Natalius Pigai - Waspada
banner 325x300

Natalius Pigai

  • Bagikan

GORILLA adalah jenis primata terbesar yang berasal dari hutan tropis Afrika. Meski 97 sampai 98 persen DNA Gorilla identik dengan manusia, Gorilla tetaplah binatang omnivora. Ia memang spesies kedua setelah simpanse yang terdekat dengan manusia.

Tapi kemiripan DNA yang hampir sama dengan manusia itu tidaklah serta merta membolehkan seseorang seenaknya saja menyamakan manusia dengan Gorilla. Apalagi penyamaan itu bertensi untuk mengejek dan menghina.

Maka, ketika foto Natalius Pigai, mantan komisioner Komnas HAM disandingkan dengan foto Gorilla, ditambahi pula dengan caption yang merendahkan, orang-orang pun meradang. “Ini perbuatan sangat rasis dan sangat anti Pancasila,” ujar Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma.

Lieus pun meminta aparat kepolisian menangkap pembuatan foto “meme” yang menyandingkan Natalius Pigai dengan Gorilla itu, dan segera memprosesnya sesuai hukum. “Orang itu tidak saja melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, tapi juga menebarkan permusuhan yang mengancam kebhinnekaan,” tegasnya.

Natalius Pigai memang sudah berkali-kali mendapat perlakuan rasis oleh sejumlah orang. Mungkin karena suaranya yang terlalu vokal mengeritisi pemerintahan. Kali ini, penghinaan yang viral di media sosial itu dilakukan oleh Ambroncius Nababan yang katanya ketua salah satu tim relawan Jokowi.

Seperti diketahui, dalam postingan di akun Facebook miliknya pada Selasa 12 Januari 2021, Ambroncius Nababan memasang foto Natalius berdampingan dengan seekor Gorilla dengan tambahan kalimat yang berbunyi;  “Mohon maaf yg sebesar-besarnya. Vaksin sinovac itu dibuat utk MANUSIA bukan utk GORILLA apalagi KADAL GURUN. Karena menurut UU Gorilla dan kadal gurun tidak perlu di Vaksin. Faham?” tulis akun tersebut.

Meski postingan itu kemudian dihapus karena sudah tak ada lagi di FB milik Ambroncius, namun unggahannya itu telah viral di media sosial dan mendapat reaksi keras dan masyarakat. “Ini rasisme yang sangat parah. Seolah dia orang yang paling kecakepan di negeri ini,” tegas Lieus.

Lieus benar. Sejatinya perbedaan pendapat atau dukungan dalam politik tidak menjadikan bangsa ini jadi kehilangan adab. Tak ada satupun manusia di bumi ini yang sempurna. “Sikap seperti si Ambroncius inilah yang memecah belah bangsa ini dan membuat orang-orang Papua minta merdeka,” kata Lieus.

Karena itulah, tak berlebihan kalau almarhum KH. Sohaluddin Wahid (Gus Sholah), cucu Al Mukarrom Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, jauh sebelum ia wafat, mewanti-wanti agar semua orang, terutama elit politik, menjaga mulut dan jarinya.

Sejak dulu orang-orang bijak selalu bilang; mulutmu harimaumu. Hari ini perumpamaan itu bisa ditambah dengan; jarimu Harimaumu. Sejak reformasi dan medsos menjadi budaya baru abad milenial, jari rupanya sama tajam dengan mulut. Daya rusak jari, lewat medsos, bahkan lebih hebat dari kata-kata yang meluncur lewat tenggorokan.

Maka, amat bijaklah Gus Sholah, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang itu ketika meminta para elite politik dan seluruh elemen bangsa untuk menahan diri dari menggunakan mulut dan jarinya.

Di tengah situasi pandemic Covid-19 serta arah politik dan ekonomi yang tak menentu saat ini, pernyataan yang keluar dari mulut dan kalimat-kalimat yang meluncur lewat jari lalu terpublikasi di media sosial, memang bisa memancing emosi, mengundang kemarahan dan bahkan bisa berujung saling hujat dan saling memaki.

Karena itulah orang harus menjadi beradab dan bijaksana lebih dahulu sebelum ia menjadi pintar. Adab dan kebijaksanaanlah yang bisa “memfilter”, “menahan” mulut dan jari seseorang agar tidak mengeluarkan kata-kata buruk dan tak pantas. Tanpa adab dan kebijaksaan, sebanyak apapun gelar akademis seseorang, hal itu tak menjamin orang tersebut menjadi manusia yang beradab.

Ironisnya, seringkali orang yang suka mengejek, menghina, membully dengan mukut dan jarinya itu, tidak melakukannya secara sukarela. Karena mulut dan jarinya ternyata sudah “dibandrol” seharga jabatan atau jumlah uang yang diterimanya.

Sungguh, adab dan kebijaksanaan, itulah yang sekarang hilang di negeri ini. (*)

 

—–

  • Bagikan