Waspada
Waspada » Visi
Budaya

Visi

Hebatnya Anies

KALAU tak ada aral melintang, beberapa bulan ke depan Kota Medan akan punya wali kota baru. Itu pun jika jadwal yang sudah diagendakan KPU tidak molor.

Siapa orangnya, pun sudah jelas. Pasti salah satu di antara dua Nasution. Soal Nasution mana yang nantinya bakal duduk, terserah warga Medan sajalah.

Yang ingin saya utarakan di sini hanyalah soal visi dari kedua kandidat itu. Sampai hari ini belum terdengar visi utuh dari dua Nasution ini dalam membangun kota Medan. Yang ada barulah lintasan gagasan. Seperti dulu, ketika Eldin menggaungkan Medan Rumah Kita.

Tapi setelah bertahun-tahun, visi Eldin itu ternyata hanya bagus di atas kertas. Sekadar enak untuk dilafalkan. Faktanya, visi “Medan Rumah Kita” tak juga jelas bentuknya. Kota Medan masih tetap seperti bagaimana adanya. Sejumlah ruas jalan di pusat kota kerap banjir bila hujan turun. Di bagian lain, sejumlah jalan berlobang dan rusak.

Sudah bertahun-tahun pula sungai-sungai yang membelah kota ini, seperti Sei Deli, Sei Mencirim, Sei Babura, terus meluap sabankali hujan deras turun. Jalan raya dan perkampungan penduduk, utamanya di kiri kanan DAS (Daerah Aliran Sungai) terendam. Lalu, begitu banjir usai, yang tersisa dari luapan sungai-sungai itu adalah tumpukan sampah dan gerutuan warga.

Sampah, banjir, kemacetan lalulintas dan kesemrawutan tata ruang, adalah empat mata rantai permasalahan “latent” yang dihadapi Kota Medan sejak dulu hingga hari ini. Ambisi pembangunan kota yang mengabaikan keseimbangan ekosistem justru membuat Kota Medan dipenuhi tembok-tembok beton yang mempersempit Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai daerah resapan air.

Padahal, sejak lama sejumlah aktivis lingkungan sudah mengingatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup di negeri ini, terlebih-lebih di sejumlah kota besar seperti Medan. Indikasi penurunan itu ditunjukkan dengan meningkatnya pencemaran air, udara dan atmosfer bumi yang umumnya disebabkan oleh kegiatan industri, limbah rumahtangga, eksploitasi pertambangan dan rencana tata kota yang salah.

Kondisi ini semakin parah karena ambisi pembangunan yang dijalankan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, seringkali tidak sesuai dengan Amdal, atau bahkan tidak memiliki Amdal sama sekali.

Di Kota Medan, dampak dari kesalahan perencanaan tata ruang/tata kota itu bisa dilihat  setiap kali musim kemarau atau saat musin hujan tiba. Di musim kemarau debu menjadi santapan rutin warga, sedang di musim hujan banjir melanda.

Penyempitan DAS di sejumlah sungai yang ada di Medan, baik sebagai akibat pembukaan lahan untuk pemukiman maupun untuk kawasan bisnis, membuat daerah resapan air semakin berkurang. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase yang buruk.

Semua keadaan itu, masih diperparah dengan prilaku warga kota yang belum sepenuhnya sadar akan pentingnya menjaga dan merawat lingkungan hidupnya. Sebutlah kawasan terminal Sambu/jalan Sutomo. Sejak saya masih SD, hingga sekarang lingkungan di daerah itu tak juga berubah. Tetap kumuh dan jorok.

Sayangnya, para pejabat Pemko Medan terlalu malu untuk mengakui adanya kekeliruan dalam perencanaan tata ruang dan tata kota tersebut. Sepertinya ada ego sektoral di masing-masing SKPD dalam hal tanggungjawab dalam menata kota ini.

Maka, sebelum walikota Medan yang baru nanti terpilih dan memulai tugasnya, pertama sekali yang harus dibuang adalah anggapan bahwa persoalan sampah, banjir dan kesemrawutan lalulintas bukanlah persoalan baru di kota ini. Anggapan itu harus dibuang jauh-jauh agar walikota Medan nanti tidak menjadikan persoalan klasik itu alasan untuk membiarkan keadaan tersebut terus berlangsung sebagaimana adanya.

Bahwa sampah, banjir dan kesemrawutan lalulintas sudah menjadi menu rutin warga Medan, hendaknya tidak dijadikan alasan pembenar untuk menerima keadaan tersebut begitu saja. Keterbatasan petugas dan sarana, pun tidak seharusnya menghambat kerja aparatur Pemko Medan dalam menciptakan Kota Medan sebagai rumah kita yang aman, bermartabat, bersih, bebas sampah, bebas banjir dan bebas macet.

Karenanya, adalah baik jika warga Kota Medan, sebelum benar-benar menjatuhkan pilihannya pada dua Nasution itu, mengevaluasi kembali persepsi dan pilihannya tentang dua kandidat tersebut. Menimbang-nimbang dengan akal sehat dan hati nurani siapa di antara kedua Nasution itu yang lebih pantas memimpin kota multikultur berpenduduk hampir tiga juta jiwa ini. Begitulah! (*)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2