Waspada
Waspada » BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5 Persen
Ekonomi

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5 Persen

Gubernur BI Perry Warjiyo (Waspada/Ist)

JAKARTA (Waspada): Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia BI pada 18-19g Mei 2020 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap 4,5 persen. Dengan begitu, suku bunga deposit facility di patok tetap 3,74 persen dan lending facility tetap 5,25 persen

“Keputusan ini sudah mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global,” kata Perry dalam jumpa pers secara streaming, Selasa (19/5).

Kebijakan Bank Indonesia ini meleset dari ekspektasi pasar yang memperkirakan akan adanya pelonggaran moneter sebagai, langkah untuk meredam dampak ekonomi Covid-19, serta menyikapi kinerja ekonomi di kuartal I/2020 yang cukup terpuruk.

Sementara, Kementerian Keuangan berencana alokasikan subsidi bunga untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta kredit ultra mikro akan mencakup nominal kredit senilai Rp1.601,75 triliun.

Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah berencana untuk mengalokasikan subsidi bunga sebesar Rp34,15 triliun, dengan jumlah debitur atau penerima subsidi bunga sebesar 60,66 juta rekening.

“Alokasi belanja ini akan membuat penundaan pokok kredit senilai Rp285,09 triliun dengan total outstanding kredit penerima subsidi Rp1.601,75 triliun,” tuturnya dalam webinar Kanopi bertajuk Through Covid-19 and Beyond, secara virtual.

Menurutnya, jika pemerintah membayari Rp34,15 triliun subsidi bunga, maka total penundaan pokok sebesar Rp285,09 triliun yang tidak harus dibayar oleh pelaku usaha dengan total outstanding kredit Rp1.601,75 triliun.

“Ini yang sedang diupayakan pemerintah supaya tidak menjadi kredit macet. Karena kredit yang akan disubsidi pembayaran bunganya tersebut tidak hanya yang tercatat di industri perbankan, melainkan termasuk juga di perusahaan pembiayaan,” terangnya.

Suahasil melanjutkan pemerintah saat ini tengah memperkuat saluran penerimaannya. Dia memastikan utang bukan menjadi pilihan utama dalam menambal kebijakan fiskal ekspansif ini.

“Yang pertama tentunya kita akan memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL), pos dana abadi. Lalu ada pinjaman tunai dari development partner. Upaya ketiga, baru lewat surat berharga yang filosofinya kita gunakan dengan bijaksana, karena ini adalah pinjaman kita dari generasi mendatang,” jelasnya. (J03)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2