Waspada
Waspada » Mihar Harahap, Pergilah Sahabat
Budaya

Mihar Harahap, Pergilah Sahabat

SATU-satu sahabat pergi. Ibarat daun, lepas satu-satu dari tangkainya, rebah ke bumi. Begitulah Allah Subhanahu wa ta’ala menentukan: setiap yang bernyawa menemui kematiannya — Kullu nafsin żā`iqatul maụt. (QS. Ali ‘Imran 185).

Rabu (11/11/20) pagi, sastrawan Sugeng Satya Dharma mengirim pesan WhatsApp ke telepon genggam saya. Isinya mengejutkan: Kabar Duka. Innalillahi wa innailaihi raaji’un. Telah berpulang sahabat kita Mihar Harahap hari ini pukul 09.45.

Kabar duka dari Sugeng itu saya terima sekira satu jam setelah Mihar wafat. Ya Allah, meski kematian itu pasti — setiap mahkluk bernyawa menunggu saatnya — namun rasa kehilangan, duka, serasa petir menyambar daun telinga.

Nama lengkapnya Abdul Rahim Harahap. Namun dalam setiap tulisannya, Rahim Harahap menggunakan nama Mihar (kebalikan dari Rahim). Nama Mihar — yang wafat dalam usia 61 tahun — itulah yang kemudian populer.

Dosen di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan dan mantan Dekan FKIP UISU selama 2 periode ini dikenal sebagai kritikus sastra andal dan Ketua Forum Sastrawan Deliserdang (Fosad). Pekan lalu, saya mendapat kabar Mihar sakit, kesulitan makan. Dari foto, terlihat wajahnya semakin tirus.

 

Kesetiaan Mihar

Saya mengenal Mihar sejak remaja. Sama-sama menulis puisi, cerpen, dan artikel di ruang-ruang remaja koran-koran Medan. Kami sudah saling mengenal nama. Semasa SLTA itu, sekira akhir 1970-an dan awal 1980-an, kami sudah menulis di ruang remaja berbagai di koran Medan. Cerpen saya berjudul “Ayam Jago” bahkan dimuat di ruang Sastra & Budaya Harian Waspada yang saat itu sangat bergengsi dan diisi sastrawan senior.

Pertemuan kami bermula di pangkalan bus Desa Maju di pertigaan Jalan Mandala-Jalan Denai. Rumah Mihar tidak jauh dari situ. Sedangkan saya tinggal di Gang Pancasila, Denai. Setiap mau pergi sekolah, saya menunggu bus di pertigaan itu. Dari pertemuan itu, Mihar mengajak saya melihat latihan Teater Bayangkara yang dipimpin Bang Anggia Putra dan juga ke rumah Bang Sulaiman Sambas — yang tidak jauh dari rumah saya.

Itu awalnya. Berikutnya, bersama Wirja Taufan (Suryadi Firdaus) dan Gunawan Tampubolon (alm), kami sering bertemu dan ikut Dialog Sastra di berbagai tempat. Bergaul dengan para sastrawan senior.

Ketika terjadi pengelompokan penulis muda — Abrakadabra dan Non-Abrakadabra — Mihar mendorong untuk diadakan dialog. Abrakadabra adalah ruang sastra penulis muda di Harian Waspada. Di sini, nama AS Atmadi, Choking Susilo Sakeh, Pangeran Amry, Sugeng Satya Dharma, Karahayon Suminar, Kuntara DM, dan lainnya sudah dikenal.

Sedangkan kami, menulis di Harian Analisa, Mimbar Umum, Bukit Barisan, Sinar Pembangunan, dan lainnya. Pengelompokan itu tajam, terkadang saling merendahkan. Gagasan Mihar untuk mencairkan pengelompokan tersebut disambut teman-teman Abrakadabra.

Pada Juli 1984, diketuai Choking Susilo Sakeh, Pertemuan Penulis Muda se Sumatera Utara pun berlangsung. Sejak itu, kami selalu di Taman Budaya Medan (TBM) berdiskusi tentang sastra dan teater di halaman rumput, sambil melihat remaja-remaja latihan tari. Saat itu, dunia sastra dan teater sedang bergairah.

Omong-omong Sastra hampir setiap dua minggu diselenggarakan dari rumah ke rumah. Dan, kami adalah junior, yang penuh semangat berupaya mensejajarkan diri, membantah apa saja, merasa memahami, meski hanya mengutip sepotong-sepotong pendapat sastrawan nasional– seperti pipi mencoba menyamakan tinggi hidung.

Pada tahun 1983, Mihar, Gunawan, Wirja, dan saya menerbitkan kumpulan puisi Koma — yang melibatkan banyak penyair muda, termasuk Nina Zuliani, Tatan Daniel, dan Laswiyati Pisca.

Saya dan Mihar sudah seperti bersaudara, saling mengunjungi dan aktif dalam setiap diskusi sastra. Saya ingat masa dia pacaran — yang kemudian menjadi istrinya — beberapa puisi cinta lahir semasa itu. Ketika cerpen-cerpen saya didiskusikan di Taman Budaya Medan, Mihar menjadi penanggap. Dia mengkritik karya saya dengan sangat tajam.

Kami selalui menemui para sastrawan, menimba ilmu sebagai pemula. Berdiskusi dengan Bang Damiri Mahmud (alm), Bang BY Tand (alm), Bang Herman KS (alm), dan Bang Sulaiman Sambas. Kami meminjam Majalah Sastra Horison, yang sering lupa mengembalikannya.

Selama hampir sebulan pada Ramadhan 1982, Mihar di kampung saya di Simpang Dolok, Batubara. Dia menikmati suasana perkampungan, naik sepeda melewati lorong-lorong, melirik gadis-gadis desa kami. Beberapa tulisan lahir di sini, termasuk kritik sastra atas karya puisi abang saya, Akhas Taufiks Rokan (alm).

Mihar, Wirja, Gunawan, dan saya seakan berbagi tugas tanpa membuat kesepakatan. Mihar dan Gunawan fokus ke kritik sastra, Wirja Taufan fokus penulisan puisi, sedangkan saya menulis cerpen. Mihar hingga akhir hayatnya setia dengan pilihannya. Begitu juga Wirja, yang puisi-puisi berbahasa Inggrisnya telah mendunia, diterbitkan berbagai komunitas sastra dunia.

Sedangkan saya memilih profesi sebagai wartawan. Silaturahim kami mulai tersendat ketika saya hijrah ke Jakarta pada 1986. Begitu juga Wirja bertugas di Padang. Beberapa tahun belakangan, kenangan menyatukan kami melalui facebook.

Dunia sastra Sumatera Utara kehilangan besar. Mihar tidak saja kritikus sastra yang hebat, tapi juga penggerak. Lelaki yang selalu berpenampilan rapi ini, sangat bersemangat menggelorakan kebangkitan sastra di Sumut. Dia tidak pernah lelah soal ini.

Mihar telah pergi, selamanya. Kematian pasti — tinggal menunggu waktu tiba — namun kehilangan selalu sangat menyedihkan. Menyedihkan sekali.

Ah, Mihar, saat menulis ini, saya merasa mendengar ketawamu yang lepas dan berderai. Hidup seakan meluncur saja, tanpa beban.

Pergilah sahabat, menemui Allah Maha Pencipta, Yang Maha Kekal. Manusia seperti daun, menunggu masa gugur, lepas dari tangkainya — bersama atau satu per satu, sama saja.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melapangkan jalanmu ke Jannatun Na’im. Aamiin Yaa Robbal’Alamiin. *Penulis adalah wartawan senior tinggal di Jakarta.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2