Waspada
Waspada » BI Kembali Turunkan Bunga Acuan Jadi 4 Persen
Ekonomi

BI Kembali Turunkan Bunga Acuan Jadi 4 Persen

Gubernur BI Perry Warjiyo (Waspada/Ist)

JAKARTA (Waspada): Bank Indonesia, (BI), kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate, (BI7DRR), sebesar 25 basis poin (bsp), dati 4,25 persen menjadi 4 persen. Begitu juga dengan, suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps dari 3,5 persen menjadi 3,25 persen serta tingkat suku bunga Lending Facility turun sebesar 25 bps dari 5 persen menjadi 4,75 persen.

“Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, pada pengumuman hasil rapat dewan Gubernur BI secara virtual di Jakarta, Kamis,(16/7).

Dikatakan, untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi COVID-19, BI lebih menekankan pada penguatan sinergi ekspansi moneter dengan akselerasi stimulus fiskal Pemerintah.

BI juga terus memperkuat koordinasi langkah-langkah kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan, (KSSK), untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

“Termasuk penyediaan pendanaan bagi Lembaga Penjamin Simpanan, (LPS), melalui mekanisme repo dan/atau pembelian SBN yang dimiliki LPS sesuai Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 2020,” tutur Perry.

Bank Indonesia juga terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran untuk percepatan implementasi ekonomi dan keuangan digital sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi.

“Caranya, melalui kolaborasi antara bank dan fintech untuk melebarkan akses UMKM dan masyarakat kepada layanan ekonomi dan keuangan,” ujar Perry.

Lebih lanjut dikatakan, kontraksi perekonomian global berlanjut dan pemulihan ekonomi dunia lebih lama dari prakiraan sebelumnya.

Penyebaran COVID-19 yang kembali meningkat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, (AS), Brazil, dan India, memengaruhi perkembangan ini.

Selain itu, mobilitas pelaku ekonomi yang belum kembali normal sejalan penerapan protokol kesehatan, turut menahan aktivitas ekonomi.

Perkembangan ini menyebabkan efektivitas berbagai stimulus kebijakan yang ditempuh dalam mendorong pemulihan ekonomi di banyak negara maju dan negara berkembang termasuk Tiongkok, menjadi terbatas.

Sejumlah indikator ekonomi global menunjukkan permintaan yang lebih lemah, ekspektasi pelaku ekonomi yang masih rendah, serta permintaan ekspor yang tertahan sampai Juni 2020.

Sejalan dengan permintaan global yang lebih lemah tersebut, volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga lebih rendah dari perkiraan semula dan menurunkan tekanan inflasi global.

Lambatnya pemulihan ekonomi dunia serta kembali meningkatnya tensi geopolitik AS-Tiongkok menaikkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Perkembangan ini akhirnya menahan berlanjutnya aliran modal ke negara berkembang dan kembali menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

BI, pun berkomitmen untuk melakukan pendanaan atas APBN 2020 melalui pembelian SBN dari pasar perdana secara terukur, baik sesuai mekanisme pasar maupun secara langsung.

Hal ini sebagai bagian dari upaya untuk biaya kesehatan, perlindungan sosial, serta sektoral K/L dan Pemerintah Daerah guna mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Di samping itu, BI juga berbagi beban dengan Pemerintah untuk mempercepat pemulihan sektor UMKM dan korporasi. (J03)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2