M. Yatim Mustafa: Dengan “Roh” Membangun Komunitas Pelukis Realis di Sumatera Utara
Oleh: Perisai Aqidah Mukmin

  • Bagikan


 
 
DI Medan, Sumatera Utara, tak banyak seniman seperti lelaki kelahiran 23 Desember 1957 ini. Dia tak hanya berkarya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kehidupan banyak orang. Sejak akhir tahun 80-an hingga hari ini, kepada puluhan anak muda dia ajarkan cara menghadapi tantangan hidup melalui lukisan.

Lelaki itu, dialah Muhammad Yatim Mustafa, seorang pelukis realis terkemuka di Sumatera Utara yang telah berhasil melahirkan puluhan pelukis realis melalui Sanggar Rowo yang didirikannya pada Februari 1988, di sebuah tanah kosong bekas rawa-rawa di kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang.

Memperdalam gaya melukis realis dengan salah seorang pelukis kenamaan Indonesia, Dullah, lelaki yang lahir di Medan ini bahkan belajar secara khusus dengan Dullah selama enam tahun sejak meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Jawa maupun di Bali.

Merasa tak cukup,  dia pun memperdalam pemahaman seni lukis realis dengan mempelajari beberapa karya maestro senilukis dunia di sejumlah museum di Eropa, di antaranya D-Orse dan Lofre di Prancis. Dia sempat pula menetap dan berpameran di Singapura dan di Malaysia.

Sepulang dari Bali itulah M. Yatim Mustafa mendirikan Sanggar Rowo di rumah kediamannya, Dusun III B, Desa Limau Manis, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Sampai beberapa tahun lalu, di Sanggar Rowo yang terletak persis di belakang rumahnya itu, M. Yatim mendirikan gubuk-gubuk kecil tempat anak-anak muda itu belajar melukis. Beberapa dari anak muda itu bahkan tidak hanya tinggal dan menetap di situ. Tapi juga makan dan tidur di Sangar itu. Setiap saat mereka bergulat dengan kanvas, kuas dan cat.

Di Sanggar Rowo pula M. Yatim tidak hanya melatih anak-anak muda yang berminat terhadap senirupa, tapi juga menumbuhkan apresiasi pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang menaruh perhatian terhadap kesenian.

Sejak tahun 1990, Sanggar Rowo yang didirikannya itupun berubah menjadi tempat belajar para pelukis muda yang datang tidak hanya dari Medan, tapi juga dari Aceh dan kota-kota lainnya di Sumatera Utara. Bahkan ada pula yang datang dari Jawa.

Maka, kalau hari ini M. Yatim Mustafa dikenal sebagai seorang seniman lukis terkemuka dari Deliserdang yang namanya sudah dikenal luas di dunia seni lukis Indonesia, hal itu tidak mengherankan.

Selama keberadaannya di Deliserdang, harus diakui M. Yatim Mustafa memang telah melahirkan banyak pelukis muda melalui pelatihan melukis yang diberikannya secara cuma-cuma kepada siapapun yang ingin belajar di sanggarnya.

Harus diakui, melalui Sanggar Rowo jasanya terhadap kehidupan kesenian di Deliserdang, khususnya di bidang senirupa, tak boleh dibilang kecil.

Sejumlah pelukis realis di Deliserdang dan Sumatera Utara adalah anak didiknya. Atas dedikasi dan kepeduliannya terhadap pembangunan seni budaya itulah M. Yatim, pada tahun 2018, menjadi salah seorang seniman yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Deliserdang sebagai seniman penggerak literasi budaya.
 
Tak Hanya Melukis
Di Sanggar Rowo, anak-anak muda penyuka seni itu tidak hanya belajar melukis, tapi juga hidup bersama dan membangun komunitas sebagai pelukis yang sama-sama menekuni seni lukis bergaya realis dan naturalis.

Dan M. Yatim, dengan penuh kesabaran mendidik dan melatih anak-anak muda itu hingga menjadi pelukis-pelukis yang hari ini mewujud sebagai pelukis-pelukis realis di Sumatera Utara.

Bagi Yatim, yang mengusung kredo “melukis tidak sekedar membuat gambar” itu, mendidik dan melatih pelukis muda adalah sebuah kegiatan apresiatif yang mendatangkan kepuasan tersendiri. Terlebih setelah anak-anak muda didikannya itu berhasil menorehkan jejak masing-masing sebagai pelukis berbakat dan dikenal luas di masyarakat.

Nama-nama pelukis realis yang kini dikenal di Sumatera Utara seperti Bambang Triyogo, Cecep Priyono, Hardiman Wisesa, Mulyadi, Ary Darma, Herdy An, Saliman, Eko Cahyo, Didi Priadi, Farah, Risma Siahaan, Beringin Simamora, Ilma, April Husni, Budiani, Dai Lubis, Iwan Vero, dan banyak lagi lainnya, adalah sejumlah nama pelukis realis naturalis Sumatera Utara yang pernah belajar dan menuntut ilmu melukis di Sanggar Rowo, di bawah asuhan M. Yatim. Nama-nama itu sampai sekarang masih tetap melukis dengan gaya realis dan sebagian besar menghidupi dirinya dari melukis.

