantara

DPR RI, Kardaya Warnika minta Pemerintah menekan Pencemaran Udara dari PLTU

JAKARTA (Waspada): Anggota Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika meminta kepada pemerintah untuk menekan pencemaran udara dari gas buang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan batubara, dengan memasang teknologi ramah lingkungan.

Kardaya mengakui memang tidak bisa ditampik keberadaan PLTU sering dituding sebagai pencemar lingkungan. Tapi listrik dari PLTU sangat dibutuhkan  dan berbahan baku murah karena melimpahnya pasokan batubara di Indonesia.

“Sekarang memang sudah ada teknologi yang mampu menekan emisi tersebut agar lebih ramah lingkungan. Teknologi yang clean untuk menekan emisinya agar bisa lebih rendah,” ujarnya dalam diskusi Emisi Gas Buang PLTU secara virtual, Rabu (13/1).

Ketua Indonesia Mining and energy Forum (IMEF), Singgih Widigdo menambahkan, PLTU berbahan bakar batubara masih mendominasi sumber pasokan listrik nasional.

“Tak hanya di Indonesia, penggunaan batubara untuk PLTU juga masih dilakukan di berbagai negara seperti di China yang kini defisit listrik akibat kekurangan pasokan batubara,” tuturnya.

Untuk menekan pencemaran dari proses pembakaran batubara pada PLTU, dia menyarankan penerapan teknologi Ultra Super-Critical (USC) mutlak digunakan agar lebih efektif dan efisien

“Teknologi USC mampu mengatur tekanan pada suhu uap yang masuk ke dalam turbin PLTU. Ketika tekanan dan suhu makin tinggi, maka tingkat efisiensi juga semakin tinggi pula. Hal ini akan membuat semakin rendah karbon,” urai Singgih.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi meminta kepada  pemerintah untuk mewajibkan PLTU pengguna batubara dengan menerapkan teknologi maju yang ramah.

“PLTU bisa menggunakan teknologi USC atau EQCS (Emission Quality Control System) yang menerapkan Flue Gas Desulfurization (FGD) sehingga meminimalkan sulfur yang keluar dari cerobong,” terang Fahmy..

Menurutnya, teknologi ini digunakan untuk menghilangkan sulfur dioksida dari emisi gas buang pembangkit listrik. FGD membuat kandungan SO2 yang dilepaskan ke atmosfer tidak mencemari udara.

“Teknologi-teknologi itu sudah ada dipakai dan terbukti lebih ramah lingkungan. Saya kira PLN punya komitmen untuk itu, tinggal kita ingatkan terus,” imbuh Fahmy.

Sebelumnya, Direktur Tehnik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar mengatakan, pemerintah telah menginstruksikan pemasangan teknologi USC untuk PLTU berkapasitas besar.

“Penerapan teknologi USC telah masuk dalam peta jalan (road map) penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi. Pemasangan boiler sistem USC dapat memenuhi baku mutu emisi,” jelasnya.

Dia menegaskan, pembangunan PLTU Sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) harus menggunakan Boiler teknologi USC. Namun, tidak untuk PLTU di luar Sistem Jamali, mengingat kapasitasnya masih kelas 50-300 MW.

Kementerian ESDM mencatat, terdapat sembilan lokasi PLTU batubara yang akan menggunakan teknologi USC, dengan total kapasitas sebesar 10.130 MW.

PLTU USC yang kini sedang dibangun antara lain, PLTU Jawa 9 & 10, PLTU Jawa Tengah (Batang), dan PLTU Jawa 4 (Tanjung Jati B),. Kesemuanya berstandar negara maju dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). (J03)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2