Waspada
Waspada » Pilkada Medan
Budaya

Pilkada Medan

Hebatnya Anies

KALAU boleh jujur, saya tak punya harapan apapun terhadap Pilkada Medan yang sebentar lagi digelar. Hopeless. Sebagai warga negara yang lahir dan besar di kota ini, saya haqqul yakin tak akan ada perobahan apapun yang berarti di Kota Medan pasca Pilkada 9 Desember nanti.

Siapapun yang lahir dan tumbuh di kota ini, sudah sangat lama menyaksikan kota dengan 2,3 juta penduduk (data BPS Agustus 2019), menguji kesabaran warganya. Sudah sangat lama di kota yang berusia 430 tahun ini warga dihadapkan pada buruknya pelayanan publik dan lebarnya jurang kesenjangan sosial.

Maka, jika warga Kota Medan ingin mewujudkan kota ini menjadi kota yang ramah pelayanan birokrasinya, nyaman lingkungannya, tertib dan bermartabat masyarakatnya, tak bisa tidak warga sendirilah yang harus mengusahakannya. Jangan terlalu berharap dari dua pasang calon walikota yang sekarang sedang bertarung berebut kekuasaan.

Mengapa? Karena tidak ada siapapun yang bisa membenahi berbagai kelemahan, kerusakan dan ketidakbecusan yang terjadi di kota ini kecuali warga Kota Medan sendiri bertekad untuk memperbaikinya.

Sehebat apapun gagasan seorang wali kota, sekuat apapun dukungan elit kepadanya, jika warga Kota Medan “tak mau” berobah, maka perobahan itu tak akan pernah bisa terlaksana.

Benar kemampuan untuk memimpin itu penting. Dukungan politik itu penting. Ketersediaan finansial itu penting. Tapi semua itu tidak akan ada gunanya jika warga kota tak merasa kota ini adalah milik mereka. Jika warga kota ini – sebagaimana yang terasakan sejak beberapa tahun terakhir – dianggap tak lebih sebagai tamu di kampung halamannya sendiri.

Memiliki walikota yang kuat dengan dukungan mayoritas partai politik, memang penting. Tapi sekuat apapun dukungan itu, jika sebagai pemimpin ia tak mampu menjalin ikatan emosional dengan warganya, maka dukungan itu tak akan bisa membuat perobahan apapun untuk Kota Medan menjadi lebih baik, lebih nyaman, lebih manusia.

Di tengah berbagai tantangan masa depan yang siap menghadang, baik tantangan politik, sosial maupun ekonomi, Kota Medan sejatinya membutuhkan pemimpinnya yang tidak hanya memiliki ide-ide cemerlang, tapi juga siap bekerja keras dan berkorban demi kotanya. Terus terang, Kota Medan hari ini dan akan datang tak membutuhkan walikota yang cuma bisa menunjuk-nunjuk dari balik meja jabatannya.

Medan membutuhkan seorang pemimpin yang berdiri di depan sebagai pioneer untuk menumbuhkan sikap ksatria. Pemimpin yang berani, jujur, ikhlas, cerdas dan arif bijaksana dengan mengutamakan kepentingan warga kota di atas segala-galanya.

Kota Medan tidak membutuhkan pemimpin “kaleng-kaleng” yang bergerak berdasarkan “dawuh” partai pendukung. Kota Medan tak memerlukan pemimpin yang hanya melihat pembangunan infrastruktur sebagai satu-satunya indikasi pembangunan kota, namun mengabaikan pembangunan manusia dan budayanya.

Untuk apa Kota Medan punya gedung-gedung megah, taman-taman berhias lampu warna warni, jalan-jalan bertaraf metropolitan, jika mentalitas aparatur pemerintah dan warganya tetap kampungan. Bila birokrasi tetap lelet, bila pelayanan publik tetap buruk, bila jalan-jalan raya tetap macet, bila sampah-sampah tetap berserakan di sembarang tempat, bila premanisme dan kriminalitas tetap marak, bila kampung-kampung tetap kumuh.

Satu-satunya cara agar Kota Medan bisa mencapai “angan-angan” sebagai kota yang damai, nyaman, sejahtera dan bermartabat, tak ada kata lain kecuali kota ini punya pemimpin yang teladan. Seorang pemimpin yang perilakunya dicontoh dan kata-katanya diikuti warga.

Seorang pemimpin yang sesungguhnya sudah sangat banyak dicontohkan oleh khazanah Islam. Sebagaimana Umar bin Khattab yang tegas dan berani. Atau sebagai Umar Bin Abdul Aziz yang jujur dan amanah.

Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat demokratis, tidak korup, tidak suka bermewah-mewah dan sangat menghargai rakyatnya. Beliau bahkan menangis dan ingin mengembalikan amanat kekuasaan yang disandangnya kepada rakyat ketika sebagai pemimpin ia tidak sanggup meningkatkan derajat hidup rakyatnya yang miskin.

Umar bin Abdul Azis menolak menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadinya. Dia bahkan menolak pemberian rakyatnya walau hanya sekeranjang buah-buahan.

Lalu, adakah sifat-sifat seperti itu di antara dua pasang calon walikota Medan saat ini? Warga Medan pastilah sudah tau jawabannya. (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2