Waspada
Waspada » Nyinyirin Uang Palestina
Budaya

Nyinyirin Uang Palestina

Oleh S. Satya Dharma

DI jalur Gaza, orang-orang Palestina kembali digempur Israel. Di Indonesia, sebagaimana yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, orang-orang kembali  menggalang solidaritas. Mengumpulkan uang. Mengirim bantuan ke warga Palestina yang teraniaya.

Teraniaya? Ya. Rakyat Palestina adalah orang-orang yang teraniaya. Dirampas hak- haknya. Diblokade secara ekonomi. Digempur dengan kekuatan militer

Apa yang terjadi di Palestina sejak puluhan tahun lalu bukanlah perang. Sebab perang butuh kekuatan yang seimbang. Baik amunisi maupun persenjataan. Di Palestina yang terjadi adalah pembantaian. Holocaust. Genosida.

Serangan besar-besaran Israel ke jalur Gaza beberapa waktu lalu, dengan membombardir kawasan itu hingga menewaskan banyak orang, adalah bukti dari pembantaian tersebut. Pantaslah jika Israel mendapat kecaman dari masyarakat dunia, tak terkecuali dari rakyat Indonesia.

Kelakuan Israel terhadap rakyat Palestina memang sudah di luar batas kemanusiaan. Wajar jika banyak pihak menjadi geram dan meminta pemerintah Indonesia menutup semua peluang bagi hubungan diplomatik dengan negara zionis itu.

Permintaan bukan tanpa dasar. Mendukung Palestina merupakan janji sejarah bangsa Indonesia sebagaimana pernah diucapkan Presiden Soekarno tahun 1962. “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel,” seru Bung Karno.

Rakyat Indonesia, apapun alasannya, jangan pernah melupakan janji sejarah itu. Sialnya, di tengah perjuangan umat Islam Indonesia membantu kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajahan Israel itu, ada saja orang Indonesia yang “nyinyir” dan over akting.

Orang-orang itu bukan hanya mempersoalkan dukungan umat Islam pada kemerdekaan bangsa Palestina, tapi juga “merecoki” inisiatif umat Islam yang mengumpulkan dana untuk membantu rakyat Palestina. Sampai-sampai para “penyinyir” yang lupa sejarah itu meminta agar dana bantuan untuk Palestina yang dikumpulkan umat, diaudit pemerintah. Apa urusannya?

Ada pula orang yang bilang apa yang terjadi di Palestina bukan urusan bangsa Indonesia. Sungguh pernyataan bodoh, a historis dan sangat tendensius.

Pahamilah, apa yang terjadi di Palestina adalah penjajahan dan pembantaian kemanusiaan. Dan bangsa Indonesia, sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, menolak setiap penjajahan di muka bumi dan sangat memuliakan pri kemanusiaan.

Itulah alasan terbesar mengapa kita harus mendukung Palestina. Dus, bukan soal agama. Di Palestina pun ada umat agama lain selain Islam.

Untuk mengingatkan saja, Indonesia punya utang jasa pada bangsa Palestina karena merekalah salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.

Maka kita tidak bisa lagi sekedar mengutuk. Harus ada tindakan lebih tegas terhadap Israel, termasuk misalnya dengan memblokade asset-aset perusahaan milik orang Jahudi yang ada di negeri ini.

Sebagai pemimpin negara muslim terbesar di dunia, Presiden Jokowi harusnya lebih proaktif memainkan perannya kesejarahannya dengan mendesak negara-negara anggota OKI, Dewan Keamanan PBB serta masyarakat dunia untuk menyelamatkan bangsa Palestina dari pembantaian Israel.

Saya yakin, jika pak Jokowi melakukan hal itu, seluruh umat Islam di Indonesia pasti akan mendukung dan bersatu padu di belakangnya. Sebab isu Palestina adalah sesuatu yang sangat sensitif bagi umat Islam di Indonesia. (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2