ADB Nilai Kinerja Perekonomian RI Lebih Baik Dari Negara-Negara Asia

  • Bagikan
(foto :ist)

JAKARTA  (Waspada): Asian Development Bank (ADB) menilai di masa pandemi kinerja perekonomian Indonesia masih lebih baik dari negara-negara di kawasan Asia, meski hampir dua tahun terakhir sangat terdampak.  

Pada 2020 yang lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sehingga mengalami pertumbuhan negatif -2,07 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

“Sedangkan rata-rata negara Asia Tenggara terkontraksi -4 persen (yoy) dan Asia Selatan -4,5 persen (yoy),” kata  Vice President ADB Ahmed M. Saeed pada Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED), Rabu (1/12/2021).

Dia memperkirakan pada akhir 2021 produk domestik bruto (PDB) Asia Tenggara secara keseluruhan akan tumbuh 1 persen di bawah level 2019, sedangkan Asia Selatan akan tumbuh 3 persen di atas level pertumbuhan 2019.

“PDB Indonesia akan tumbuh sekitar 1,5 persen lebih besar dari level 2019, di atas pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia,” ujar Saeed 

ADB memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh antara 3,5 persen hingga 4,8 persen (yoy) pada 2022. 

“ADB memperkirakan PDB Indonesia tumbuh 3,5 persen pada sepanjang tahun ini, dan tumbuh mendekati 5 persen di 2022,” jelas Saeed. 

Menurutnya, potensi pertumbuhan itu tidak lepas dari kebijakan fiskal dan moneter yang dimiliki Indonesia telah mengakomodasi proses pemulihan ekonomi pascapandemi dengan baik. 

Dia menekankan ke depannya akan sangat penting bagi Indonesia untuk mendapatkan sumber pertumbuhan baru.

Sebelumnya, ADB telah bekerja sama dengan pihak Indonesia untuk menyediakan analisis terkait dengan peningkatan sumber pertumbuhan abru, baik dari industri manufaktur maupun pemanfaatan potensi teknologi digital. 

Kini, ADB dan Indonesia sama-sama bergerak ke arah sumber pertumbuhan baru yaitu transisi menuju ekonomi rendah karbon. 

Intinya, melakukan transisi ekonomi dari cara lama menuju cara baru. Menurutnya, Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan pemulihan hijau ini. 

Karena, negara-negara berkembang yang mendorong transisi menuju ekonomi hijau memiliki kemewahan yaitu akses terhadap pembiayaan swasta, seperti halnya yang ADB sediakan. 

Contohnya, Indonesia, Filipina, dan ADB menyetujui suatu inisiatif yaitu mekanisme transisi energi atau energy transition mechanism (ETM). 

Salah satu tujuan inisiatif tersebut adalah untuk menyediakan blended financing guna memensiunkan PLTU batu bara lebih dini. (J03) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *