WARNA DANAU!
By Tatan Daniels

  • Bagikan


Catatan dari Gedung Kesenian Jakarta
17 Nopember 2021

Merawat warisan budaya, sungguh tak mudah. Apalagi warisan budaya tak benda. Tapi tetap harus dilakukan. Dengan berbagai cara, dan ikhtiar. Apalagi jika ia sudah nyaris punah. Apalagi jika ia sudah ditetapkan oleh negara (lantaran kuatir khazanah budayanya dicaplok oleh negara lain, seperti kasus gordang sambilan, dan sebagainya dulu. Padahal di sana, di Malaysia, kesenian itu justru dirawat dan dimuliakan).

Rumah adat Karo Siwaluh Jabu, Huda-huda, Merdang-Merdem, Ulos, Pustaha Lak-Lak, Erpangir Ku Lau, Sipaha Lima, Genderang Sisibah, Tortor Sombah, Guro-Guro Aron, Gotong, Pelleng, Dayok Binatur, adalah sedikit di antara sekian banyak warisan budaya dari masyarakat di kawasan danau Toba, yang telah ditetapkan oleh negara.

Penetapan yang berbuntut konsekuensi: Wajib dirawat, dihidupkan, dikembangkan, menjadi bagian (kembali) dari keseharian masyarakat. Dihormati dan dimuliakan oleh masyarakatnya, serta para pemangku budaya, pembuat keputusan, dan pelaksana kebijakan, dari semua tingkatan. Mulai dari pemukiman, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai pemerintah pusat.

Penghormatan secara horisontal dan vertikal itu kemudian menjadi kewajiban bersama. Menjadi landasan filosofi, sistem berpikir, dan mekanisme kerja. Menjadi amanat sekaligus mengandung konsekuensi logis yang tak boleh dielakkan, apa pun alasannya.

Jika tidak, untuk apa penetapan warisan budaya tak benda itu dilakukan, dengan segala kerumitan pikiran, tenaga, dan biaya yang digelontorkan?

Hampir dua jam terpaku di ruang sejuk dengan siraman cahaya warna-warni dipanggung, menyaksikan pergelaran “Warna Danau” kemarin, di Gedung Kesenian Jakarta, pikiran saya merujuk ke hal-ikhwal tersebut. Dari soal makanan, tenun, aksara, perayaan bertanam padi, menjaga dan melindungi pohon dan hutan, Parmalim, hingga penanggalan, dan nama-nama hari dalam tradisi Batak. Kecerdasan tradisional dalam membaca pertanda alam. Kearifan leluhur yang tertuang dalam mitologi dan kosmologi yang sangat kaya.

Pikiran sayapun bercampur aduk dengan kerat-kerat ingatan, perjalanan ziarah budaya yang beberapa kali saya lakukan. Ke kampung-kampung di ceruk Simalungun, Karo, Toba, dan Pakpak. Memasuki rumah-rumah adatnya, dan menghirup bau udara di dalamnya. Menyaksikan benang-benang disusun dengan cermat oleh para penenun tua, dan bunyi kayu-kayu yang berderak. Menyesap tekstur makanan dengan letupan andaliman di lidah. Menyimak suara tabuhan, dengung sordam dan liuk sulim di antara gemersik daun bambu yang bergesekan. Meneguk secangkir kopi Lintong di tengah keramaian pasar bunga dan sayuran.

Sesekali bayangan wajah sahabat saya, Bang An Purba Coan Purba, muncul. Menari bahagia, dengan landeknya yang mempesona, pada sebuah malam terang bulan, di halaman Anjungan Sumatera Utara TMII. Hardoni Sitohang yang meniup tulila ketika senja meremang di kolong rumah Siwaluh Jabu. Lamat-lamat saya juga mendengar sarune yang ditiup oleh seniman teguh hati, Juniadi Sipayung Bhatara Guru Sanggar, dan bayangan Taralamsyah Saragih di tangga rumah bolon Simalungun..

Berkas kenangan yang membiaskan rasa hormat saya kepada para seniman yang kemarin tampil di gedung tua, warisan kolonial Belanda yang dibangun oleh tentara zeni VOC, Mayor Schultze, berdasarkan gagasan Gubernur Jenderal Belanda, Daendels, dan digenapkan prosesnya oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814 itu.

Saya memberi tabik yang hangat untuk sahabat saya, Thompson Hs (penulis naskah dan sutradara), Ojax Manalu, Sultan Saragih Sanggar Budaya Rayantara, Perri Sagala, Brevin Tarigan, Oktavianus Matondang, dan para pegiat kesenian yang telah memboyong banyak hal sekaligus ke sebuah gedung kesenian yang representatif, dan satu-satunya milik negara, di Republik kaya budaya loh jinawi ini.

Saya tahu, tidak mudah bagi mereka untuk mempersiapkan diri, berbulan-bulan, dan tampil dengan percaya diri, di depan publik, lewat pentas ‘road-show’ yang mereka lakukan, yang dihelat oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Prov. Aceh, mulai dari Balige, sampai Jakarta, dan Padang. Dan akan berakhir di Medan.

Tidak mudah mempersatukan kehebatan potensi dari empat etnik: Toba, Karo, Pakpak, dan Simalungun, tanpa kesabaran, tanpa kerendah-hatian, tanpa kebesaran hati, dan tanpa pemahaman yang cukup.

