Waspada
Waspada » Investasi
Budaya

Investasi

 INVESTASI tak selalu membawa keberuntungan, tapi juga penderitaan. Bacalah Van den Brand dalam“De Millioenen uit Deli” yang menghebohkan itu.

Investasi bahkan melahirkan dehumanisasi, ujar Madelon Szekely-Lulofs dalam “Kuli” dan “Berpacu Nasib di Kebun Karet”. Penindasan, tulis Edward Dowwes Dekker dalam “Max Havelaar”.

Para humanis di berbagai belahan dunia sesungguhnya sudah terlalu sering mengungkapkan penderitaan sebagai ekses investasi itu. Di Afrika, Australia dan terutama di Asia.  Sialnya, berlembar-lembar naskah tentang penderitaan akibat investasi itu tidak memberi pengaruh apapun terhadap kebijakan banyak penguasa di dunia ini, bahkan hingga kini.

Apa pasal? Bisa jadi karena tak banyak presiden, politikus, investor, orang kaya atau pejabat negara yang membaca Lulofs, Van den Brand maupun Dowwes Dekker.

Di Indonesia, faktanya jauh lebih menyedihkan. Meski sudah lebih 75 tahun merdeka, penderitaan akibat investasi itu masih sering terjadi. Wujudnya memang tidak lagi dalam bentuk kerja paksa dan pecutan cambuk tuan mandor di onderneming-onderneming, tapi bisa berupa penggusuran, upah murah, intimidasi, bentakan Satpol PP dan arogansi kekuasaan.

Lihatlah bagaimana orang Betawi, sebagai pribumi Jakarta, harus tersingkir oleh investasi atas nama pembangunan ibukota negara. Lihat pula bagaimana para petani dalam komunitas masyarakat adat di berbagai daerah, digusur paksa oleh monopoli kepemilikan beribu-ribu hektar lahan yang dikuasai perusahaan perkebunan dan pertambangan, baik atas nama negara atau swasta.

Lihat pula bagaimana jutaan pribumi yang berstatus buruh, tenaganya dibayar dengan sangat murah di pabrik-pabrik milik orang asing. Dan lihat juga bagaimana kekayaan bumi Papua, Aceh, Sumatera, Kalimantan, dikeruk habis-habisan sementara mayoritas pribumi di wilayah itu tetap saja miskin dan papa.

Kemerdekaan ternyata belum sepenuhnya membebaskan pribumi Indonesia dari penderitaan akibat investasi ini. Tujuhpuluh lima tahun lebih sudah merdeka, tapi penderitaan sebagai akibat investasi masih terus terjadi.

Ironisnya, orang-orang yang mencoba membebaskan warga pribumi itu dari penderitaan, seringkali justru disalahtafsiri lalu disingkirkan. Apa yang dialami Marsinah dan Munir beberapa tahun lalu adalah contohnya

Hal seperti itu jugalah yang terjadi di masa penjajahan dulu. Tahun 1902 Van den Brand bahkan diusir dari komunitasnya sebagai warga Belanda dan disingkirkan dari pergaulannya sebagai pengacara. Ini buntut dari brosur “De Millioenen uit Deli” yang ditulisnya.

Orang-orang Belanda yang kala itu menikmati hasil kekayaan tanah Deli, rupanya merasa gerah dengan tulisan Brand. Mereka memboikotnya hingga Van den Brand terpaksa meninggalkan tanah Deli. Saudaranya di Belanda bahkan harus menghadap menteri tanah jajahan untuk meminta jaminan keselamatan untuk Brand.

Tindakan penguasa terhadap Van den Brand itu ternyata menjadi warisan abadi bagi bangsa ini, bahkan setelah bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Jadi tak usah heran jika ada pejuang kemanusiaan yang mencoba mengangkat penderitaan pribumi, justru bernasib sama dengan Van den Brand. Syukur kalau hanya disingkirkan. Tak jarang malah para pejuang pribumi itu yang dimatikan. Sekali lagi, Marsinah dan Munir adalah contohnya.

Medelin Lulofs dalam Novel “Berpacu Nasib di Kebun Karet” dan “Kuli” dengan gamblang sudah mengisahkan nasib buruk pribumi itu di kurun waktu 1920-1930-an. Dan semua itu akibat investasi. Kedua novelnya itu adalah bagian dari berlaksa derita bangsa pribumi Indonesia di masa lalu, yang seharusnya menjadi pelajaran bagi penguasa hari ini.

Namun kenyataannya tidak demikian. Walau masa Lulofs sudah lama berlalu, praktik penghisapan manusia atas manusia, homo homini lupus, penindasan yang dikordinasikan atas nama kemajuan peradaban, tetap saja terjadi. Berlangsung tanpa malu-malu dan rasa sungkan.

Sedih melihat bagaimana orang-orang asing di negeri ini, atas nama investasi, hidup bermewah-mewah di atas praktik penghisapan dan penindasan itu. Ironisnya, mereka yang menikmati penindasan itu malah berteriak-teriak lantang ke seluruh dunia tentang keadilan dan demokrasi. Ah…..(*)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2