Paradoks Sistem Kapitalisme Menuntaskan HIV

  • Bagikan
Paradoks Sistem Kapitalisme Menuntaskan HIV
Paradoks Sistem Kapitalisme Menuntaskan HIV

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Sumatera Utara (PKBI) Sumut bekerjasama dengan Indonesia Aids Coalition (IAC) dan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) menggelar diskusi penanggulangan HIV/AIDS di Kota Medan belum lama ini. Salah satu poin kesimpulan diharapkan adanya rencana aksi daerah (RAD) Kota Medan dalam waktu dekat sebagai tolak ukur pencapaian target global 95.95.95 di Kota Medan dan berkolaborasi dengan semua OPD.

“Gunung es”. Itulah sematan yang menggambarkan fenomena HIV/AIDS di negeri ini khususnya kota Medan. Sematan ini seolah mengisyaratkan kepada kita bahwa kasus HIV yang sampai saat ini tidak kunjung terselesaikan bukan hanya persoalan kesehatan semata. Namun kasus ini sudah menjalar secara sistemik berkaitan dengan gaya hidup seseorang yang cenderung bebas melampaui batas.

Tercatat per Juli 2021, di Sumut mengalami peningkatan penderita HIV/AIDS 13.150 jiwa; HIV 7.451, AIDS 5.699 dan menjadikan Sumut peringkat 5 kasus HIV/AIDS. Ini bukan angka kecil. Kasus ini juga tidak terlepas dari perilaku bebas masyarakat, prostitusi, gonta-ganti pasangan, Narkoba bahkan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang seringkali mereka tidak memikirkan dampak aktivitasnya. Mulai dari anak di bawah umur yang menjadi korban, sampai orang dewasa.

Krisis ekonomi pun acapkali menjadi kambing hitam dari munculnya fenomena seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Tindakan ini justru tidak mendapatkan sanksi tegas. Mereka bebas karena sebagian orang menganggap, selama ada aktivitas yang dilakukan atas dasar ‘suka sama suka’ maka tiada hukum bagi mereka. Padahal jika kasus ini dibiarkan terus, akan membawa negeri sangat memilukan. Dari meningkatnya fenomena ini pemerintah hanya mengeluarkan kebijakan penanggulangan, pencegahan infeksi atau bahkan sekadar melakukan seminar-seminar terkait kesehatan reproduksi, sementara upaya ini sama sekali tidak menyentuh akar persoalannya. Sekalipun banyaknya anggaran dana pencegahan kasus yang dikeluarkan sampai mencapai angka triliunan, namun tetap saja pemerintah tidak mampu menutup pintu penyebab terjadinya seks bebas. Maka solusi-solusi tersebut sejatinya tidak menggambarkan akar masalah dari suburnya kasus HIV/AIDS.

Rusaknya gaya hidup masyarakat menjadi masalah utama terjadinya seks bebas. Perilaku inilah merupakan faktor yang sangat mendominasi atas meningkatnya kasus HIV yang terjadi di negeri ini, bahkan di kota Medan sendiri. Gaya hidup liberal yang lahir dari sistem kapitalisme ini telah membuat seseorang berperilaku minim dari ajaran agamanya. Sebab sistem ini pula yang membentuk manusia memisahkan agama dari aturan kehidupannya.

Satu-satunya cara untuk menuntaskan persoalan ini adalah dengan mengganti cara pandang kapitalisme yang selama ini dijadikan sebagai solusi, agar kemudian diganti dengan cara pandang Islam. Sistem Islam memiliki fungsi maqashid syari’ah (tujuan syariat) sehingga mampu menyelesaikan masalah sosial hingga tuntas. Islam menegaskan bahwa hubungan seksual hanya ada pada ikatan pernikahan. Ketika ada fenomena seks bebas dengan melakukan hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan, tentu ini menjadi sebuah kemaksiatan besar yang akan menghantarkan pelakunya pada jurang dosa. Hubungan seksual di luar pernikahan merupakan zina. Terlebih lagi, para pelakunya akan mendapatkan sanksi tegas yang sifatnya memberikan efek jera dan sebagai penebus dosa.

Islam menetapkan hukuman tegas bagi pelaku zina yaitu cambuk seratus kali atau dirajam sampai mati jika pelakunya sudah menikah. Karenanya, ketika aturan ini yang diberlakukan ditengah-tengah kehidupan, maka seseorang tersebut akan senantiasa berada pada jalan kebenaran. Untuk menjaga manusia dari gaya hidup bebas, Islam juga mengatur bagaimana kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Aktivitas yang membolehkan keduanya berinteraksi hanya pada perkara-perkara tertentu sebagaimana syari’at, yaitu dalam mu’amalah, pendidikan, dan kesehatan. Dengan begitu seseorang terjaga pergaulannya. Ia tidak mudah berperilaku layaknya orang liberal sebab mereka paham bahwa syari’at telah mengatur kehidupannya.

Selama Islam mengatur kehidupan manusia demikian detail, tidak akan ada orang bergaya hidup bebas yang menghantarkan pada konsekuensi buruk; seks bebas, hamil di luar pernikahan, aborsi penyakit seperti HIV. Negara juga tidak akan melepaskan tanggungjawabnya sebagai pelayanan rakyat memenuhi setiap kebutuhan warganya. Tidak akan kita temukan orang rela menggadaikan kehormatan demi nasi. Maka selama penangan kasus HIV tidak serius melalui penerapan syari’at Islam kaffah, masalah ini tidak akan pernah selesai. Sebab ada mata rantai yang takkan pernah terputus ketika akar persoalannya tidak terdeteksi. Yaitu gaya hidup bebas yang lahir dari rahim kapitalisme-liberal. Tugas kita mengembalikan kembali penerapan syari’at Islam kaffah dalam naungan Daulah Islamiyyah. Wallahua’lam bisahawwab.

Bazlina Adani

Alumni UMN AW Medan


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

<strong>Paradoks Sistem Kapitalisme Menuntaskan HIV</strong><strong></strong>

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *