Mengenang Nahum Situmorang

  • Bagikan

Oleh S. Satya Dharma

 
SUDAH 52 tahun dia meninggal dunia. Meninggalkan semua yang dicintai dan mencintainya. Dan selama 52 tahun itu namanya tetap dikenang dan karya-karyanya menjadi abadi.

Dialah Nahum Situmorang, salah seorang seniman Sumatera Utara yang berhasil mengokohkan diri sebagai musisi dan komposer terkemuka di Indonesia. 

“Meski dia suka “nongkrong” di pakter tuak sambil memainkan gitarnya dan menciptakan lagu, tapi dia bukan seorang peminum tuak. Dia lebih suka minum Limun ketimbang Tuak,” ujar Idris Pasaribu, seniman dan wartawan yang sempat mengenal secara dekat Nahum Situmorang.

Kesaksian Idris Pasaribu itu dia sampaikan dalam satu diskusi mengenang Nahum beberapa tahun lalu. Semua yang hadir dalam diskusi itu pun sepakat bahwa Nahum memanglah satu dari sejumlah seniman Sumatera Utara yang berhasil mengukuhkan dirinya dalam peta kesenian Indonesia. Karya-karyanya berhasil menembus blantika musik tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Eropa seperti Belanda dan Jerman.

Karya-karyanya itu bahkan dinyanyikan dan dibawakan dengan macam-macam irama musik, baik pop, keroncong, latin bahkan Jazz.
Harus diakui, karya-karya Nahum, pemusik yang tetap melajang hingga akhir hayatnya ini, memang tidak hanya akrab dengan telinga masyarakat Batak, tapi juga telinga masyarakat dari etnis yang berbeda.

“Musik Nahum adalah musik lintas etnis. Bisa jadi yang bukan orang Batak memang tak mengerti lirik lagunya. Tapi tak seorang pun yang tidak akan menggoyangkan kaki atau jari jemari tangannya ketika mendengar lagu Nahum dinyanyikan,” kata Idris Pasaribu.

Maka, siapapun orang yang memiliki apresiasi cukup baik terhadap karya musik, pasti setuju bahwa Nahum adalah seniman besar yang perlu mendapat penghormatan lebih dari masyarakatnya. Nahum adalah seorang seniman besar yang lahir di tanah Batak dengan talenta dan bakat musik yang luar biasa.

Lahir di Sipirok pada tanggal 14 Februari 1908, Nahum meninggal dunia pada 20 Oktober 1969 dalam usia 61 tahun. Dia meninggal dunia setelah didera sakit yang berkepanjangan dan harus bolak balik dirawat di RSU Pirngadi, Medan. Nahum meninggal dunia dalam sunyi tanpa isteri dan anak, dan hanya mewariskan setumpuk lagu karyanya.

Setidaknya tercatat ada 120 lagu yang diciptakan Nahum dan ada puluhan lagu lain yang tidak tercatat, tercecer entah dimana.
Kini, jelang 52 tahun sejak kepergiannya menghadap sang Maha Pencipta, karya-karyanya masih terus abadi.

Lagu-lagunya dinyanyikan di berbagai tempat oleh para penyanyi dan pemusik generasi baru. Lagu-lagu itu, seperti “Lisoi-Lisoi”, “Leleng”, Mardekdek Mangambiri”, “O Tano Batak”. “Rura Silindung”, “Modom ma Damang Unsok”, “Anakhonhi do Hamoraon di Au” atau “Pulau Samosir”, hingga kini tak hanya dinyanyikan orang di Pakter-Pakter Tuak, tapi juga di hotel-hotel mewah dan di acara-acara resmi kenegaraan.

Setelah lulus HIS, MULO dan SGA di Tarutung, Nahum memang sempat menjadi guru dan mengajar di Tarutung. Namun bakat seni ternyata mengalahkan hasrat pengabdiannya sebagai guru. Apalagi, dalam usia yang masih sangat muda, sekitar tahun 1920-an, dia sudah mulai mencipta lagu.

Lirik-lirik lagu Nahum, seperti kata Idris Pasaribu, pada umumnya berbentuk romansa dan balada. Penuh renungan dan nasehat. Keindahan lirik dan irama itulah yang membuat lagu-lagu Nahum tidak hanya dinyanyikan oleh para penyanyi Batak seperti Gordon Tobing atau Vokal Grup Solo Bolon. Tapi juga oleh Orkes Keroncong Tetap Segar pimpinan alm. Brigjen TNI Dr. Pirngadi.

Menurut Idris, proses kreatif Nahum sendiri berlangsung sangat unik. Nahum tak pernah secara langsung menuliskan lagunya di atas kertas.

“Saya melihat sendiri bagaimana Nahum membuat notasi dengan pentol korek api. Ia susun korek api itu di atas meja sesuai dengan irama yang diinginkannya. Setelah ia rasa pas, barulah ia tuliskan notasi itu di atas kertas bekas bungkus rokok,” kata Idris.

Selama hidupnya, Nahum Situmorang sering pula berpindah-pindah tempat tinggal. Selain di Sipirok, dia juga pernah menetap di Tarutung, Sibolga, Samosir, Medan, Depok, Parapat bahkan Bandung. Namun akhirnya dia meninggal dunia di Medan dan dimakamkan di TPU jalan Gajah Mada. Di pekuburan itu, walau sempat diberi penghargaan oleh pemerintah RI, Nahum tampak sangat kesepian.

Tak banyak orang yang menziarahi makamnya.
Dulu, dari jalan raya, orang masih bisa melihat di kompleks pemakaman umum Gajah Mada dimana terkubur jasad seorang seniman besar bernama Nahum Situmorang. Tapi kini tak ada lagi yang bisa melihatnya karena terhalang tembok tinggi. Ah…..  (*)
 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.