Kini para pelukis muda didikan M. Yatim bahkan menyebar ke berbagai daerah dan mendirikan Sanggar-Sanggar lukisnya sendiri. Mereka tidak hanya mengembangkan kemampuan melukisnya secara individu dengan melukis alam dan potensi budaya di Sumatera Utara, tapi juga membangun komunitas besar pelukis-pelukis realis di Sumatera Utara.

Komunitas pelukis realis jebolan Sanggar Rowo itu, kini makin berkembang setelah anak-anak didik M. Yatim membangun pula komunitas para pelukis realis di daerah masing-masing. Sehingga komunitas para pelukis realis ini membentuk satu jaringan besar pelukis realis naturalis yang nama-namanya cukup dikenal di Sumatera Utara.

M. Yatim sendiri, sebagai murid Dullah, adalah satu dari sedikit pelukis Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara dengan kesetiaan dan dedikasi berkesenian yang tak disangsikan lagi. Melalui Sanggar Rowo, M. Yatim Mustafa melahirkan banyak pelukis berbakat yang eksistensinya diakui. Anak-anak didiknya bahkan ada yang sudah mengikuti berbagai pameran lukisan, baik pameran tunggal maupun pameran bersama di tingkat Nasional maupun Internasional.

Meski begitu, M. Yatim mengaku belum merasa puas. “Kepuasaan saya adalah bila saya bisa lebih banyak lagi berbagi kepada orang lain,” katanya. “Tidak hanya dalam soal ilmu melukis, tapi juga dalam membangun keseimbangan di dalam melakoni kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Dengan metode pembelajaran dan pelatihan senirupa yang didasarkan pada pengalaman masing-masing orang, yang diperolehnya dari pelukis Dullah, M. Yatim Mustafa menerapkan pola pendidikan melukis yang sama pada anak-anak didiknya di Sanggarnya.

Ia tak meminta anak-anak asuhnya menggambar, tapi menuliskan kesan intrinsik yang menjadi pengalaman sehari-hari mereka di atas kanvas. Baginya lukisan adalah puisi tanpa kata, sedang puisi adalah lukisan tanpa gambar.

Dalam dunia seni lukis Indonesia, nama M. Yatim Mustafa sendiri sudah sangat dikenal dan sering diikutsertakan dalam berbagai pameran seni lukis yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional. Misalnya dalam Pekan Kebudayaan Nasional tahun 2020 di Jakarta dan Pameran Bienalle di berbagai kota besar Indonesia. Juga dalam pameran bersama di Singapura tahun 2009, dan di Malaysia pada tahun 2018.

M. Yatim Mustafa saat memberi pelajaran melukis pada masyarakat umum, mahasiswa dan pelajar di salah satu Hotel di Medan. Waspada/ist

Pada tahun 2021 dan 2022, karya-karyanya diikutsertakan pula dalam bursa lelang internasional. Di antaranya pada lelang 33 Auction pada tanggal 3 Oktober 2021 di Shangri-La Hotel Jakarta dimana karya berjudul “Light at The End of The Tunnel” berhasil terjual. Setidaknya, dalam tiga kali keikutsertaannya dalam bursa lelang internasional di Jakarta, tiga lukisannya laku terjual. Yang terakhir adalah lukisannya yang berjudul “Light of Luck” terjual dengan harga Rp.90 juta dalam bursa lelang di Rich Carlton Hotel, jakarta.

Selama masa karirnya sebagai pelukis, M. Yatim Mustafa mengaku sudah melukis ribuan lukisan yang menggambarkan tentang keindahan alam dan budaya.

Lukisan-lukisannya telah pula dikoleksi banyak orang dari dalam dan luar negeri. Banyak dari karyanya saat ini bisa dilihat di berbagai Galeri, di antaranya di Linda Galeri, Jakarta.
M. Yatim menyebut, sebuah karya seni, apapun bentuknya, akan menemukan jalannya sendiri. Itulah yang terjadi pada lukisan-lukisan karyanya yang terjual di bursa lelang internasional itu.

Lukisan karya M. Yatim memang tidak lahir hanya dari ide dan proses imajinasi yang serius, tapi juga melalui proses kurasi yang panjang hingga bisa disejajarkan dengan deretan karya para pelukis kenamaan di Indonesia.

Bagi M. Yatim, proses kreatif dalam menghasilkan sebuah lukisan adalah penting. “Kita harus menemukan lebih dulu “roh” dari karya yang ingin kita buat. Kalau tidak kita hanya sekedar memindahkan objek lukisan ke atas kanvas. Roh itu adalah serangkaian nilai-nilai yang bisa kita sampaikan pada penikmat karya kita lebih dari sekedar gambar di atas kanvas,” katanya.

Kini M. Yatim sedang menyiapkan sejumlah lukisannya untuk pameran di Singapura dan Jepang. “Sudah lama tawaran itu datang. Tapi saya tak bisa memenuhinya dengan cepat karena saya tidak mau membuat karya yang asal jadi,” kata lelaki yang selain melukis juga menjadi restorator, kurator dan anggota balai lelang internasional ini. (*)
 
 


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.