Dualisme HMI Cabang Langsa Berujung Bentrok

LANGSA (Waspada): Buntut dualisme kepimpinan di organisasi kemahasiswaan HMI Cabang Langsa berujung saling bentrok antara kubu Boidatul Khoi dan Muhammad Jailani saat akan melaksanakan pelantikan di Auditorium IAIN Zawiyah Cot Kala, Sabtu (13/10) malam.

Dualisme HMI Cabang  Langsa Berujung Bentrok
Waspada/Munawar Puluhan Kader HMI Cabang Langsa melakukan aksi bakar kardus di depan pintu pagar Kampus IAIN Langsa, Sabtu (12/10) malam.

Amatan wartawan, dualisme kepemimpinan di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langsa yang menuai konflik dan memanas tersebut ditengarai keduanya mengklaim bahwa dirinya memiliki mandat sebagai Ketua HMI Cabang Langsa.

Di mana, saat kubu HMI Cabang Langsa Muhammad Jailani melaksanakan pelantikan di Auditorium IAIN Zawiyah Cot Kala, Sabtu (12/10) malam, puluhan mahasiswa yang tergabung di HMI kepemimpinan Boudatul Khoi menggelar aksi penolakan pelantikan tersebut.

Sekira pukul 19:45, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Cabang Langsa tersebut, berkumpul di depan pintu pagar kampus IAIN Cot Kala Langsa karena pintu pagar kampus setempat ditutup oleh security serta dalam pengamanan dari unsur Polri/ TNI.

Sementara, di gedung auditorium terlihat sejumlah papan bunga terpajang di pintu masuk gedung tersebut dirusak, namun perhelatan pelantikan gagal dilaksanakan. Bahkan sejumlah tamu dan undangan kembali pulang, dikarenakan ada aksi dari Kader HMI Cabang Langsa di bawah Ketua Boidatul Khoi.

Para kader HMI melakukan orasi secara silih berganti, serta membakar kardus sebagai pentuk penolakan dualisme kepemimpinan. Dalam orasi tersebut mereka menyampaikan, tetap menolak atas pelantikan Muhammad Jailani sebagai Ketua HMI Cabang Langsa.

"Ini merupakan dualisme kepemimpinan karena sebelumnya sudah dilakukan pelantikan Ketua HMI, Boidatul. Jangan sampai pelantikan ini terjadinya dualisme dalam kepimpinan HMI Cabang Langsa dan ini harus menjadi perhatian dari para kader HMI," sebut para mahasiswa.

Bila terjadi dualisme kepengurusan, sambung mereka dikhawatirkan akan terjadi pertumbahan darah, jangan sampai Ibu Pertiwi menangis dengan terjadi perpecahan anak bangsa. Karena ini dipandang upaya untuk  memecah belah HMI Cabang  Langsa.

"Seharusnya, para alumni HMI dapat hadir mencegah konflik, begitu juga Rektor IAIN seharusnya tidak memberikan izin tempat untuk pelantikan tersebut agar hal ini tidak terjadi, serta perpecahan dalam organisasi HMI ini," imbuh mereka. 

Rektor IAIN Zawiyah Cot Kala Langs, Dr Basri yang dikonfirmasi, Minggu (13/10) menyatakan dirinya dalam berapa hari yang lalu sedang tugas dinas luar dan semalam baru pulang.

Sambung Basri, sementara proses izin gedung melalui Kabag Umum karena melihat di agenda ada sambutan Wali Kota. 

"Begitu tadi malam dilaporkan oleh keamanan kampus melalui handphone bahwa situasi menjelang pelantikan HMI tidak kondusif, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka kita hentikan pelaksanaan pelantikan di kampus," sebut Basri.

Basri berharap komplik tersebut segera selesai guna membangun silaturrahmi dan bersatu. Pihaknya menginginkan KAHMI membuat pendekatan-pendekatan yang arif dan bijak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sementara informasi di lapangan, akibat aksi penolakan sempat terjadi pemukulan dan penculikan terhadap pengurus PB HMI Rahim Kay di halaman pendopo Wali Kota Langsa.

"Benar ada aksi pemukulan dan penculikan tadi malam terhadap Rahim Key di halaman pendopo Wali Kota Langsa, namun saudara Rahim Ray tidak melanjutkan proses hukum pemukulan dan penculikan terhadap dirinya," sebut Ketua HMI Cabang Langsa Muhammad Jailani yang ditelefon wartawan, Minggu (13/10).

Dijelaskan Muhammad Jailani, kasus pemukulan yang sama juga pernah terjadi terhadap dirinya di sebuah cafe di Langsa. Kasus tersebut telah disidangkan di Pengadilan Negeri Kota Langsa dengan nomor perkara: 7/Pid.C/2019/PN Lgs dan 8/Pid.C/2019/PN Lgs terhadap Boidatul Khoi dan Abdi Maulana dengan putusan pidana bersyarat yakni pidana penjara waktu tertentu (1 bulan).

"Pada intinya, kami HMI Cabang Langsa telah melaksanakan proses pelantikan ini sesuai prosedur yang ada. Jadi marilah kita menyikapi persoalan ini dengan arif dan bijaksana, kita semua ini adalah generasi intelektual dan tidak perlu melakukan tindak kekerasan dalam menyikapi persoalan ini," pungkas Muhammad Jailani.(m43/cmw)