Waspada
Waspada » BSI Harus Jelaskan Perbedaan Bank Syariah Dan Konvensional
Ekonomi

BSI Harus Jelaskan Perbedaan Bank Syariah Dan Konvensional

PAKAR ekonomi Gunawan Benjamin. BSI harus jelaskan perbedaan bank syariah dan konvensional. Waspada/ist
PAKAR ekonomi Gunawan Benjamin. BSI harus jelaskan perbedaan bank syariah dan konvensional. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Bank Syariah Indonesia (BSI) harus jelaskan kepada publik secara konkrit tentang perbedaan Bank Syariah dan konvensionl, baik produk maupun produk jasanya.

Hal itu disebabkan karena hingga kini masih banyak tudingan miring yang kerap disematkan kepada bank Syariah yang tidak berbeda dengan bank konvensionil.

Demikian pakar ekonomi Gunawan Benjamin (foto), kepada Waspada, Selasa, (2/2) di Medan.

Dikatakan Benjamin, saat ini Bank Syariah Indonesia (BSI) yang juga sudah resmi merger dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan juga bank Mandiri tersebut menjadi bank syariah terbesar di tanah air dan memperbesar pasar syariah pada industri keuangan dan perbankan.

Seperti pernyataan Presiden Jokowi, Bank Syariah yang universal yang terbuka serta inklusif.

Nah, untuk masalah inklusif di pasar keuangan syariah, edukasi kepada masyarakat harus bisa berjalan di situ.

Jangan hanya terfokus pada kinerja keuangan perusahaan semata. Bank Syariah Indonesia harus bisa menjawab kepada publik atau nasabah pentingnya menggunakan Bank Syariah.

Atau menjelaskan perbedaan mendasar produk maupun jasa yang diberikan oleh Bank Syariah Indonesia dengan bank konvensionil.

Karena tidak bisa dipungkiri banyaknya tudingan miring yang kerap disematkan kepada Bank Syariah. Mulai dari isu ketidaksyariahannya, atau isu yang tetap menyamakan Bank Syariah dengan bank konvensional tidak ada perbedaan.

Karena itu, menurut Benjamin, selama ini masyarakat hanya melihat dari produk yang memang secara kasat mata akan sulit dibedakan antara syariah dan konvensional.

Untuk itu, harus diberikan penjelasan konkrit, seperti penjelasan mengenai akad, legal standing sesuai syariat atau fiqih.

Contohnya, penjelasan bagaimana akad itu penting di dalam suatu produk, sehingga akan ada sebuah pemahaman di masyarakat bahwa produk itu tidak bertentangan dengan syariah islam, maka akan muncul pemahaman disitu.

“Bukan semata-mata masyarakat menggunakan bank Syariah hanya bicara tentang untung dan rugi menggunakan bank Syariah,” papar Benjamin.

BSI Bukan Hanya Untuk Umat Islam

Begitu juga seperti arahan Presiden Jokowi, beliau menyatakan dengan jelas, bahwa bank Syariah nantinya menyambut baik siapapun yang menjadi nasabah.

Di situ jelas bahwa bank Syariah Indonesia yang merupakan penggabungan Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah. Bank tersebut bukanlah secara khusus hanya diperuntukan untuk umat muslim saja.

Masyarakat dengan agama apapun bisa menggunakan jasa Bank Syariah Indonesia (BSI) tersebut. Baik nasabah yang menyimpan uangnya, ataupun nasabah yang berniat untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.

“Harapan kita dengan penggabungan tersebut Bank Syariah Indonesia bisa menjadi bank besar yang memberikan pelayanan berkelas seperti Bank BUKU 4 pada umumnya,ucap Benjamin.

Untuk menjawab tantangan BSI harus mempersiapkan SDM yang mumpuni di situ. Kalau selama ini kan banyak karyawan yang direkrut bank Syariah berasal dari bank konvensional.

Tidak masalah pada dasarnya, tetapi setidaknya SDM yang hadir nanti benar-benar menguasai dan kapabel dalam merepresentasikan sebuah produk mulai dari akad atau fiqih hingga ke produk jadinya.

“Kita berharap ada upaya mencerdaskan masyarakat di situ,” ungkap Benjamin.

Sebenarnya, kata Benjamin, produk perbankan konvensional itu bisa dibilang simpel. Gampanganya itu begini, kalau nyimpan dikasih bunga, yang minjam dibebani bunga yang lebih besar.

Kalau bank Syariah tentunya pembuatan produknya tidak sesederhana itu. Begitu minjam uang saja, bisa menggunakan akad mudharabah, musyarakah, murabahah, Ijarah dan banyak lagi.

Nah, di sinilah masyarakat butuh dijelaskan apa itu akad-akadnya. Walaupun pada akhirnya nanti secara hitungan matematikanya, tidak jauh beda dengan yang konvesional.

“Belum lagi bicara produk simpanannya, yang tentunya juga akan ada banyak akad di situ. Jadi, siapkan SDM-nya untuk bekerja lebih keras dalam mencerdaskan masyarakat,” pungkas Benjamin.(clin)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2