Waspada
Waspada » TBSU
Budaya

TBSU

Hebatnya Anies

PAGI itu, Sabtu (7/11), dengan pakaian santai, training olahraga sehabis gowes pagi, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meresmikan kantor UPT Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) di arena PRSU jalan Gatot Subroto, Medan.

Peresmian kantor UPT. TBSU itu menandai kembalinya Taman Budaya Sumut ke habitat aslinya, yakni areal Tapian Daya Medan setelah berpuluh tahun menumpang di lahan milik Pemko Medan di jalan Perintis Kemerdekaan.

“Taman Budaya harus menjadi salah satu garda terdepan dalam melindungi dan membangkitkan seni budaya kita. Jadi, tempat ini harus bisa ditata lebih baik lagi. Mari kita bersatu demi terlaksananya pembangunan  di Sumatera Utara,” ujar Edy dalam sambutannya.

Kita tentu saja merespon positif pernyataan gubernur Sumut itu. Apalagi, kabarnya di areal eks Tapian Daya yang sekarang dikelola Yayasan PRSU itu, nanti akan dibangun kembali satu gedung pertunjukan modern dengan anggaran miliaran rupiah.

Untuk diketahui saja, dulu gedung-gedung pertunjukan itu sudah ada namun dirobohkan seiring beralihnya fungsi Tapian Daya. Kini di areal itu yang tersisa hanya teater arena saja.

Setelah bertahun-tahun ditinggalkan para seniman, Tapian Daya memang berkali-kali berobah fungsi. Areal yang sejatinya milik seniman Sumut ini pernah menjadi kantor BP-7 dan sekarang menjadi arena ajang tahunan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).

Lalu, apakah dengan kembalinya TBSU ke Tapian Daya itu maka semua persoalan terkait kesenian dan kebudayaan di Sumut langsung selesai? Tunggu dulu.

Sampai hari ini sejumlah seniman Sumut tetap menganggap kepindahan TBSU ke eks Tapian Daya bukanlah solusi terbaik.  Pasalnya, kecuali sekedar memindahkan alamat, sampai hari ini mereka belum melihat adanya gebrakan apresiatif dari Pemprov Sumut terhadap upaya-upaya menumbuhkembangkan kreativitas dan kualitas kesenian di Sumatera Utara.

Tapian Daya sendiri sesungguhnya adalah asset Pemprov Sumut yang sengaja dibangun guna menampung kreativitas para seniman. Namun Taman Budaya warisan Marah Halim Harahap itu sempat tersia-sia karena kurangnya perhatian Pemprov Sumut pasca lengsernya gubernur Marah Halim.

Pembengkalaian itulah yang menjadi salah satu sebab alih fungsi Tapian Daya. Masih untung Tapian Daya tetap menjadi asset milik Pemprov Sumut. Sebab Studio Film di Sunggal, asset Pemprov Sumut lainnya, nasibnya malah tak jelas. Raib begitu saja tanpa bekas.

Oleh karena itu, peresmian kantor baru dan kepindahan Taman Budaya Sumut ke Tapian Daya oleh gubernur Edy Rahmayadi, diharapkan bisa menjadi langkah awal bagi menata kembali bangunan seni budaya di Sumut.

Tapi ingat, aktivitas dan pembangunan seni budaya itu tak boleh diorientasikan pada tujuan pariwisata melulu. Yang utama dan aktivitas seni budaya adalah pembangunan watak dan karakter manusianya. Dus, bukan semata mengejar target devisa.

Maka, bukti bermanfaat atau tidaknya keberadaan TBSU di habitat aslinya itu nanti, bisa kita lihat dari seberapa sering aktivitas kesenian berlangsung di sana, dan seberapa banyak kualitas kesenian yang dihasilkannya. Itu artinya, TBSU di tempat barunya ini tidak hanya perlu membangun gedung-gedung baru yang representatif untuk pertunjukan kesenian, tapi juga perlu membangkitkan kepercayaan masyarakat kesenian Sumut terhadap keberadaannya.

Dalam konteks pembangunan kesenian itu, Pemprov Sumut harus mendudukkan seniman dan pekerja seni sebagai stakeholder yang harus terlibat dan diikutsertakan dalam setiap pembahasan terkait arah dan tujuan kreativitas kesenian di provinsi ini. Pertanyaannya sekarang, apakah keterlibatan para stakeholder kesenian itu sudah dimaksimalkan, atau sebaliknya malah akan tetap diabaikan?

Kita tentu saja tak boleh pessimis. Kita harus terus berharap agar gubernur Edy Rahmayadi semakin membuka diri untuk berdialog dengan semua stakeholder kesenian yang ada di daerah ini. Untuk selanjutnya, gubernur Edy mau lebih serius membangun dan membina kehidupan kesenian di wilayah yang dipimpinnya ini.

Karenanya, adalah baik jika pak Edy, setelah mengembalikan TBSU ke habitatnya semula, mengambil langkah konkret berikutnya. Yakni mengembalikan seluruh areal Tapian Daya menjadi Pusat Kesenian di Sumatera Utara. Bagaimana, pak? (*)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2