Wan M Saad: Konsistensi Seorang Pelukis

  • Bagikan

LAHIR di Delitua, 14 Agustus 1963, bias jadi dialah satu dari sejumlah pelukis realis Indonesia yang memandang kehidupan sebagaimana adanya. Dia tidak neko-neko. Tidak melambung-lambung imajinasinya. Dia pindahkan kehidupan ke dalam kanvas sebagaimana nyatanya.

Dialah Wan Mahmud Saad, salah seorang pelukis realis yang dimiliki Sumatera Utara. Sudah menekuni dunia seni lukis sejak tahun 1982, lelaki bertubuh kurus dengan rambut gondrong yang selalu dikuncir ini, merupakan salah satu sosok penting dalam dinamika seni lukis Kota Medan. Bukan karena ide-ide besarnya dalam berkarya, tapi justru karena konsistensi dan kesederhanaannya.

 Mengaku mendalami ilmu melukis dari sejumlah orang, di antaranya dengan Amril Rizal Siregar, dosen Sastra Inggeris di UISU, dan M. Yatim Mustofa dari Sanggar Rowo, Wan Saad adalah pelukis yang teguh dengan prinsip yang diyakininya. “Saya melukis apapun yang saya suka. Saya tidak bisa dipaksa-paksa. Jadi, biar dibayar berapapun, saya tidak akan mau melukis sesuatu yang menurut saya tidak indah,” ujar mantan anggota Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Medan ini.

Sampai kini Wan Saad mengaku sudah menghasilkan ratusan lukisan. “Alhamdulillah, semua lukisan saya laku terjual,” ujar pelukis yang menjual sendiri lukisan-lukisannya itu.

Wan Saad adalah pelukis yang sepenuhnya menjadikan profesinya sebagai ladang penghidupan. Ia melukis untuk kehidupannya. Karenanya, tak aneh jika seluruh waktunya ia habiskan dalam pergumulan dengan cat dan kuas. Bahkan, bila ia tidak sedang melukis pun, hari-harinya ia gunakan untuk mendidik anak-anak yang ingin belajar melukis.

Paling tidak, tiga hari dalam seminggu ia hadir di Sanggar Seni Rupa Taman Budaya Medan untuk membagi  ilmu melukisnya  kepada anak-anak dari tingkat TK hingga Mahasiswa. “Sampai saat ini ada sekitar 20 anak yang rutin belajar melukis dengan saya,” katanya saat ditemui di Sanggar Seni Rupa TBSU.

Sebagai pelukis yang hanya mau melukis hal-hal yang indah, Wan menyebut sebulan paling banyak ia hanya bisa menghasilkan dua sampai tiga lukisan saja. Lukisannya pun beragam. Dari pemandangan, style life maupun potret. “Tapi kebanyakan saya melukis pemandangan,” ujar salah seorang pendiri Sanggar Payung Teduh ini.

Uniknya, meski terbilang sangat produktif, Wan ternyata belum pernah membuat pameran sendiri. Sebab, katanya, “Saya tak punya stok lukisan untuk dipamerkan. Semua lukisan saya ada pada kolektor. Yang tersisa pada saya hanya sketsanya saja,” katanya. Biar begitu, sejumlah pameran bersama pelukis lain pernah ia ikuti. Antara lain pameran bersama di TBSU, Simpassri, di Bandung dan di NTT. Siplah! (susdha)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.