Kekuasaan

  • Bagikan

Oleh S. Satya Dharma

Kekuasaan, dimanapun, memang suka berlebihan. Tak hanya mewujud dalam bentuk sebilah pedang, acapkali kekuasaan itu mempersonifikasikan diri sebagai kepanjangan tangan Tuhan. Bejana sejarah penuh oleh catatan soal itu.

Al-Hallaj dipancung. Syekh Siti Jenar, Socrates, Galileo, pun demikian nasibnya. Para pencari kebenaran sejati itu dipaksa bertekuk lutut oleh kekuasaan dari jenis makhluk yang sama dengan mereka; manusia.

Kekuasaan, di muka bumi ini, memang seringkali melebih-lebihkan dirinya hingga mengambil alih hak Tuhan. Karena itu, kekuasaan seringkali pula tak merasa perlu dukungan mayoritas jika dengan dukungan minoritas saja ia bisa melakukan apapun yang diinginkan. Jadi, tak aneh kalau kekuasaan menjadi buta, tuli dan kehilangan nilai intrinsiknya.

Sepanjang sejarah kehidupan, sudah terlalu banyak cerita tentang kekuasaan yang buta, tuli dan kehilangan nilai itu. Kekuasaan makhluk yang justru menjadi teror bagi makhluk lainnya.

Dalam khazanah sufisme, Al Hallaj adalah contoh terunik dari wujud kekuasaan yang buta dan tuli itu. Al Hallaj tetap saja dirajam dan dipancung meski sebagian dari para sufi ragu-ragu dengan keputusannya. Sebab, bisakah keyakinan dihukum dan diadili? Hal yang sama masih sering terjadi saat ini, di negeri ini.

Asy-Syibli contohnya. Ia sesungguhnya tak begitu yakin Hallaj bersalah. Toh demi memenuhi hasrat kekuasaan, Syibli ikut melemparkan sekepal tanah ke wajah Hallaj. Dari sekian banyak lemparan, justru lemparan Syibli itulah yang membuat Hallaj mengeluh.

 “Aku tidak mengaduh karena lemparan batu dari orang-orang yang tidak mengetahui itu. Aku mengeluh karena sekepal tanah itu justru dilemparkan ke wajahku oleh Syibli, orang yang mengetahui,” keluh Hallaj.

Kisah Hallaj, Syekh Siti Jenar, Galileo, Socrates dan banyak lagi yang lain, adalah tragedi kemanusiaan sepanjang abad atas nama dan oleh sebab yang sama; yakni kekuasaan yang melebihi batas. Dan sejarah membuktikan, dalam setiap kali terjadi klaim yang berbeda atas kebenaran, maka para pemegang kekuasaanlah yang  memenangkan pertarungan.

 Al Hallaj, Siti Jenar, Socrates, Galileo adalah tragedi besar kemanusiaan sepanjang abad ketika pikiran merdeka harus berhadap-hadapan dengan pemegang kekuasaan dengan pedang tajam terhunus di tangan.

Seperti sudah saya singgung, dalam bentuk, kapasitas dan versi yang berbeda, tragedi kemanusiaan semacam itu masih terus terjadi di berbagai belahan dunia ini, bahkan hingga sekarang.

Malah, di negeri ini, “ijtihad ulama” dan ajakan kembali ke jalan kebenaran, seringkali justru diperangi karena dianggap “menyimpang” dari jalan kebenaran yang diyakini penguasa.

Tak jarang, ketika ada seseorang atau sekumpulan orang mencoba berijtihad, memberi tafsir baru terhadap gejala buruk yang berlangsung dan berkembang dalam kehidupan bangsa dan negaranya, kekuasaan dalam berbagai tingkatan dan posisinya seringkali mengambil over upaya itu dengan mem-fait accomply duduk soalnya.

Dan kekuasaan yang demikian itu seringkali tak membutuhkan argumen pembenar untuk setiap tindakan yang diambilnya.

Di negeri ini, dalam tingkat dan level yang berbeda-beda, wujud kekuasaan yang demikian itu masih terus berlangsung. Tak hanya di pusat pemerintahan negara, tapi juga di daerah-daerah. Tak hanya di lingkungan penyelenggara pemerintahan, tapi juga di lingkungan kehidupan masyarakat awam.

Fitnah dan pendzaliman masih terjadi dimana-mana. Seringkali atas nama stabilitas dan toleransi, fitnah dan pendzaliman itu berlangsung tak terkendali. Seakan jalan musyawarah telah tertutup rapat. Seolah pintu dialog sudah terkunci mati. Hari ini, situasi itu diperparah oleh fasilitas media sosial yang tanpa batas dan tak terkontrol.

 Ah, entahlah apa yang sedang direncanakan Allah sang Maha Pembuat Makar terhadap manusia di dunia ini. Yang pasti, ketika kekuasaan telah mengunci pintu ijtihad dengan rapat, ketika pemegang otoritas kebenaran telah menutup jalan musyawarah dan mufakat, lantas apalagi yang bisa kita harapkan? Allah, ampunilah kami. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.