Waspada
Waspada » Marah Halim Harahap
Budaya

Marah Halim Harahap

Catatan Budaya Waspada

KALAU ada Gubernur Sumut yang tak pernah sunyi dari kenangan, mungkin Marah Halim Harahap-lah orangnya. Selama lebih dari 10 tahun menjabat sebagai Gubernur, 31 Maret 1967 s/d 12 Juni 1978, Marah Halim meninggalkan banyak sekali jejak kebaikan.

Marah Halim hanyalah seorang Kolonel TNI saat pertama kali menjabat Gubernur Sumut. Tapi seiring tugas  pemerintahan yang dijalankannya, anak Tabusira – sebuah kampung kecil di antara Padang Sidimpuan dan Sipirok di Tapanuli Selatan ini –  sukses meraih dua bintang di pundaknya hingga ia pensiun sebagai Mayor Jenderal TNI dalam karir militernya.

Lahir pada 28 Februari 1921, Marah Halim meninggal dunia pada 3 Desember 2015 dalam usia 94 tahun. Tak terasa, sudah lima tahun Gubernur Sumatera Utara yang paling banyak membuat terobosan positif demi pembangunan Provinsi Sumatera Utara ini telah pergi.

Sesungguhnya tak hanya di kalangan atlet dan penggila sepakbola Marah Halim patut dikenang. Dia memang pencetus dan pelopor satu-satunya turnamen sepakbola akbar yang pernah ada di Medan, dan menjadi kalender FIFA, Mahal Cup. Tapi di kalangan seniman beliau juga dicatat sebagai satu-satunya gubernur dengan apresiasi seni yang luar biasa.

Di masa Marah Halim Harahap-lah Sumut punya Studio Film di Sunggal dan gedung kesenian Tapian Daya di Jalan Gatot Subroto. Marah Halim adalah motor dari pembangun sejumlah fasilitas kesenian itu. Sayang, pada perkembangannya kemudian, pasca ia tak lagi menjabat, beberapa fasilitas seni budaya itu, Studio Film Sunggal misalnya, raib entah ditilep siapa.

Marah Halim Harahap adalah seorang petani biasa di kampung Tabusira. Ia hanya lulusan Sekolah Rakyat. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke MULO tak pernah kesampaian karena keterbatasan ekonomi orangtuanya.

Namun dari tangan anak Kampung yang hanya Sekolah Rakyat itulah matahari cermerlang pembangunan Sumatera Utara mulai dipancarkan ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya lewat sepakbola, tapi juga lewat seni budaya dan pariwisata.

“Hanya di masa Marah Halim Harahap-lah para gubernur se-Indonesia segan dengan Sumatera Utara,” aku mantan Gubsu Tengku Erry Nuradi saat melepas jenazah Marah Halim ke pemakamannya.

Bagaimana Marah meniti karir militernya, sudah banyak dituliskan orang. Pun bagaimana ia, sebagai gubernur berhasil membangun sebuah turnamen sepakbola bertaraf Internasional, sudah banyak jurnalis yang mengulasnya.

Sayang, tak banyak catatan yang bisa dibaca bagaimana Marah Halim bisa sebegitu dekatnya dengan para seniman hingga ia bersedia membangunkan Tapian Daya dan mendirikan Studio Film di Sunggal.

Sampai hari ini tak ada catatan yang pasti bagaimana lobi-lobi para seniman itu bisa dilakukan hingga Marah Halim bersedia membangunkan mereka tempat melakukan aktivitas kesenian bernama Tapian Daya.

Satu tempat yang kala itu tentulah merupakan fasilitas berkesenian yang sangat mewah. Tak ada pula notulensi rapat-rapat yang bisa dibuka. Kalaupun ada, siapa pula yang menyimpannya?

Mungkin, karena tak ada catatan otentik itu pula mengapa Studio Film di Sunggal, yang merupakan salah satu legacy terbaik Marah Halim, akhirnya “lewat”. Hilang raib begitu saja tanpa jejak.

Padahal di studio itu, selain lahan dan gedungnya, ada juga sejumlah alat-alat produksi untuk sebuah film. Tapi kini tak hanya lahan dan gedungnya, alat-alat produksi film itu pun entah ke mana rimbanya.

Benar, Marah Halim lebih memilih anak Sumut kalah dalam hal lainnya, asal jangan PSMS yang kalah dalam main bola. Tapi itu tidak berarti ia hanya mengurusi bola saja. Terbukti Marah Halim meninggalkan banyak sekali kenangan baik untuk warga Sumatera Utara. Jika Soeharto adalah bapak pembangunan Indonesia, Marah Halim adalah bapak pembangunan Sumatera Utara.

Marah Halim pulalah Gubernur Sumut yang pertama mengawinkan sepakbola dengan pariwisata. Saat pertama kali menggelar Mahal Cup, ia minta pengusaha TD Pardede untuk membangun hotel berkelas di Medan dan Parapat. Tujuannya, agar tim tamu yang berlaga di Marah Halim Cup dan wisatawan lainnya merasa nyaman ketika berada di Medan dan bisa menikmati panorama Danau Toba.

Marah Halim juga mewajibkan semua kabupaten di Sumatera Utara agar mempunyai satu stadion sepakbola. Targetnya agar pemain-pemain terbaik dari kabupaten-kabupaten itulah yang kelak direkrut untuk memperkuat PSMS agar berkokok lebih nyaring di kancah sepakbola nasional dan internasional.

Terlalu banyak sesungguhnya catatan baik tentang Marah Halim Harahap untuk dicatat di kolom yang kecil ini. Sebuah catatan baik yang mungkin saja tak akan pernah bisa disamai oleh Gubernur Sumut saat ini maupun di masa-masa nanti. Ah……. (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2