Waspada
Waspada » Keris Pangeran Diponegoro Kini Ada Di Museum Nasional
Budaya

Keris Pangeran Diponegoro Kini Ada Di Museum Nasional

Keris dan sejumlah pusaka milik Pangeran Diponegoro dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta dalan ajang Pekan Kebudayaan Nasional 2020, 31 Oktober sampai 30 November 2020.

JAKARTA (Waspada): Masih dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Museum Nasional menggelar Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro bertajuk “Pamor Sang Pangeran”.

Pameran ini menyajikan sosok Pangeran Diponegoro dalam bentuk kekinian yang disuguhkan melalui storytelling dengan media video mapping.

Salah satu yang paling ikonik adalah keris sang pangeran, bernama Kanjeng Kiai Nogo Siluman.

Mulai 31 Oktober sampai 26 November 2020, masyarakat dapat melihat langsung keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro.

Sebelum tiba pada awal tahun ini, keris pusaka sang Ratu Adil ini tersimpan selama 137 tahun di Museum Volkenkunde, Leiden juga sempat di Koninklijk Kamer van Zeldzaamheden (Koleksi Langka dan Istimewa Kerajaan) di Den Haag.

Ini adalah kali ketiga pengembalian pusaka sang pangeran dari negeri Belanda. Sebelumnya, pusaka tombak Kanjeng Kiai Rondhan, pelana kuda Kanjeng Kiai Gentayu, dan payung kebesaran Diponegoro (payung berlapis prada) telah dikembalikan pada 7 Oktober 1977, kemudian tongkat Kanjeng Kiai Cokro kembali ke Indonesia pada 5 Februari 2015. Sejak kedatangan kembali keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman ke tanah air, ini kali pertama keris tersebut tampil di depan publik

Kepala Museum Nasional, Siswanto mengatakan, pusaka-pusaka Pangeran Diponegoro yang dipamerkan ini menemani pangeran dengan setia saat Perang Jawa berlangsung dan memiliki kedekatan secara spiritual dengan sang pangeran.

Empat pusaka sang pangeran dibawa Belanda sebagai rampasan perang, sedangkan Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman adalah keris pemberian Diponegoro kepada Kolonel Jan Baptist Cleerens, yang di kemudian hari mengkhianati kepercayaan Diponegoro, dan keris dijadikan sebagai bukti kemenangan Belanda. Lima pusaka Pangeran Diponegoro akhirnya kembali ke tanah air dalam tiga kurun waktu: 1977, 2015 dan 2020.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan, pameran ini adalah gambaran eksplisit semangat juang Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

“Pada masa pandemi seperti sekarang, pameran ini diharapkan menjadi alternatif hiburan yang edukatif bagi masyarakat Indonesia. Kehidupan dan perjuangan Pangeran Diponegoro juga dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter bangsa serta semangat berjuang dalam menghadapi pandemi covid-19,” kata Hilmar,kemarin.

Pandemi dan pameran ini memberi kesempatan bagi kita untuk mengalami sebuah revolusi mental tentang bagaimana cara hidup berkesinambungan dengan alam di bumi ini serta bagaimana membaca alam dan zaman yang berubah seiring waktu.

“Selain itu juga sebagai sebuah renungan untuk meresapi “the wisdom of a simple man” seperti Sang Pangeran sendiri,” imbuhnya.

Pameran ini didukung oleh Sekretariat Presiden, Perpustakaan Nasional RI, Indonesian Heritage Society, Rijksmuseum, Perpustakan Universitas Leiden dan para pelukis “Babad Diponegoro”. Pameran ini menjadi pameran temporer “percontohan” dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat bagi para pengunjung, sebagai bentuk sosialisasi penerapan protokol kesehatan bagi pengunjung dan pekerja museum. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2