Miskin Dan Kaya

  • Bagikan

Oleh S. Satya Dharma

Mengapa ada orang miskin? Karena ada orang kaya. Kaya miskin itu pasangan abadi. Seperti halnya baik buruk. Siang malam. Yang satu tak bisa meniadakan yang lain. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Dalam bahasa yang lain, tak ada orang kaya bilang tak ada orang miskin.

Kalau begitu, mengapa kemiskinan jadi masalah? Karena fakta yang berbeda. Di negeri ini, misalnya, kemiskinan ternyata tidak pernah bisa bersinergi dengan kekayaaan. Di republic ber-Pancasila ini kemiskinan adalah got mampet, gorong-gorong, sampah, jorok, bau, sandal jepit, kudis dan borok. Sementara kekayaan adalah lampu-lampu kristal, parfum impor, mobil mewah, rumah gedung, sepatu mahal dan makanan enak.

Dus kemiskinan dan kekayaan di negeri yang bersemboyan keadilan sosial ini sama seperti langit dengan bumi. Hanya butuh sedikit provokasi saja, maka si kaya dan si miskin di negeri ini bisa langsung saling baku pukul dan bersibunuhan.

Adalah fakta bahwa di negeri ini kemiskinan masih menjadi warna kental yang bisa dengan mudah ditemui di berbagai pelosok di negeri. Bukan saja karena 90 persen harta kekayaan negeri dikuasai hanya oleh 10 persen pengusaha dan penguasa serakah, tapi juga karena budaya untuk saling berbagai sudah hilang musnah.

Maka kemiskinan, apakah miskin ekonomi, miskin hati, miskin nilai, miskin empati, jadilah gambaran sehari-hari yang dengan kasat mata kita saksikan melalui berita di televisi atau melalui media sosial. Orang-orang kaya hidup dengan dunianya yang penuh gaya dan warna. Orang-orang miskin mampus situ, mau makan apa. Anehnya, jika ditanya, dua-duanya sama-sama bangga mengaku sebagai orang Indonesia.

Jurang kaya miskin ini semakin dalam karena paradigma pembangunan kita penuh kontradiksi. Pemerintah berupaya mempertahankan stabilitas sambil terus menggenjot angka pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah tanpa segan-segan

mengorbankan rakyatnya sebagai tumbal untuk menambal defisit APBN. Maka subsidi

pun dicabut. Pajak digenjot tinggi.

“Negara yang seharusnya paling bertanggungjawab untuk menumpas wabah kemiskinan, justru menciptakan orang  miskin baru. Kebijakan “Aspirin” lewat Bantuan Langsung Tunai (BLT) misalnya, atau bagi-bagi sembako ala presiden Jokowi, tidak memberi pengaruh apapun terhadap perbaikan nasib rakyat karena kemiskinan bukan hanya soal minimnya pendapatan, tapi lebih sebagai akibat dari sistem dan kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

Di Indonesia, upaya mengatasi kemiskinan seharusnya menjadi “pe-er” utama para

pemimpin republik. Sebab kemiskinan adalah sumber dari segala problem sosial yang terjadi di masyarakat. Tak ada seorang pun yang bisa diajak ikut berpartisipasi dalam aktivitas pembangunan, bergotong royong, menumbuhkan pola hidup bersih dan sehat, jika perutnya sendiri lapar dan kebutuhan hidupnya yang paling elementer tak terpenuhi.

Dalam khazanah Islam telah dengan tegas disebutkan bahwa kemiskinan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Tapi penegasan agama ini, oleh para pemimpin Indonesia yang, anehnya, mayoritas mengaku beragama Islam, ternyata tak memberi

pengaruh apa-apa. Faktanya, angka kemiskinan masih sangat besar di negeri ini.

Padahal kemiskinan terkait erat dengan perilaku. Orang miskin, meskipun tak

selalu demikian, biasanya tak hirau rambu-rambu – moral dan aturan – bahkan acapkali mengabaikan rasa hormat. Itulah sebabnya betapa susah membersihkan bahu jalan di kota-kota besar negeri ini dari pedagang kakilima. Betapa sulit menghalau para pengemis dan pengasong dari perempatan jalan. Betapa sukar membuat taman-taman kota bersih dari sampah. Betapa susahnya menertibkan supir angkutan umum di tiap persimpangan jalan. Dan yang tidak kalah sukarnya dari semua kesulitan di atas adalah, betapa susahnya mewujudkan perilaku santun, bertenggang rasa, solider dan toleran dalam kehidupan masyarakat di

berbagai aktivitas sosialnya.

Dampak kemiskinan yang paling parah adalah matinya sense of humanity. Rasa kemanusiaan. Bahkan hari ini, tak hanya terhadap orang-orang miskin, matinya rasa kemanusiaan itu telah pula menjangkiti para elit politik, pemimpin lembaga pemerintahan dan orang-orang kaya.

Hari ini, kita bahkan bisa dengan terang benderang menyaksikan tak ada lagi penghargaan terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan itu. Tak ada lagi rasa hormat dan kepedulian itu. Taka da lagi raa empati itu. Semua menggunakan hitungan untung rugi.

Hari ini, setiap orang di republik ini, sekalipun itu seorang presiden, telah terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Setiap orang berusaha mati-matian menjadi “manusia kaya” padahal, tanpa disadari, usahanya itu justru membuatnya menjadi “manusia miskin” yang sesungguhnya. Ah……(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *