Waspada
Waspada » Kota Lama Semarang Masuk Cagar Budaya Nasional
Budaya

Kota Lama Semarang Masuk Cagar Budaya Nasional

Penyerahan SK tentang penetapan Kota Lama Semarang sebagai Cagar Budaya Tingkat Nasional oleh Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid, Rabu (19/8)

JAKARTA (Waspada): Kawasan Cagar Budaya Kota Semarang Lama ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 682/P/2020 tentang Kawasan Cagar Budaya Kota Semarang Lama sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional.

“Keputusan ini mengacu kepada rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya Nasional,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid, Rabu (19/8).

Penetapan diharapkan menjadi kekuatan dan landasan berpijak dalam pengelolaan Kawasan Kota Semarang Lama ini ke depan, baik fisik maupun nonfisik.

Kota Semarang Lama telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah nusantara, bagian dari jalur rempah.

Penanganan cagar budaya perkotaan dan warisan takbenda akan berperan sebagai katalisator pembangunan sosial-ekonomi dan budaya.

“Berbagai aktifitas dan pemberdayaan warisan budaya serta masyarakat pendukungnya, akan melibatkan berbagai sektor pemangku kepentingan,”ujar Hilmar.

Ditambahkannya, dalam pengelolaan dan pelestariannya diperlukan untuk mempertahankan eksistensi Kawasan Kota Semarang Lama. Keterpaduan segala aktifitas menjadi barometer pembangunan perkotaan bersejarah dan menjadi salah satu bagian dari upaya yang dilakukan yakni Pemajuan Kebudayaan.

“Apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang beserta jajarannya serta kepada Tim Ahli Cagar Budaya Nasional atas dukungan dan kerja keras sehingga Kawasan Cagar Budaya Kota Semarang Lama dapat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional,” tandasnya.

Wakil Walikota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan, Kota Semarang Lama terdiri dari 4 (empat) situs yang mewakili perjalanan sejarah Kota Semarang sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-20.

Empat situs tersebut adalah Kampung Kauman, Kampung Melayu, Kampung Pecinan, dan Oudestad. Luas kawasan sebesar 70.07 Ha terdiri dari Kampung Melayu seluas 6.89 Ha, Kampung Kauman seluas 15.49 Ha, Kampung Pecinan seluas 18,99 Ha, dan Oudestad seluas 28,70 Ha. Kampung Kauman merupakan permukiman muslim di mana terdapat Masjid Kauman, merupakan pengganti Masjid Semarang yang telah terbakar.

Kampung Melayu merupakan permukiman masyarakat Melayu yang berkembang sebelum keberadaan Benteng de Viifhoek, benteng VOC pertama yang dibangun pada akhir abad ke-17. Kampung Pecinan terbentuk sebelum Oudestad. Pemusatan permukiman orang-orang Cina dilakukan setelah terjadi Geger Pecinan pada 14 Juni sampai 13 November 1741 di Semarang. Tujuan pembentukan Kampung Pecinan sebagai upaya pembangunan sistem pertahanan dan perlindungan terhadap kepentingan VOC.

Oudestad merupakan Europeschebuurt atau tempat tinggal orang Eropa. Situs ini meliputi jaringan jalan raya, rel kereta api, pelabuhan termasuk Menara pengawas, mercusuar, kantor syahbandar, anjungan penumpang atau peron, dan pabean. Pada Oudestad juga terdapat Gedung pemerintahan, perkantoran dagang, keuangan, pabrik, bengkel, dan pergudangan berskala besar.

Keempat situs menjadi cikal bakal perkembangan Kota Semarang akibat dari kedatangan para pedagang asing mulai dari orang Arab, Melayu, Cina, hingga Belanda. Persilangan budaya tampak jelas dalam bentuk tata kota, bangunan secara fisik, dan atraksi budaya. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2