Waspada
Waspada » Rangga
Budaya

Rangga

Hebatnya Anies

ANAK lelaki itu, Rangga. Dia bukan tokoh dalam film cinta remaja yang pernah ngetop beberapa tahun lalu. Pun bukan artis dadakan. Dia baru duduk di bangku kelas 3 SD dan umurnya masih 9 tahun.

Tapi dialah yang menjadi perbincangan ramai di media sejak beberapa minggu lalu. Bukan karena bocah ini ketagihan main tik tok di medsos, namun karena keberaniannya membela kehormatan sang ibu hingga mengorbankan nyawanya sendiri.

Hari itu, Sabtu, 10 Oktober 2020. Rangga tinggal di rumah berdua saja dengan ibunya karena ayahnya sejak malam pergi memancing. Rumah itu berada di tengah perkebunan sawit, jauh dari pemukiman warga. Lalu, ketika hari menjelang subuh, terjadilah peristiwa naas yang membuat banyak orang kemudian berduka.

Dalam suasana sepi dinihari itu, tiba-tiba masuklah SB, residivis kasus pembunuhan ke dalam rumah kecil di tengah kebun sawit itu. Seperti yang kemudian dijelaskan Kasat Reskrim Polres Langsa, Iptu Arief S Wibowo, SB yang mendapati ibu dan anak itu sedang tertidur, lalu mencoba melakukan pelecehan. Tapi sang ibu terbangun. Ia terkejut saat melihat SB sudah berada di samping tempat tidurnya sembari memegang parang.

Sang ibu sontak membangunkan Rangga dan menyuruh sang anak lari menyelamatkan diri. Tapi bukannya lari, Rangga malah berteriak minta tolong. Teriakan itu membuat SB panik. Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, ia langsung membacok tubuh bocah SD itu dan menusuk dada sang ibu.

Lalu, sebagaimana sudah diberitakan banyak media, kisah biadab itupun terjadi. Rangga akhirnya tewas. Disusul kemudian tewasnya sang ibu. SB sendiri akhirnya ditangkap dan dikabarkan tewas juga saat berada di tahanan.

Membaca ekspose media terkait tragedi ini, banyak orang kemudian terperanjat. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di negeri ini? Mengapa ada orang yang begitu sadisnya menghabisi nyawa seorang bocah tak berdosa?

Sungguh, kita tak bisa percaya mengapa peristiwa sadis itu bisa terjadi di negeri ini. Dulu kita melihat sadisme semacam itu hanya ada di berita televisi atau lewat menonton film di bioskop. Dulu kita hanya tau sadisme semacam itu cuma bisa terjadi di daerah kumuh di Amerika, Eropa atau di kampung-kampung miskin di negara-negara terbelakang.

Tapi kini? Sadisme dan teror itu justru terjadi di depan mata kita. Di sebuah negara yang seluruh penduduknya mengaku beragama, berketuhanan yang maha esa dan berfalsafah Pancasila. Ironi peradaban macam apa sesungguhnya yang sedang berlangsung di republik ini? Tampaknya, sebagai bangsa, kita harus lebih sering berkaca.

Sejak dulu kita diajarkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ramah, sopan santun dan penuh dengan belas kasih. Tapi tragedi yang menimpa Rangga dan ibunya bukan yang pertama kali terjadi. Peristiwa penistaan, pelecehan, perkosaan bahkan pembunuhan manusia oleh manusia lainnya, sudah sangat sering kita dengar dan saksikan di negeri ini.

Ironisnya, terkait kasus yang menimpa Rangga dan ibunya itu, sampai hari ini kita tak mendengar adanya pernyataan keprihatinan atau bahkan sekadar karangan bunga dukacita dari Komnas Perlindungan Anak, Komnas Perempuan, KPAI atau apapun namanya. Entah kenapa komisi-komisi ini diam seribu bahasa. Ataukah mereka menganggap apa yang menimpa Rangga dan ibunya itu merupakan peristiwa yang biasa saja?

Yang bersuara lantang dengan keprihatinnya atas tragedi ini justru Ustadz Abdul Somad, da’i kondang sejuta follower itu. “Rangga adalah pahlawan keluarga. In Shaa Allah dia mati sahid,” tulis Ustadz Abdul Somad di akun Instagramnya.

Entahlah! Yang pasti, di negeri ini, saat ini, soal rusaknya moral dan akhlak tak hanya menjadi domain orang-orang macam SB. Lihatlah, melalui media sosial terutama, bagaimana kita menyaksikan betapa banyak orangtua – apapun status dan jabatannya – yang mengalami disorientasi akhlak yang luar biasa.

Mungkin inilah saatnya para orangtua, para guru, para politisi, para artis, para ustadz, para mubaligh, para birokrat, para wartawan, para seniman, para menteri, para anggota parlemen dan juga presiden, melakukan introspeksi diri.

Siapa tau, apa yang kini terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat hari ini hanyalah ekses dari perilaku kita semua. Ya, siapa tau……! (*)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2