Waspada
Waspada » Ikon Medan
Budaya

Ikon Medan

MAU tau ikon Medan dari semangat masyarakatnya? Pergilah mengembara ke tanggal 6 Oktober 1945. Waktu itu puluhan ribu warga Medan mengadakan pawai raksasa di Lapangan Esplanade. Mereka menyambut diproklamirkannya kemerdekaan RI oleh Dwi tunggal Soekarno- Hatta.

Dengan penuh semangat, di Lapangan Esplenade itu, warga Medan tua maupun muda, tidak hanya bersukacita menyambut kemerdekaan, tapi juga mengeluarkan pernyataan sikap yang hebat. Akan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia walau apapun yang terjadi.

Tapi kini, 74 tahun kemudian, taukah kalian wahai anak-anak muda Medan apa yang terjadi terhadap Lapangan Esplanade itu? Bisa jadi tak banyak yang tau. Bisa jadi pula tak banyak yang peduli.

Esplanade yang bersejarah itu kini terjepit oleh keserakahan ekonomi. Esplanade yang oleh nasionalisme Indonesia diganti menjadi ”Lapangan Merdeka” kini jadi “Merdeka Walk” yang dikurung beragam bangunan tempat usaha, restoran, cafe, toko buku bekas dan rumah makan.

Alun-alun kota yang mestinya berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, tempat masyarakat Medan berkumpul dan menjalankan aktivitas sosialnya, kini jadi ajang pamer orang-orang berduit.

Ikon terkait keindahan, kesejarahan dan kebanggaan mengenai nasionalisme Anak Medan itu, perlahan mulai hilang dan hanya tinggal serpihan kenangan. Kapitalisme telah merebut semangat hampir semua pejabat di kota ini untuk membumihanguskan ikon itu.

Para pejabat itu mungkin berpikir, ketimbang lapangan merdeka itu ”mubazir”, dibuatlah kerjasama pemanfaatannya dengan para pengusaha. Secara ekonomis, perubahan fungsi lapangan itu menjadi pusat kuliner, memang memberi kesan bahwa Lapangan Merdeka dikelola lebih efektif. Tapi secara historis perubahan itu justru membuat lapangan ini benar-benar kehilangan nilai historisnya.

Sampai kemudian datanglah Gubernur Edy Rahmayadi dengan wacana untuk menutup pusat kuliner di Lapangan Merdeka itu. Ia ingin mengembalikan fungsi Lapangan Merdeka sebagai Ruang Terbuka Hijau. Sebagai lapangan bersejarah yang pernah merekam semangat anak muda Medan di masa perjuangan kemerdekaan.

Sayang, meskipun gubernur, keinginan Edy Rahmayadi rupanya tak semudah membalik telapak tangan. Pejabat Pemko Medan malah seakan menantang keinginan gubernur itu.

“Sebagai wacana, saran pak gubernur boleh-boleh saja. Tapi Pemko Medan terikat kontrak kerjasama pengelola Merdeka Walk yang berlaku hingga 2031,” kata mereka. Nah!

Masih untung ikon Kota Medan tak lantas hilang hanya karena Lapangan Merdeka berubah fungsi jadi pusat jajanan. Pun setelah sejumlah ikon Kota Medan lainnya ikut tergadai. Sebab masih ada Kantor Pos, Titi Gantung, Sambu dan bahkan gaya “rap-rap” ala PSMS.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan anak Medan, pun bisa juga menjadi ikon. Memanglah anak Medan sejak dulu dikenal sebagai pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar bila dibandingkan dengan masyarakat Indonesia di daerah lainnya.

Bermodalkan kemampuan berbahasa itu jugalah lahir ratusan sastrawan besar dari Medan seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Armyn Pane, Sanusi Pane, Merari Siregar, Suman HS, Mochtar Lubis, Yusuf Syouib, Sori Siregar, Z. Panggaduan Lubis, Aldian Arifin, Hamsad Rangkuti, N.A Hadian, Rahim Qahhar, Herman KS, BY Tand dan lain-lain.

Dengan modal kemampuan berbahasa yang baik dan benar itu pula Medan dikenal sebagai kota suratkabar. Sejak tahun 1885 Medan sudah memiliki puluhan suratkabar. Ada “De Deli Courant”, “Pertja Timur”, “Pewarta Deli”, “Sinar Deli”, “Benih Merdeka”,  “Warta Timur”, “Panji Islam”, “Pedoman Masyarakat”, sampai ke “Mimbar Umum”, “Waspada” “Andalas”, “Pelita Andalas”, “Analisa”, ”Sinar Indonesia Baru” dan lain-lain. Seiring waktu, puluhan suratkabar itu juga hilang tumbuh silih berganti.

Jadi, sejak dulu Medan memang dikenal sebagai kota dengan potensi ikonik yang luar biasa. Hilang satu ikon akan muncul ikon baru. Sekarang saja, sungai-sungai di Medan yang dulu airnya begitu jernih, sudah berobah seperti parit besar yang airnya keruh, dangkal dan kotor. Bahkan bangkai Babi pun kini dibuang orang Medan secara sembarangan ke sungai dan jalanan. Dan itupun bisa menjadi ikon baru Kota Medan. Ah…… (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2