Waspada
Waspada » PKN 2020 Hadirkan Semangat Pelukis Affandi di Galeri Nasional
Budaya

PKN 2020 Hadirkan Semangat Pelukis Affandi di Galeri Nasional

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid

JAKARTA (Waspada): Sebanyak 113 lukisan maestro seni rupa dunia dari Indonesia, Affandi, mengisi pameran imersif Affandi bertajuk ‘Alam, Ruang, Manusia’ di Galeri Nasional Indonesia, 27 Oktober sampai 25 November 2020. Gelaran akbar ini menjadi bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Galeri Nasional Indonesia.

Pameran imersif merupakan sebuah pameran yang mengajak pengunjung untuk terlibat sekaligus merasakan pengalaman secara langsung “memasuki” dunia rekaan yang disajikan melalui proyeksi gambar bergerak (video projection) dengan iringan musik, suara, dan berbagai stimulasi sensorik lainnya.

Dari 113 lukisan yang dipamerkan, 98 diantaranya disajikan dalam proyeksi gambar bergerak (video mapping projection) dengan iringan musik dan suara . Sisanya, 15 lukisan, adalah koleksi Galeri Nasional Indonesia periode 1940-1970.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Siswanto mengatakan, pameran Imersif Affandi dilaksanakan secara luring atau offline, sehingga publik dapat menikmati karya-karya Affandi secara langsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia.

Pameran dapat dikunjungi mulai 27 Oktober hingga 25 November 2020, pukul 10.00 sampai 17.00 WIB.

Dengan merespons situasi pandemi saat ini, maka jadwal kunjungan pameran ini dibagi dalam enam sesi dalam satu hari. Durasi masing-masing sesi adalah satu jam, dengan kapasitas pengunjung dua puluh orang untuk setiap sesinya.

“Selain itu, tentunya kami menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi setiap pengunjung, termasuk registrasi online sebelum kunjungan. Selain pameran, juga akan dilaksanakan program-program publik,” ujar Siswanto.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, pameran ini merupakan wujud semangat dari para pelaku budaya, mulai dari lembaga budaya, seniman, hingga publik yang mengakses pameran ini, di tengah kondisi pandemi yang serba-tak menentu seperti ini.

Affandi dikenal sebagai maestro dengan filosofi hidup yang menyiratkan daya hidup, kerja keras, dan terus melangkah maju. Hal itu kita tiru untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah dalam membangun negeri.

“Semangat ini tentu saja merupakan suatu kekuatan yang positif sehingga perlu dipertahankan bahkan ditularkan kepada orang lain,” kata Hilmar, Senin (26/10/2020).

Karya-karya pameran ini dirangkai dalam tiga kerangka tema besar. Pertama, tentang alam, menampilkan observasi Affandi pada objek-objek di alam seperti flora, fauna, dan lanskap. Kedua, tentang ruang, menyajikan karya-karya Affandi yang merekam tangkapan visual suasana di ruang publik, ruang privat, dan objek-objek arsitektural. Ketiga, tentang manusia, menyuguhkan karya-karya potret, aktivitas manusia, dan keberpihakan Affandi pada kemanusiaan.

Kurator pameran, Bayu Genia Krishbie menambahkan, Affandi adalah salah satu sosok perupa penting yang dimiliki oleh bangsa ini. Ia dikenal sebagai seorang maestro, secara harfiah ia merupakan “guru” bagi banyak kawannya dan generasi perupa yang lebih muda, juga diakui sebagai master atau empu yang menguasai kemahiran berkarya dan berpengaruh penting dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia. Affandi kerap disebut sebagai salah satu sosok modernis awal. Ia yang tumbuh sejalan dengan proses modernisasi Indonesia di awal abad ke-20, mencerap dan menunjukkan sikapnya yang teguh pada nilai-nilai humanisme, nasionalisme, internasionalisme, serta perhatiannya pada lingkungan hidup dan perikebinatangan.

Perjalanan kesenimanan Affandi melintasi rentang waktu yang panjang. Dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, pascakemerdekaan Republik Indonesia, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Sebelum menetap di Yogyakarta, bersama keluarga kecilnya Affandi hidup berpindahpindah kota mulai Jakarta, Bandung, Ubud, Surabaya, bahkan bertualang ke berbagai negara di dunia. Ia sempat berkarya dan berpameran di India, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, Prancis, dan Amerika Serikat. Karya-karyanya juga kerap ditampilkan pada berbagai perhelatan internasional seperti Sao Paolo Biennale, Venice Biennale, hingga World Expo ’70 di Osaka, sebagai representasi perkembangan seni rupa modern Indonesia dalam konstelasi seni rupa dunia. Sejumlah museum terpandang di dunia mengoleksi karyanya, mulai dari Tagore Museum di India, Musée d’Art Moderne di Belgia, hingga Tropenmuseum di Belanda.

Affandi dikenal dengan teknik melukisnya yang unik, yaitu plototan atau menuangkan langsung cat minyak dari tube ke atas kanvas dan membentuknya dengan jari-jari tangan. Ia menyatukan dirinya dengan kanvas dan objek lukisan, kemudian meluapkan emosinya dalam suatu periode melukis spontan yang cepat.

Sejumlah kritikus seni rupa di Eropa memberikan komentar positif pada gaya melukis Affandi ini, bahkan menyebutnya sebagai “ekspresionisme baru”.

Namun jauh sebelum menemukan gaya personalnya, Affandi telah menguasai dengan baik teknik melukis naturalis-realistik dan impresionisme yang dipelajarinya secara otodidak. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2