Waspada
Waspada » Pemerintah Segera Upayakan Hak Kekayaan Intelektual Pemusik Tradisional
Budaya

Pemerintah Segera Upayakan Hak Kekayaan Intelektual Pemusik Tradisional

Dosen Etnomusikologi USU, Irwansyah Harahap menjadi satu dari penerima secara simbolis Surat Pencatatan Penciptaan dari Kemenhukham yang menandai babak baru pemetaan kekayaan intelektual para seniman musik tradisional Tanah Air.

JAKARTA (Waspada): Musik tradisional di Indonesia berada dalam kondisi memprihatinkan. Pasalnya,  banyak seniman musik tradisional yang sudah tiada atau sudah tidak maksimal bermusik karena harus bertahan hidup dengan beralih profesi.

Di ranah publik, musik tradisional juga menemui kenyataan pahit. Kini, sudah semakin jarang kegiatan adat yang menyertakan musik tradisional.

“Ruang gerak musik tradisional kini semakin sempit. Terhegomoni dalam dunia musik populer. Kondisi ini nyata,” ujar etnomusikolog dari Universitas Sumatera Utara, Rita Hutajulu, saat berbicara dalam Diskusi Hari Musik Nasional, bertajuk ‘Pelindungan Karya Cipta Musik Tradisi’ yang digaler Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Senin (15/3). Hari Musik Nasional yang merupakan hari lahir komposer WR Soepratman jatuh pada 9 Maret.

Padahal, musik tradisional di Indonesia sangat kaya. Tidak hanya dari jumlah lagu, tapi juga jenis alat musiknya.

“Yang perlu dilakukan pemerintah dalam waktu dekat adalah mendata dan mendokumentasikan kekayaan seni musik tradisional kita. Tentu saja hal itu bisa dimulai dari mendata berapa banyak pelaku seni budaya yang ada dan tersebar di Tanah Air,” kata Rita.

Irwansyah Harahap yang juga dosen etnomusikologi USU mengingatkan kalau jenis musik tradisional yang dimiliki Indonesia sangatlah banyak. Saking banyaknya bahkan sampai hampir terlupakan.

“Kita seharusnya bisa mengelola kekayaan musik tradisi  menjadi satu potensi ekonomi kreatif di era digital ini. Sebab dunia ternyata menantikan karya-karya yang unik, yang lahir dari perpaduan antara musik tradisional dan modern,” ujar Irwansyah yang dalam kesempatan itu menerima secara simbolis Surat Pencatatan Penciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Penyerahan dilakukan langsung oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid dan disaksikan Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenhukham, Freddy Harris.

Senada dengan Rita, pemusik Gilang Ramadhan juga mempertanyakan keberadaan pendataan para pemusik tradisional. Kondisi yang lebih baik sudah dimiliki pemusik atau pengarang lagu pop dan sejenisnya karena sudah punya Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) Nasional. Tapi bidang musik tradisional belum ada.

“Kekayaan musik bangsa berupa musik tradisional sejauh ini hanya seremonial belaka. Belum terkelola secara modern seperti LMK pada musik populer.  Sudah saatnya musik tradisional dikelola manajemen modern layaknya musik pop,”kata Gilang.

Menanggapi hal itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan, pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan pendataan keberadaan seniman musik, khususnya pemusik tradisional. Yang sudah mulai berjalan adalah di tingkat maestro.

“Saat ini sinergi dengan pihak Kemenhukham sudah kita laksanakan. Data dari kami disingkronkan dan divalidisasi oleh Kemenhukham supaya bisa masuk dalam pusat data kekayaan intelektual yang berada di bawah Ditjen Kekayaan Intelektual,” kata Hilmar.

Dirjen Kekayaan Intelektual Freddy Harris mengatakan, pihaknya siap mendukung sepenuhnya upaya Kemendikbud untuk memetakan keberadaan kekayaan intelektual para seniman tradisional. Dengan adanya legalitas kekayaan, diharapkan para seniman tradisi dapat meraih haknya sebagai kreator dan mampu untuk terus berkarya. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2