Syawal
Oleh S. Satya Dharma

  • Bagikan

SYAWAL itu peningkatan, kata pak Ustadz. Baik peningkatan imaniah maupun peningkatan amaliah. Dari yang tadinya kosong menjadi berisi. Dari yang tadinya setengah menjadi penuh.

Dari yang tadinya rendah menjadi tinggi. Pertanyaannya; berapa banyak dari kita, orang Islam, yang iman dan amalnya meningkat setelah datangnya Syawal?

Saya tidak sedang “menimbang” iman dan amal siapapun dengan bertanya seperti itu. Ini hanya sekedar menghisab diri sendiri. Sekedar bermuhasabah.

Setelah berpuluh-puluh kali Syawal kita lalui, mungkin kinilah memang saatnya bagi kita menghisab diri. Siapa tau ini Syawal terakhir kita sebab tak lama lagi atau bahkan mungkin besok ajal kita datang menjemput.

Maka, mumpung saat ini kita akan dan sedang ber-Idul Fitri, sedang berada di bulan kemenangan, maka apa salahnya menakar-nakar timbangan iman dan amal pribadi? Iya toh?

Jadi, pertama-tama marilah kita bertanya; Benarkah Syawal bulan kemenangan? Benarkah Syawal bulan kita kembali Fitri?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan asli pertanyaan saya. Tapi pertanyaan seorang ustadz bergelar doktor yang menjadi khatib sholat Jum’at di minggu terakhir Ramadhan lalu di sebuah masjid dekat rumahku.

Pak Khatib itu berseru; “Maka dari mimbar ini saya ingin mengajak anda para jama’ah untuk sekedar bermuhasabah diri. Menimbang-nimbang. Menghisab diri. Sudahkah ibadah puasa kita lakukan dengan baik dan benar sehingga kita pantas mengatakan idul fitri di bulan Syawal ini adalah hari kemenangan? Hari kembali ke fitrah?” Jama’ah sholat Jum’at di masjid itu, seperti biasanya, hanya diam. Sejumlah orang bahkan tampak tertidur.

Bapak Khatib melanjutkan; “Beberapa hari kemarin, kata Pak Khatib, udara siang hari saat kita berpuasa sangat panas dan terik. Saya bertanya, berapa di antara kita di sini yang mensyukuri keadaan itu lalu berdo’a kepala Allah agar tetap diberi ketabahan, kesabaran dan kekuatan untuk tetap melaksanakan ibadah puasa hingga tiba saat berbuka? Dan berapa banyak pula di antara kita yang justru berkeluh kesah kemudian berkata-kata seakan-akan menyesali ujian Allah berupa panas terik itu dengan mengatakan puasa pada hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya?”

Maka, kata pak Khatib; “Untuk orang-orang yang selalu berkeluh kesah itu, yang selalu tidak ikhlas atas apapun ketetapan Allah selama bulan Ramadhan itu, pantaskah ia menyatakan datangnya Syawal adalah datangnya bulan kemenangan? Pantaskah orang-orang yang selama Ramadhan itu tak mampu menjaga mulut, mata, telinga, dan hatinya dari “ghibah” dan perkataan dusta, dari pandangan dan pendengaran yang tidak baik, dari macam-macam prasangka buruk, mengatakan Syawal adalah bulan kembali ke Fitrah?”

Saya terdiam dalam hening Jum’at yang khidmat itu. Sampai saya menuliskan catatan ini, saya masih menimbang-nimbang; mungkinkah saya termasuk orang yang suka berkeluh kesah itu? Orang yang tak pernah bersyukur itu?

Ah, kalau benar, betapa sia-sia sesungguhnya ibadah puasa saya selama ini. Bisa jadi, dari 29 hari puasa Ramadhan yang telah saya lalui di tahun 1443 H ini, mungkin tak ada satu hari pun puasa yang saya jalani itu bisa benar-benar disebut “Shaum”. “Puasa” dalam arti melaksanakan ibadah sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala sang pemilik puasa itu. Melaksanakan puasa sebagaimana “shaum” yang disyariatkan oleh Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam, Nabi dan rasulNya.

Ya Allah, mungkin saya pun termasuk salah seorang “pemuasa” yang hanya mendapat “lapar” dan “haus” semata. Seorang pemuasa yang hanya sekedar melepas kewajiban belaka. Lalu, sebagai “pemuasa” yang seperti itu, mengapa pula saya berani-beraninya ikut-ikutan orang banyak yang mengatakan Syawal adalah bulan kemenangan? Bulan kembali ke Fitrah?

Entahlah apa yang dicatat Allah dan para MalaikatNya dari puasa hambaNya ini. Entah bagaimana pula penilaian Sang Maha Khalik itu terhadap prilaku, sikap dan amal saya selama berpuasa di bulan Ramadhan itu. Saya hanya bisa mengucapkan sebanyak-banyaknya istighfar. Beratus-ratus istighfar. Berjuta-juta Istighfar demi memohon keridhoaanNya agar sudi mengampunkan dosa-dosa saya.

Satu hal yang pasti, sejak mendengar khutbah pak Khatib di mimbar Jum’at itu, saya berjanji tak akan berani-beraninya lagi mengatakan Syawal adalah bulan kemenangan, bulan fitrah, selama saya belum benar-benar mampu “berpuasa” sebagai kehendak dan tuntutan yang diajarkan RasulNya.

Maka ampunkanlah saya ya Allah, hambaMu yang dhoif dan tolol ini. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *