Waspada
Waspada » Puasa Tapi Kufur
Budaya

Puasa Tapi Kufur

Hebatnya Anies

RAMADHAN 1441 H sudah berada di sepertiga kedua. Sayang, belum juga ada tanda-tanda kegembiraan disana. Wajah umat masih terlihat murung. Tak ada sukacita.

Di banyak tempat, tulisan yang terpampang di atas spanduk yang ditempelkan di dinding atau di pagar masjid bukan Marhaban ya Ramadhan, tapi pengumuman dari pengurus masjid perihal ditiadakannya sholat berjama’ah, Jum’at dan Tarawih. Sampai hari ini spanduk-spanduk di masjid itu belum diturunkan.

Semua kemurungan itu bermula dari “ketakutan massal” bangsa ini pada Covid-19 yang, menurut media, sangat mematikan dan belum ada obatnya.

Tidak seperti tahun-tahun yang sudah berlalu, di Ramadhan tahun ini wajah Ibu Pertiwi dipenuhi awan kemukus yang menghitam. Penuh duka nestapa.

Serbuan wabah Corona membuat Ibu Pertiwi benar-benar berduka. Dalam situasi ini, sedikit saja pemimpin negara salah mengambil tindakan, Ibu Pertiwi pasti benar-benar “nyungsep” ke jurang kehancurannya.

Entahlah apa dosa bangsa ini. Persoalan datang silih berganti bak tamu tak diundang. Belum selesai satu krisis diurai, sudah muncul krisis baru.

Ekonomi negeri lintang pukang. Harga-harga kebutuhan pokok pun membubung tinggi.

Hari ini Ibu Pertiwi bahkan terpuruk di bawah kaki langit kekayaan sumberdaya alam yang dimilikinya. Meringkuk bak tikus yang sekarat di lumbung padi.

Mengapa bisa demikian? Mengapa negeri yang tanah dan airnya ditaburi rahmat Tuhan ini, jutaan penduduknya sampai hidup keleleran?

Salah satu jawabannya pastilah karena ada yang salah dalam pengelolaan negeri yang subur makmur ini. Mungkin juga karena se agai bangsa kita tak pandai bersyukur.

Para pemimpin negeri terlalu asyik dengan diri sendiri hingga lupa untuk berbagi dengan rakhat yang dipimpinnya. Para pemimpin kita acapkali lalai bahwa dalam kenikmatan hidup mereka ada hak rakyat yang dipimpinnya.

Bahkan di setiap bulan Ramadhan ini, kita menyaksikan betapa banyak orang yang berpuasa tapi sesungguhnya dia kufur nikmat. Berpuasa tapi dzolim. Berpuasa tapi tak mau berbagi. Berpuasa tapi ghibah.

Padahal, dalam Kitab Suci Al Qur’an Allah SWT sudah mengingatkan; “Bersyukurlah kepada Allah.

Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.“ (QS. Luqman [31] : 12)
Simaklah, apakah bukan kufur nikmat namanya jika kekayaan negeri ini dikelola hanya oleh segelintir orang dengan serakah, padahal jutaan orang lain hidupnya terlunta-lunta?

Padahal salah satu wujud rasa syukur itu adalah keharusan untuk mengelola kekayaan negeri ini dengan adil, jujur dan amanah.

Bukan dengan memonopoli dan berlaku curang demi memperkaya diri dan kelompok sendiri.

Rasa syukur juga bisa diwujudkan dengan hidup bersatu dan saling mengasihi sesama anak bangsa sebagaimana ajaran semua agama.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi berkali-kali menjadi pemicu konflik sosial yang laten di negeri ini.

Konflik horizontal yang suatu saat nanti bisa jadi ledakan dahsyat.
Seharusnya, dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki, bangsa ini bisa hidup damai dan sejahtera sebagimana ajaran setiap agama. Namun fakta justru bicara sebaliknya.

Seharusnya Ramadhan jadi momentum untuk mengajak setiap orang untuk berlomba-lomba berbuat baik. Momentum untuk mewujudkan bangsa yang beradab dan religius.

Momentum untuk memperbaiki moral dan akhlak bangsa. Faktanya, Ramadhan seringkali justru disalahtafsiri demi memuaskan syahwat pribadi.

Maka, jika setelah puluhan tahun umat Islam di negeri ini berpuasa Ramadhan tapi Ibu Pertiwi tak juga tersenyum manis, ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Surah Al Isra’ berikut ini;
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (Ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Isra` [17] : 16).

Jadi, camkanlah olehmu wahai pemimpin bangsa. Jika engkau berpuasa tapi tetap kufur nikmat, jika pengelolaan negeri ini tak juga berobah menjadi lebih adil, maka kehancuran itu hanya tinggal menuggu waktu saja. Percayalah! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2