KEBERAGAMAN budaya Aceh kembali mendapat panggung dalam ajang Lomba Seumapa yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh di Kota Langsa, Sabtu (7/9).
Bertempat di Lapangan Merdeka, acara yang dihadiri ribuan pengunjung ini mengambil tema “Pesona Pesisir Timur Aceh,” dan sukses menarik perhatian banyak kalangan, mulai dari anak muda hingga para seniman tradisional.
Lomba Seumapa tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena lebih mengedepankan pesan-pesan yang terkait dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Dalam balutan syair-syair indah dan bergaya pantun, para peserta mengekspresikan kekayaan alam serta kearifan lokal yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya pesisir Aceh, terutama di kawasan Timur seperti Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa Drs H Mursyidin Budiman memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan tersebut.
Dia mengatakan, kegiatan lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali tradisi lisan yang mulai memudar di kalangan generasi muda.
“Seumapa adalah cermin kebijaksanaan orang Aceh. Lewat pantun dan syair, kita bisa menyampaikan pesan moral, nilai budaya, bahkan kritik sosial. Acara ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya,” tuturnya.
Tema “Pesona Pesisir Timur Aceh” dipilih karena wilayah ini menyimpan sejarah panjang tentang kebudayaan maritim yang masih sangat relevan hingga hari ini.
Dalam banyak penampilan, peserta lomba menyentuh berbagai topik seperti kehidupan nelayan, keindahan alam pantai, serta adat istiadat yang berlaku di sepanjang pesisir.
Para peserta dari berbagai daerah di pesisir timur Aceh ikut ambil bagian dalam lomba ini. Tiap peserta menyampaikan pesan keindahan alam pesisir timur Aceh dalam bahasa pantun dengan format Seumapa.
Para peserta tidak hanya dinilai dari segi keindahan syair, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk menyampaikan pesan dengan cara yang santun namun penuh makna.
Salah satu peserta, Reza Afzal, yang berasal dari Aceh Timur, mengaku bangga bisa ikut serta dalam lomba ini.
“Lewat Seumapa, saya bisa menyampaikan rasa cinta saya terhadap Aceh, khususnya pesisir timur yang kaya akan alam dan tradisinya. Ini kesempatan yang langka dan sangat berharga,” ujarnya.
Selain lomba, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian tradisional Aceh, pameran kerajinan lokal, serta kuliner khas pesisir, yang menambah semaraknya suasana.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari ramainya penonton yang memadati lapangan Merdeka Langsa sejak Jumat malam (saat pembukaan) hingga Minggu siang dan diperkirakan sampai malam sebelum penutupan.
Kegiatan lomba Seumapa ini merupakan bagian dari rangkaian program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk melestarikan warisan budaya tradisional.
Diharapkan lomba semacam ini bisa menjadi ajang tahunan yang lebih besar lagi, dengan melibatkan lebih banyak daerah dan memperluas partisipasi masyarakat.
“Langsa sebagai salah satu kota di pesisir timur Aceh memiliki potensi budaya yang luar biasa. Seumapa hanyalah satu dari sekian banyak tradisi yang perlu terus dijaga dan diperkenalkan ke generasi selanjutnya. Kami berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memberikan pendidikan budaya bagi semua yang hadir,” kata Wali Kota Langsa dalam sambutannya pada acara pembukaan.
Dengan tema “Pesona Pesisir Timur Aceh”, lomba Seumapa ini berhasil menyuguhkan gambaran bahwa budaya lokal Aceh, terutama di wilayah pesisir, masih memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya adalah aset tak ternilai yang perlu terus dirawat dan dilestarikan.
Lomba Seumapa di Kota Langsa ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Aceh, khususnya Seumapa, tetap hidup dan relevan.
Pesan-pesan yang disampaikan melalui pantun dan syair tak hanya menghibur, tetapi juga memberi pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan masyarakat pesisir Aceh yang kaya akan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Acara ini tidak hanya membangkitkan semangat pelestarian budaya, tetapi juga menjadi jembatan bagi generasi muda untuk terus mencintai dan menjaga warisan nenek moyang mereka.
Pesona pesisir timur Aceh, dengan segala kekayaannya, tak lagi hanya menjadi cerita, tapi dihidupkan kembali melalui syair dan suara yang bergema di panggung Seumapa.
Ibnu Sa’dan
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.