Antisipasi LonjakanTagihan, PLN Siapkan Skema Perlindungan - Waspada

Antisipasi LonjakanTagihan, PLN Siapkan Skema Perlindungan

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Meroketnya tagihan listrik Juni ini membuat banyak masyarakat menjerit. Bahkan ada yang mengalami kenaikan sampai 2 kali lipat.

Agus, seorang pelanggan PLN di area Bogor, misalnya, mengaku kaget luar biasa karena tagihan listriknya pada Juni ini mencapai Rp1,2 juta. Padahal dua bulan sebelumnya dia membayar normal seperti biasanya dengan kisaran Rp700.000,-.

“Kok bisa naik sampai hampir 2 kali lipat. Saya sempat protes, tetap harus saya bayar juga karena takut diputus,” ujarnya, setengah kesal.

Daulat seorang warga Tangerang mengaku belum mau membayar tagihan listriknya Juni ini, karena kaget melihat angkanya.

“Biasanya bayar cuma 500 ribu rupiah setiap bulan, sekarang jadi satu juta lebih. Saya mau komplain dulu sama PLN,” ujar Daulat.

Menanggapi hal itu, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN, Bob Saril dalam keterangan pers mengatakan, pihaknya telah menyiapkan skema perlindungan lonjakan tagihan untuk mengantisipasi lonjakan drastis yang dialami oleh sebagian konsumen akibat pencatatan rata-rata tagihan menggunakan rekening 3 bulan terakhir.

Dengan skema ini, lonjakan yang melebihi 20% akan ditagihkan pada bulan Juni sebesar 40% dari selisih lonjakan, dan sisanya dibagi rata tiga bulan pada tagihan berikutnya.

“Langkah ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh PLN, dengan mempertimbangkan adanya keluhan pada sebagian pelanggan di unit-unit pembayaran PLN termasuk keluhan yang disampaikan melalui media ataupun media sosial,” ujar Bob Saril.

Bob menambahkan, skema ini diberikan sebagai bentuk upaya PLN dalam memberikan jalan keluar terbaik bagi konsumen yang tagihannya melonjak pada bulan Juni 2020, sehingga konsumen tidak terkejut dengan tagihan listrik listrik selama masa PSBB. Selanjutnya Konsumen dapat menyelesaikan seluruh kewajibannya di masa produktif setelah penerapan PSBB berangsur berakhir.

Skema tersebut dipersiapkan setelah mengevaluasi pelaksanaan penagihan listrik pada bulan Mei yang juga mengakibatkan munculnya pengaduan pada sebagian pelanggan. Untuk mengatasi pengaduan tersebut, PLN juga menambah posko pengaduan.

Lebih lanjut Bob menyebutkan, bahwa lonjakan tagihan yang dialami sebagian pelanggan tidak disebabkan oleh kenaikan tarif ataupun subsidi silang antara pelanggan golongan tertentu dengan golongan yang lain.

“Lonjakan pada sebagian pelanggan tersebut terjadi semata-mata karena pencatatan rata-rata rekening sebagai basis penagihan pada tagihan bulan Mei, pada bulan Juni ketika dilakukan pencatatan meter aktual selisihnya cukup besar. Itulah yang menyebabkan adanya lonjakan. Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman penagihan pada bulan Mei, kami siapkan skema perlindungan lonjakan ini pada tagihan bulan Juni,” pungkas Bob Sahril.

Sebagai bentuk pelayanan terhadap pelanggan, merespon isu kenaikan tagihan listrik yang dialami oleh sebagian warga menyusul diberlakukannya PSBB akibat pandemi virus corona atau covid-19. Sejak Bulan Mei, PLN telah membuka Posko Informasi Tagihan Listrik di Kantor Pusat PLN, Jakarta.

Layanan contact center PLN dapat diakses melalui berbagai kanal seperti telepon (kode area) 123, Twitter @PLN_123, Facebook PLN 123, Instagram @PLN123_Official, Email [email protected] atau melalui Aplikasi PLN Mobile. Layanan ini siap menerima pengaduan pelanggan selama 24 jam.

*PLN Kurang Sosialisasi*

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, kondisi kekagetan yang dialami masyarakat saat ini, disebankan kurangnya sosialisasi.

“YLKI meminta managemen PT PLN untuk melakukan sosialisasi seluas-luasnya kepada konsumen atau pelanggannya, terutama di area yang banyak mengalami masalah serupa, sebagaimana terjadi pada edisi April-Mei, sehingga masyarakat mengerti duduk persoalan dan musabab yang terjadi, plus mengetahui apa yang harus dilakukannya,” ujar Tulus, Minggu (7/6).

Bagi masyarakat, Tulus mengimbau sebelum melaporkan, sebaiknya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap kewajaran pemakaiannya, dengan melihat pemakaian jumlah kWh terakhir dengan jumlah kWh bulan sebelumnya. Sebab selama Bekerja Dari Rumah, umumnya pemakaian energi listrik konsumen mengalami kenaikan,” kata Tulus. (j02)

  • Bagikan