Dari perbincangan dengan Ojax Manalu di Posko #saveTIM dua malam sebelum pementasan di GKJ itu, saya menangkap spirit pemajuan kebudayaan yang deras. Bahwa yang tengah dibangun adalah gerakan penyadaran kembali ikhwal khazanah yang sempat terbengkalai. Menemukan kembali akar budaya dan kekuatan tradisi. Terutama bagi kalangan muda. Kantong-kantong budaya, sanggar-sanggar kesenian, menjadi titik berangkat, yang diharapkan bertemu dalam ruang besar gairah pembelaan. Terhadap yang tertinggal, dan terhadap yang terlupakan.

Itu pulalah yang saya tangkap dari pidato pembukaan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, yang ringkas jelas. “Dengan Warna Danau, diharapkan publik jadi lebih mengetahui bahwa danau Toba bukan semata soal keindahan alam, tapi juga ragam kebudayaan masyarakat sekitarnya. Karena itu, kegiatan pemajuan kebudayaan ini teruslah dilanjutkan!”

Bermalamnya Menteri Nadiem Makarim di kediaman alm. Amang Guntur Sitohang, ayahanda Pak Sarune Sitohang di Harianboho beberapa waktu lalu, mestilah menjadi pertanda baik. Bahwa pesan yang disampaikan melalui Warna Danau, tentang perawatan warisan budaya serta semua yang bertautan dengannya, tidak boleh dianggap main-main.

Kebudayaan harus didahulukan, barulah pantas berbicara tentang kepariwisataan. Ekosistemnya harus diselamatkan, disehatkan, agar tradisi warisan leluhur itu tidak tergerus oleh kemeriahan perayaan kepariwisataan. Agar pernyataan Hilmar Farid dan pesan personal Nadiem Makarim itu tak malah menguarkan firasat buruk yang berujung pada pepesan kosong. Janji tak bermarwah. Spirit mossak, moccak, ndikkar, dan dihar, seni beladiri dari empat etnik yang bermukim di kawasan danau Toba, yang ditampilkan dengan perkasa di bawah pijaran tata lampu warna-warni di GKJ kemarin, agaknya bisa mengawal harapan itu.

Bahwa kebahagiaan para seniman muda yang berkesempatan merasakan panggung dan atmosfir bersejarah di GKJ kemarin, tak boleh disurutkan. Para belia yang datang dari berbagai sanggar di berbagai sudut danau Toba, dan kota-kota: Meat, Pematang Siantar, Sidikalang, Kabanjahe, Berastagi, Tarutung, Medan itu adalah pewaris sah. Dan dari mereka pula, warisan akan diturunkan kepada generasi berikutnya.

Membesarkan hati menyaksikan mereka mengusung buah renungan leluhur, yang tak diinginkan menjadi arkais: Huda-huda, gundala-gundala, mangkuda-kudai, merdang-merdem, ulos, uis, hiou, oles, pustaha lak-lak, erpangir ku lau, genderang sisibah, guro-guro aron, tortor sombah, dengan segenap penghayatan di atas panggung, dengan berkas seribu warna bagai cahaya pelangi yang berpantulan di riak danau.

Komitmen dan konsistensi menjadi pertaruhan. Akar yang mulai tumbuh, harus mendapatkan tanah dengan unsur hara dan nutrisi yang baik. Segenap warisan budaya, ekosistemnya, serta para aktivis dan aktivitas pelestarian dan pengembangannya (termasuk kampung-kampung budaya yang satu-satu mulai runtuh), sebagaimana telah dilakukan dan ditunjukkan oleh Thompson, Sultan Saragih, dkk. menurut hemat saya, harus didukung dan dilindungi dengan keputusan politik, tertuang dalam Peraturan Daerah, dan diturunkan lewat berbagai kebijakan yang aplikatif. Dikenalkan sampai ke ruang-ruang kelas sekolah. Terhimpun jelas dan lengkap dalam buku-buku (kegiatan yang pernah dilakukan oleh para jenius lokal ratusan tahun lalu, di kulit-kulit kayu, menjadi kitab lak-lak).

Dengan demikian, Undang-undang Pemajuan Kebudayaan yang sudah berusia empat tahun itu menjadi konkrit, berfaedah (bukan sebagai pembungkus kacang Sihobuk), tidak hanya dengan kandungan moral di dalamnya, tapi terutama sebagai perintah hukum dengan segenap sanksinya, yang wajib diindahkan, mutlak!

Ikhtiar yang tidaklah musykil, dan amatlah mudah, jika para pembuat keputusan, pemangku kebijakan, memiliki adab, kesadaran, dan penghormatan terhadap sejarah, nilai-nilai, dan masa depan kebudayaannya. Atas nama masyarakat, atas nama keberlangsungan habitat mereka, dan kekhasan situs ‘geopark’ Toba; bukan atas nama program pariwisata yang turistik, yang memandang kebudayaan sebagai komoditas belaka.

Jika tidak, saya amat kuatir, hingar-bingar hajatan pariwisata dengan jargon ‘destinasi super prioritas’, yang membawa tsunami kapitalistik yang dakhsyat, akan membenamkan semuanya ke dasar danau. Tanpa warna. Tanpa suara. Seperti gendang lima sedalanen dan gendang telu sedalanen Karo, yang telah dihabisi oleh sekotak mesin keyboard!

.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *