Waspada
Waspada » Telangkai Puisi
Budaya

Telangkai Puisi

Catatan Budaya S. Satya Dharma

Catatan ini kubuat untuk menjawab pertanyaan seorang mahasiswi Fakultas Sastra yang baru saja kukenal. Sebenarnya aku tak merasa kompeten untuk menjawab pertanyaannya.

Tapi ia seperti merengek. Katanya; ia perlu memahami apa itu puisi dari orang yang menurutnya rajin menulis puisi.

Dengan sok ilmiah aku bilang padanya; puisi itu adalah satu pengucapan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan. Itu jawaban yang kukutip dari pernyataan H.B Jassin, kataku. Persis seperti ujaran Ralph Waldo Emerson yang mendefinisikan puisi sebagai sebuah pengajaran sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

Maka puisi, kataku, dengan demikian memiliki struktur dan bentuk pengucapan yang sangat berbeda dengan prosa. Ia lebih terkesan “pelit” terhadap penggunaan kata-kata. Tapi justru dalam kepelitannya itulah terkandung berjuta-juta makna dan rahasia. “Karena itulah para penulis puisi yang sukses, sebagai penyair-penyair besar dan ternama – tidak sembarang memilih kata untuk mengungkapkan perasaan dan kesan hidupnya di dalam puisi-puisi yang mereka tulis,” ujarku lagi.

Pilihan kata (diksi) seorang pemuisi akan menjadi kekuatan utama yang menentukan seberapa baik puisi yang ditulisnya. Di samping, tentu saja, bagaimana gaya dan bentuk pengucapan yang dipilihnya. Chairul Anwar memilih diksi-diksi yang lantang dan lugas sebagai binatang jalang yang terbuang. Amir Hamzah menggunakan bahasa pengucapan yang lembut namun menukik dan menikam dalam. Ibrahim Sattah atau Sutarji Calzoum Bachri memilih gaya mantra untuk mengekspressikan apa yang ia rasa dan kesankan.

Teori-teori sastra, khususnya menyangkut puisi, memang memberi definisi khusus tentang apa itu puisi. Namun, kecuali ketaatan pada bentuk, ada licentia poetika yang membebaskan pemuisi pada gaya dan pengucapan pilihan pribadinya.

Karena itu, terkait bentuk, tidak ada takaran khusus atau kriteria tertentu tentang apa dan bagaimana sebuah puisi boleh dikatakan puisi yang baik atau puisi yang buruk. Begitu pun, tetap saja ada ukuran standar yang bisa dipakaikan pada setiap puisi hingga bisa disebut puisi yang berhasil atau puisi yang gagal. Para mahasiswa fakultas sastra pasti tau adanya ukuran-ukuran itu.

Maka seorang penulis puisi, sebelum ia menuliskan perasaannya, kesannya, pandangan dan pengalaman hidupnya dalam puisi, sejatinya harus lebih dulu memahami bagaimana puisi harus ditulis dan bagaimana kata-kata yang bisa mewakili semua perasaan, kesan dan pengalaman itu harus dipilih. Itu berarti puisi bukan sekedar susunan kata yang terikat pada bentuk dan rima semata, tapi juga pada pesan apa yang dikandung dan ingin disampaikannya. Hanya dengan begitu puisi bisa disebut puisi.

Itulah sebabnya kesan setiap pembaca puisi akan berbeda dan menjadi sangat beragam. Bagi sebagian orang yang belum pernah membaca atau mendengarkan pembacaan puisi, bisa jadi kesan pertama yang timbul saat mereka membacanya adalah keruwetan pikiran si penulisnya. Tak jarang pula orang awam menyebut susunan kata yang disebut puisi itu adalah kata-kata yang absurd bahkan kontra logika.

Maka itulah puisi, karya sastra pada umumnya, membutuhkan “telangkai” yang bisa menyambungkan kehendak si penulis puisi dengan pembacanya. Yakni seorang apresiator sastra yang dalam bahasa akademik sering disebut kritikus.

Para apresiator inilah yang akan menerangjelaskan maksud si penulis puisi. Apa makna dari kata-kata yang ditulisnya, termasuk kelemahan dan kekuatan si penulis dalam mengungkapkan pikiran-pikirannya melalui karya sastra yang disebutnya puisi itu.

Si mahasiswa manggut-manggut. Entah ia paham atau memang tak punya bekal untuk mendebat. Apapun reaksinya, bagiku itu tidak terlalu penting. Sebab tak semua orang bisa dipaksa untuk memahami karya sastra. Bahkan guru-guru bahasa dan sastra di sekolah pun seringkali tak mampu secara utuh menerangjelaskan makna karya sastra, khususnya puisi, yang mereka ajarkan kepada murid-muridnya.

Sayangnya di Medan, Sumatera Utara, peran “telangkai” sebagai apresiator sekaligus kritikus sastra itu semakin hari semakin berkurang. Hari ini peran telangkai itu bahkan nyaris tak ada ada lagi, terutama setelah Mihar Harahap meninggal dunia.

Kini hampir tak ada lagi orang yang mau dengan sukarela menumbuhkan apresiasi sastra itu pada orang banyak. Yang ada justru orang-orang yang coba “berlagak” jadi kritikus sastra tapi tak mampu membangun apresiasi. Bagi para pelagak kritikus itu, dengan segala teori sastra yang ada padanya, pokoknya setiap karya harus dibabat dan dihabisi. Soal apresiasi, itu buka urusan saya! Ah…….! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2