Waspada
Waspada » Nelayan Aceh
Budaya

Nelayan Aceh

Hebatnya Anies

ENTAHLAH apa yang akan terjadi pada seratusan jiwa etnis Rohingnya, Kamis (25/6/2020), kalau saja tak ada nelayan Aceh. Mereka, orang-orang Rohingnya itu, terdiri atas orangtua, perempuan dan anak-anak. Menyintas batas demi mencari perlindungan. Menghindar dari rezim dzolim yang rasis dan diskriminatif di Myanmar.

Perahu mereka nyaris ditarik kembali ke tengah laut oleh otoritas keamanan kalau saja para nelayan dan warga Syamtalira Bayu, Aceh Utara, tidak merengek-rengek, menangis dan sedikit menghardik. Ini demi kemanusiaan. Tak ada penghormatan yang lebih tinggi dalam hidup manusia kecuali pada kemanusiaan itu sendiri.

Para nelayan itu, dibantu aparat keamanan, akhirnya menarik perahu para pengungsi ke tepi pantai Lancok. Memberi mereka makan dan minum. Menurunkan penumpangnya dan merelakan saudara muslim mereka itu dibawa ke rumah imigrasi untuk diperiksa kesehatannya dan diidentifikasi.

Atas aksinya itu, sebagai anak bangsa kita tentu saja menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada nelayan Syamtalira Bayu dan warga Aceh Utara pada umumnya. Sekali lagi terbukti bahwa rasa kemanusiaan berhasil mengalahkan segala-galanya.

Mengapa muslim Rohingnya terus didera petaka padahal hampir semua badan dan lembaga dunia di bawah PBB telah buka suara?

Sebagian orang mengatakan penindasan etnis Rohingnya di Provinsi Rakhine, Myanmar, bukan soal politik. Tak ada hubungannya dengan agama ataupun etnis. Murni konflik sosial. Tapi faktanya tak sesederhana itu. Apa yang terjadi terhadap muslim Rohingnya di Myanmar adalah depopulasi. Genosida.

Sejarah mencatat, sejak tahun 1400-an Provinsi Rakhine adalah bagian dari Kerajaan Arakan dimana Muslim Rohingya sudah menetap di sana dan tercatat menjadi bagian pemerintah  kerajaan yang dipimpin oleh Raja Narameikhla (Min Saw Mun). Namun tahun 1785, Kerajaan Buddha Burma di Selatan menjajah sebagian wilayah Arakan hingga menyebabkan lebih separuh muslim Rohingya tereksekusi sedang lainnya melarikan diri ke Bengal.

Tahun 1826, tatkala Inggris menjajah Kerajaan Arakan untuk berperang menghadapi kerajaan Burma, mereka membawa kembali muslim Rohingya yang ada di Bengal ke Arakan yang sekarang menjadi Provinsi Rakhine. Pengembalian muslim Rohingnya itu membuat panas tensi wilayah dan menyebabkan ketidaknyamanan warga Buddha di Rakhine.

Pasca PD II, konflik antara Rohingya dan Rakhine (Buddist Myanmar) pecah. Passalnya, pasca-kemerdekaan pada tahun 1948, orang-orang Rohingya yang sudah turun temurun berada di Arakan meminta hak mereka sebagai warga negara Myanmar.

Permintaan itu tidak dikabulkan karena Rakhine menganggap orang Rohingya sebagai etnis yang berbeda, yakni orang Bengali. Diskriminasi ini menyulut keinginan orang Rohingya untuk berpisah dari Myanmar dan mendirikan negara sendiri. Tentu saja Pemerintah Myanmar tidak ingin sebagian Provinsi Rakhine memisahkan diri.

Konflik rasial dan diskriminasi itu semakin diperparah dengan munculnya gerakan 969 yang diprakarsai oleh seorang Biksu Buddha bernama Ashin Wirathu. Gerakan ini berupaya memarjinalkan etnis Rohingnya dan tentu saja agama Islam untuk tujuan membesarkan pengaruh dan dominasi umat Buddha. Ashin Wirathu sendiri, sang penggagas gerakan ini, adalah mantan tahanan Politik yg pernah mendekam di penjara selama 9 tahun karena terlibat kerusuhan anti-Muslim tahun 2003.

Popaganda Ashin Wirathu membuat warga provinsi Rakhine bagian selatan semakin bersemangat meneror dan mengusir Muslim Rohingya. Ironisnya, pemerintah Myanmar ternyata mendukung gerakan ini.

Tanpa persenjataan dan lemah, penindasan akhirnya menjadi santapan muslim Rohingnya bertahun-tahun lamanya. Sebagian yang tak kuat didera siksa, memilih pergi. Hambus dari Rakhine ke berbagai negara. Mencari suaka. Meminta pertolongan.

Beruntung Indonesia memiliki orang-orang Aceh yang berjiwa kemanusiaan tinggi. Nelayan dan warga Aceh Utara, mewakili semangat “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dari bangsa Indonesia, dengan tangan terbuka membantu saudara-saudaranya yang sedang teraniaya. Alhamdulillah…! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2