Waspada
Waspada » Perempuan
Budaya

Perempuan

Catatan Budaya S. Satya Dharma

SAYA tak bosan-bosannya mengutip Bunda Theresia, terutama saat ibu kaum papa di Calcutta India itu menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1979. Meski sudah berlalu 41 tahun, pernyataan perempuan bertubuh kecil berhati mulia itu masih sangat faktual dan terjadi hingga hari ini.

Katanya; “…….Penyakit terbesar manusia dewasa ini bukan Kusta atau TBC, melainkan perasaan tidak dikehendaki, tidak diperhatikan dan ditinggalkan oleh sesama manusia. Kejahatan terbesar adalah tiadanya cinta kasih, sikap acuh tak acuh terhadap sesama, lalu mereka yang tidak berdaya itu ditinggalkan di pinggir jalan untuk kemudian dibiarkan terkapar dikerubuti kemiskinan dan penyakit. Maka cinta harus dimulai dari rumah. Bukan soal berapa banyak yang kita lakukan, tapi berapa banyak cinta yang kita masukkan ke dalam tindakan yang kita lakukan.”

Ah, betapa halusnya hati perempuan tua itu. Walau sudah berbilang tahun ia tiada, tapi laku dan perbuatannya menyisakan suatu kenangan yang sangat abadi. Yakni cinta kasih dan rasa sayang pada sesama, meski terhadap orang-orang yang berbeda agama dan keyakinan dengannya.

Tapi Bunda Theresia memang pengecualian. Ia memilih jalan zuhud ketimbang hidup enak di biaranya. Mungkin hanya ada satu sosok seperti itu dari tiap sejuta perempuan di muka bumi ini. Bunda Theresia bahkan tak bicara agama dalam laku aksi kemanusiaannya kecuali menanamkan peradaban yang lebih mulia atas nama kemanusiaan.

Menjelang akhir tahun ini, di tengah kecamuk politik dan ekonomi yang berkelindan hingga dapur dan kamar tidur setiap rumahtangga, di tengah suasana peringatan Hari Ibu, laku kemanusiaan Bunda Theresia tentang bagaimana seharusnya perempuan mengambil peran dalam kehidupan, kembali membayang ke permukaan.

Tidak mudah memang jalan yang ditempuh Bunda Theresia. Tapi pilihannya untuk menyelamatkan harkat hidup kemanusiaan ternyata lebih besar dari status sosial yang disandangnya. Ia masuk dan meleburkan diri ke dunia yang selama ini ditinggalkan oleh peradaban modern. Dunia yang diabaikan oleh sistem pendidikan negara-negara kapitalis. Dunia yang diacuhkan oleh banyak politisi dan pemuka agama.

Bunda Theresia menceburkan diri ke dalam lingkungan kehidupan nyata kaum papa di India tanpa orasi dan retorika berbunga-bunga. Ia bukan politisi yang cuma menebar janji palsu. Iapun tak mengutip ayat-ayat suci meski ia seorang biarawati. Ia hanya bertindak. Mengambil peran nyata di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang tersia-sia dan terlunta-lunta.

Di penghujung tahun ini, dalam suasana peringatan hari ibu ini, Bunda Theresia mengingatkan kita kembali betapa besar sesungguhnya peran yang bisa dimainkan oleh seorang perempuan, lebih dari sekedar bersolek-solek dan berlagak sebagai sosialita.

Sejatinya  perempuanlah yang menjadi pemain utama dalam menanam bibit cinta kasih pada anak-anaknya. Perempuanlah yang menjadi pembentuk moral dan karakter suatu bangsa. Perempuanlah “Madrasatul Ula”, sekolah pertama yang menanamkan, mengajarkan dan membentuk akal budi, watak, karakter, anak-anak keturunannya.

Perempuanlah seharusnya yang pertama kali menyadari bahwa dalam kehidupan setiap orang cinta kasih dan akal budi bukanlah suatu yang ada begitu saja. Akal budi dan cinta kasih adalah suatu keadaan yang dibentuk, dirawat dan diberi ruang untuk berkembang dalam proses kehidupan yang berjalan. Cinta kasih dan akal budilah yang mendasari watak setiap orang. Akal budi dan cinta kasihlah yang menjadi alat utama manusia dalam membentuk kehidupan yang harmonis dengan alam dan lingkungannya.

Aristoteles bahkan menyebut; “Akal budi adalah mahkota kodrat manusia. Akal budi memungkinkan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan membebaskannya dari mitos-mitos.”

Sayang, pendidikan tak selalu berhasil membangun akal budi itu. Di berbagai negara, pendidikan justru sangat tergantung pada sistem, metode dan orientasi pendidikan yang dilaksanakan para penguasa. Outputnya, secara intelektual metode pendidikan yang dijalankan bisa jadi akan membuat anak-anak sangat pintar. Tapi kemampuan intrinsiknya untuk memahami nilai-nilai kemanusiaan, untuk berakhlakul karimah, untuk berempati pada sesama, seringkali justru nol besar.

Karena itulah kehadiran sosok-sosok perempuan seperti Bunda Theresia masih sangat dibutuhkan, bahkan mungkin hingga kiamat tiba. (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2