Waspada
Waspada » Inilah Medan
Budaya

Inilah Medan

Hebatnya Anies

KETIKA Abdillah terpilih menjadi Wali Kota Medan beberapa tahun lalu, hati masyarakat kesenian di Medan sempat berbunga-bunga. Secercah harapan muncul.

Kehidupan kesenian di Medan pasti akan membaik. Sebab, selain birokrat, Abdillah adalah anak teater. Ia pernah cukup lama bergabung dengan Teater Nasional Medan.

Tapi harapan itu ternyata ibarat menggantang asap. Belum lagi mimpi para seniman itu terwujud, Abdillah keburu ditangkap KPK.

Lalu muncullah Rahudman Harahap menggantikannya. Penampilan Rahudman yang familiar membuat harapan masyarakat kesenian di Medan muncul kembali. Apalagi Rahudman sempat beberapa kali melakukan dialog dengan para seniman. Namun lagi-lagi masyarakat kesenian Kota Medan kecewa. Seperti Abdillah, Rahudman ditangkap KPK.

Pasca Rahudman, muncullah Eldin, wakil Rahudman yang kemudian terpilih menjadi wali kota dalam Pilkada 2015. Belum putus asa, masyarakat kesenian Medan masih tetap berharap kondisi kesenian di kota ini akan membaik. Namun kembali mereka harus kecewa. Sementara infrastruktur kesenian di Medan tak juga membaik, untuk ketiga kalinya Wali Kota Medan dicokok KPK.

Kini Medan kembali akan menyelenggarakan Pilkada. Ada dua kandidat yang digadang-gadang partai politik untuk memimpin kota ketiga terbesar di Indonesia ini. Yang satu birokrat tulen, Akhyar Nasution namanya. Satu lagi pendatang baru, mantu presiden, namanya Bobby Nasution.

Tapi masyarakat kesenian di Medan tampaknya sudah patah arang. Mereka tak lagi mau berharap. Sebagian menutup pintu dialog dengan dua kandidat wali kota itu. Sebagian lainnya bahkan memilih cara yang lebih ekspressif untuk menyatakan aspirasinya; unjukrasa melalui pertunjukan seni jalanan.

Apapun cara yang ditempuh masyarakat kesenian di kota ini, tampaknya hal itu tidak memberi banyak pengaruh pada kedua kandidat itu. Apalagi, sampai hari ini, tidak ada satu pun dari kedua kandidat itu yang menyatakan dengan tegas – hitam di atas putih – akan memberi prioritas bagi kehidupan seni budaya di kota ini. Baik secara fisik apalagi materi.

Itulah sebabnya mengapa kita tidak tersinggung ketika teman-teman seniman dari daerah lain mengeluhkan rendahnya apresiasi aparatur Pemko Medan terhadap aktivitas kesenian di kota ini.

Bayangkan saja, sampai usianya sudah menginjak 430 tahun, Kota Medan bahkan tak punya gedung kesenian yang representatif. Tak punya badan atau lembaga kesenian yang kualifaid. Tak punya sosok seniman yang dihormati publik.

Tak heran bila setiap kali peringatan hari jadi Kota Medan dilaksanakan, acaranya tak beranjak dari rutinitas kegiatan yang itu-itu saja. Aneka kegiatan remeh temeh dan ragam aktivitas serimonial. Tak ada upaya menyuguhkan karya kesenian yang berkualitas. Tak ada agenda peningkatan apresiasi budaya. Tak ada upaya kontemplasi.

Medan sejatinya adalah kota multi etnis. Kota multi kultural. Kota dengan bahasa ibu dan adat istiadat yang cukup kental dari masing-masing suku. Tapi rupanya Wali Kota Medan beserta jajarannya tak merasa keragaman budaya serta adat istiadat itu potensi artistik yang harus dieksplorasi.

Dengan semua kondisi itu, maka mengharapkan Pemko Medan, siapapun wali kotanya nanti, memberi perhatian lebih pada kehidupan kesenian di kota ini, akan sama sulitnya dengan mengharapkan sang wali kota menyelesaikan semua problem tatakota yang masih semrawut dan acak kadul.

Kalau saja calon Wali Kota Medan punya apresiasi yang bagus terhadap kesenian dan tentu saja, kepada para pekerja seninya, setidaknya sejak dini mereka sudah mengajak masyarakat kesenian di kota ini untuk berdialog. Membangun komunikasi yang baik demi memecahkan problema yang ada.

Tapi sampai hari ini dialog dan komunikasi itu tak terjadi. Akhyar, didampingi Kadis Kebudayaan Medan, memang pernah datang berbincang dengan para seniman di gedung tari TBSU. Tapi dialog itu tidak tuntas. Ia buru-buru pergi dengan alasan ada agenda lain. Bobby bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Bahkan, ketika para seniman melakukan aksinya menuntut adanya gedung kesenian di depan gerbang taman budaya (eks TBSU), tak ada satu pun dari kedua kandidat itu, termasuk para pejabat Pemko Medan yang bereaksi.

Padahal memberi gedung yang baik untuk para seniman mengekspressikan diri, terutama sebagai wujud rasa cinta para seniman kepada kota ini, akan berdampak sangat positif pada tumbuh kembangnya kreativitas seni di kota ini. Sayangnya, itu tidak pernah terjadi. Miris! (*)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2