Waspada
Waspada » Macron
Budaya

Macron

Hebatnya Anies

PERSIS seperti film-film mafia ala Prancis, Macron itu bajingan berwajah bayi. Dingin. Tanpa ekspressi. Bahkan ketika jutaan umat muslim di dunia bereaksi keras atas ucapan dan tindakannya, dia tetap tak merasa bersalah. Bebal, membela diri.

Adalah mingguan Charlie Hebdo yang memulai semuanya. Majalah pemuja skularisme itu merilis gambar kartun Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam di halaman depannya.

Macron, atas nama kebebasan berekspressi, tak hanya merestui apa yang dilakukan Charlie Hebdo itu. Dia bahkan membiarkan gambar kartun yang menghina Nabi Muhammad itu ditampilkan di dinding dua kantor pemerintahan di Prancis, Toulouse dan Montpellier, dengan menggunakan proyektor.

Bukan sekali ini Charlie Hebdo menyinggung dan memprovokasi umat Islam. Tahun 2015 majalah yang menentang hak istimewa para imam dalam agama itu juga melakukan hal yang sama. Majalah itu membuat dan mempublikasikan kartun yang menghina Nabi Muhammad, orang paling dihormati oleh pemeluk agama Islam.

Tampaknya itulah satu-satunya cara majalah ini jadi terkenal. Yakni menghina tokoh yang paling dimuliakan oleh pemeluk agama dengan jumlah penganut hampir 2 milyar jiwa ini. Mayoritas kru Charlie Hebdo memang atheis, agnostik, dan sekularis.

Pada 2 September 2020 Charlie Hebdo kembali menerbitkan karikatur Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Kali ini malah di sampul depannya. Ironisnya Pemerintah Prancis, atas nama kebebasan berekspresi, mendukung ulah majalah tersebut.

Naas, pameran “kartun penghinaan” terhadap Nabi Muhammad itu, berujung tewasnya Samuel Paty, guru sejarah di salah satu sekolah di Paris. Paty tewas setelah mengajar materi kebebasan berekspresi dengan menjadikan kartun penghinaan itu sebagai contoh. Seorang muridnya yang tersinggung dan marah, kontan menghabisinya.

Macron, tanpa peduli dengan apa yang menjadi sebab musabab tewasnya sang guru, langsung saja menyebut pembunuhan itu sebagai bentuk serangan dari teroris Islam. Ketakutannya atas kebangkitan Islam di Prancis, membuatnya menutup mata atas penyebab marahnya sang murid. Macron seolah meniup bara api Islamophobia yang sudah lama melanda negara itu.

Dampak tiupan bara api Macron langsung berbuah. Gelombang Islamophobia meluas di negeri yang diagung-agungkan sebagian orang sebagai berkebudayaan tinggi itu. Bahkan, tak perlu menunggu lama, peristiwa pembantaian terhadap muslim di Prancis pun terjadi. Yang terbaru adalah penusukan dua orang muslimah di bawah menara Eiffel. Keduanya dianiaya hanya karena mereka muslimah dan berhijab.

Ketakutan Macron dan sebagian warga Prancis yang skuler terhadap bangkitnya Islam di negara itu bisa jadi dikarenakan populasi pemeluk Islam di Prancis dari tahun ketahun meningkat pesat.

Pada tahun 2017 saja pupolasi pemeluk Islam di negara itu sudah mencapai 8,8% dari total warga Prancis. Ini membuat umat Islam menjadi kelompok minoritas terbesar di negara tersebut.

Pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di Prancis itu rupanya membuat panik ororitas di negara warisan Napoleon Bonaparte itu. Sebagai akibatnya, kondisi Muslim Prancis sering mendapat perlakukan diskriminatif.

Muslim di Prancis seringkali digeneralisir dan disimplifikasi. Di negara yang katanya berperadaban maju itu, bukan hal yang aneh jika penggunaan Jilbab dilarang dan setiap orang Islam dianggap teroris.

Macron atau siapapun yang mengagung-agungkan kebebasan dalam hidupnya, agaknya lupa bahwa di sebalik kebebasan yang menjadi hak azasinya itu, ada hak azasi orang lain yang harus dihormatinya. Dalam kebebasan yang dianutnya itu ada kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lainnya.

Maka, melihat Macron adalah seperti melihat orang dungu. Seperti yang dikatakan mantan Mufti Besar Mesir Syeikh Ali Jum’ah, “Orang yang menggambar dan menistakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam adalah orang dungu. Anaknya orang dungu dan orangtuanya adalah orang dungu yang telah gagal mendidiknya…”

Tapi bangsa Eropa, sejak dulu, memang selalu merasa superior. Merasa paling mulia dibanding manusia manapun di dunia ini. Begitu merasa mulianya mereka sampai-sampai tak ada lagi tempat di hati mereka untuk merasakan betapa sakitnya dihina dan dinista. Itulah salah satu sebab mengapa orang Eropa gemar sekali menjajah bangsa lainnya…….(*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2