Waspada
Waspada » Sejarah
Budaya

Sejarah

Hebatnya Anies

JUNI adalah bulan Bung Karno. Di bulan Juni si  Bung lahir, di bulan Juni pula ia gali Pancasila. Maka Juni seyogianya adalah bulan sejarah. Sayangnya, pembelajaran sejarah untuk mengenang elan juang seorang tokoh sekaliber Bung Karno tampaknya sudah tak memadai.

Sejatinya pembelajaran sejarah tidak lagi sekedar menceritakan kisah-kisah perjuangan itu secara konseptual, tapi lebih pada interpretasi konstruktif agar masyarakat memiliki kemampuan menganalisis secara kritis torehan sejarah tokoh bangsa semisal Bung Karno itu.

Masyarakat seharusnya diajak menggali dan merefleksikan semangat kejuangan si Bung selama sebulan penuh di Juni ini. Dengan begitu sejarah tidak lagi sekedar hapalan di sekolah, melainkan terimplementasi dalam tindakan sehari-hari.

Jika hanya hapalan, toh sejarah semua pejuang di negeri ini dapat dibaca dari berbagai referensi. Tetapi apa yang harus diperbuat generasi berikutnya dari bekal pelajaran sejarah itu, hal itulah yang seharusnya ditanamkan ke dalam jiwa masyarakat.

Karena itu, apapun tantangannya, mempelajari dan merefleksikan sejarah perjuangan pahlawan bangsa masih sangat relevan hari ini. Bahkan sangat bermanfaat untuk membangkitkan semangat nasionalisme suatu bangsa. Sebab, hanya dengan semangat itulah kita dapat mempertahankan keutuhan NKRI setelah kemerdekaan bangsa ini diraih.

Bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki begitu banyak catatan sejarah dalam konteks membangun semangat kebangsaan itu. Dari sejarah pula kita tidak hanya bisa belajar bagaimana para founding fathers republik ini membuktikan kecintaannya pada tanah air, tapi juga bagaimana semangat kebangsaan itu mesti dibangun. Termasuk bagaimana perbedaan pandangan harus disikapi dan bagaimana pertikaian pendapat harus diselesaikan.

Sayang, belum lagi berabad usia Republik ini, semangat kebangsaan itu rupanya sudah mulai luntur. Nasionalisme Indonesia itu sudah mulai tergadaikan. Demi dan atas nama globalisasi, demi dan atas nama pergaulan bangsa-bangsa, gaung kemandirian bangsa bahkan nyaris tak lagi bergema.

Sebagai negara, Indonesia hari ini bahkan hampir-hampir tak mampu lagi memainkan politik bebas aktif sebagaimana dulu menjadi kekuatannya. Sebagai bangsa dengan 270 juta penduduk, hari ini kita tak lebih dari sekedar konsumen yang harus menelan bulat-bulat apapun yang disodorkan bangsa asing. Dalam banyak hal, seperti pernah dikatakan Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, kita memang tak lagi berdaulat.

Atas dasar itulah kita harus terus menerus dan secara konsisten menyadarkan dan mengajak warga bangsa ini untuk kembali pada jatidirinya. Warga bangsa ini harus secara terus menerus diajak untuk melihat kembali catatan sejarah masa lalunya. Harus diajak untuk merekonstruksi semangat juang para pahlawan bangsa yang rela gugur demi mempertahankan tanah air tumpah darahnya.

Bangsa ini harus diajak untuk melihat kembali bagaimana para pemuda Indonesia tempo dulu, pada tahun 1928, rela menyingkirkan sekat-sekat perbedaan pandangan politik, suku, ras, etnis, ideologi dan agama, lalu bersumpah setia demi tanah air yang satu, bangsa yang satu dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.

Ingatlah, bangsa ini ada bukan karena hadiah. Bangsa ini ada oleh sebuah perjuangan panjang yang penuh dengan tetesan keringat, airmata, darah dan bahkan nyawa. Oleh karena itu, jika saat ini bangsa besar yang lahir dari proses sejarah yang amat panjang itu terpuruk pada kondisi yang memprihatinkan, adalah menjadi tugas kita semua untuk kembali mengangkat harkatnya. Adalah menjadi tanggungjawab kita semua untuk merebut kembali martabat kita sebagai bangsa.

Itulah sebabnya mengapa peringatan hari lahirnya Bung Karno di Juni ini, harus menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan itu. Untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme itu. Itu berarti, kisah-kisah kepahlawanan dalam epos sejarah bangsa ini tidak cukup hanya dikenang, tapi harus digali dan diimplementasikan. Begitulah! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2