Waspada
Waspada » Sekolah
Budaya

Sekolah

Hebatnya Anies

KEPONAKANKU merengek-rengek minta duit untuk beli paket internet. Sudah berbulan-bulan dia tidak datang ke sekolah. Tidak masuk ke ruang kelas dan tidak menatap wajah gurunya yang kadang tersenyum manis kadang bermuka masam.

Kini, dengan bermodal hape bekas dan paket internet, dia bisa belajar di rumah dan tetap naik kelas. Bapaknya yang hanya buruh pabrik, dengan gaji setara UMR, harus pontang-panting mencarikan duit untuk dia yang masih duduk di bangku SMP dan dua kakaknya di SMA.

Karena kewalahan harus memikirkan biaya dapur, tagihan PLN, nyicil utang koperasi, kini ditambah lagi dengan beli paket internet untuk belajar daring (online), si bapak pun angkat tangan. Menyerah.

Anak-anaknya “terpaksa” mengajuk hati bulek dan pekleknya yang hidupnya juga susah, demi bisa belajar lewat hape. Sedih dan frustrasi? Tentu saja. Sejak beberapa tahun belakangan ini kita memang tak tau lagi apa sebenarnya tujuan sekolah di negeri ini.

Alasan pandemic Covid-19 makin memperburuk keadaan. Ironisnya, sementara sekolah-sekolah untuk anak bangsa ditutup, tempat-tempat keramaian terus dibuka. Mal dan restoran tetap ramai dengan pengunjung.

Sejak lama orientasi sekolah di negeri ini memang telah melenceng jauh dari tujuan luhur diadakannya lembaga sekolah itu sendiri. Situasi ini diperparah dengan terjadinya perubahan di luar lingkungan sekolah yang memaksa dunia pendidikan tunduk pada keadaan.

Hari ini, atas nama dan demi alasan Covid-19, kemajuan teknologi komunikasi dimanfatkan. Belajar Daring diberlakukan. Dampaknya? Belanja dapur harus terjun bebas.

Konsekuensi dari situasi ini jelas. Sekolah menjadi barang yang sangat mahal. Semakin tinggi penerapan teknologi di satu sekolah, semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan orangtua murid untuk membiaya pendidikan anaknya. Hal ini jelas menimbulkan problem pada banyak orang yang secara ekonomi tidak beruntung.

Akibatnya tidak sedikit anak yang meski minat dan kemauan belajarnya cukup besar, terpaksa “merengek-rengek” minta pulsa kepada orangtuanya agar bisa terus belajar.

Di Indonesia sekolah memang telah menjadi topik yang tak pernah henti dibicarakan. Bahkan sejak Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa. Topik itu terutama menyangkut kesempatan untuk mendapat pendidikan, kualitas lembaga pendidikan yang ada, dan output yang dihasilkan.

Tumbuh suburnya lembaga-lembaga pendidikan swasta ternyata tak memberi solusi. Apalagi jika lembaga pendidikan itu mengaku bertaraf internasional sehingga biayanya justru menjadi sangat mahal.

Ironisnya, di tengah situasi pendidikan yang mahal itu, kualitas yang dihasilkan lembaga-lembaga pendidikan tersebut justru memprihatinkan. Anak-anak sekolah menjadi pintar, bisa jadi ya. Tapi kemampuan intrinsiknya untuk memahami nilai-nilai justru “jeblok”.

Tak sedikit anak-anak yang kini kehilangan sopan santun, rasa malu dan ketajaman nurani untuk memahami derita sesama, membangun toleransi, berempati pada nasib malang saudaranya atau bahkan sekadar bersikap santun pada orangtuanya.

Dalam konteks inilah pemerintah dituntut untuk mengevaluasi sistem belajar daring yang malah mengutamakan pelajaran eksakta, tapi abai pada nilai-nilai moral dan pembangunan akhlak. Pemerintah wajib mengevaluasi biaya yang dikeluarkan untuk belajar via internet itu dengan misalnya, membebaskan para pelajar melalui kartu internet gratis atau diskon murah hingga mampu dijangkau oleh semua pelajar.

Tujuannya tentu saja agar ada pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Sebab bagi orang-orang kaya, membeli paket internet atau memasang jaringan internet di rumahnya bukanlah masalah meskipun mahal. Namun bagi orang yang secara ekonomi hidupnya pas-pasan, tentulah hal itu menjadi problem besar.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah pemerintah memiliki kemauan untuk mendorong terbangunnya kebijakan pendidikan yang baik, berkeadilan dan murah itu? Sampai hari ini tampaknya kemauan itu belum kelihatan.

Presiden dan para menteri di negeri ini tampaknya sungguh-sugguh sudah tidak punya empati lagi. Tak punya rasa malu pada rakyat. Entahlah sistem pendidikan macam apa yang mereka peroleh di sekolahnya dulu. Yang jelas, hari ini sekolah benar-benar telah menjadi beban. Tidak hanya bagi para murid, tapi juga bagi kebanyakan orangtua.

Kita seperti tak lagi hidup di dunia nyata. Tak di dalam bermasyarakat, tak di sekolah, kita dan anak-anak kita sungguh-sungguh tak lagi punya teladan rupanya. Tragis! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2