Face To Face, Refleksi Pergeseran Interaksi Era Pandemi - Waspada

Face To Face, Refleksi Pergeseran Interaksi Era Pandemi

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Insitut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar pameran virtual bertemakan ‘Face to Face’. Melibatkan 15 pengajar FSRD IKJ, pameran menyuguhkan karya-karya dwi matra, tri matra dan digital seputar isu pandemi Covid-19.

Pengajar FSRD IKJ yang terlibat dalam pameran ‘Face to Face’ diantaranya Danny Yuwanda Gazewanny, Tri Aru Wiratno, Boedhatmaka Darsono, Guntur Wibowo, Lucky Wijayanti, Oky Arfie Hutabarat, Walid Syarthowi Basmalah, Bambang Tri Rahadian, Saut irianto Manik, Nicholas Wila Adi Pratama, Budi P.M. Tobing, Drs. Hilman Syafriadi, Ehwan Kurniawan, Rasuardie dan Saut Miduk Togatorop.

Dekan FSRD IKJ, Anindyo Widito, M.Sn mengatakan, pameran berlangsung unik sesuai dengan konsep pameran Face to Face . Seluruh peserta menggunakan masker selama acara dan simbolisasi membuka masker secara virtual saat pameran diresmikan.

Dekan FSRD IKJ, Anindyo Widito, M.Sn memaparkan, pameran Face to Face berlangsung selama 1 (satu) bulan dari 24 November hingga 24 Desember 2021 secara virtual di kanal website FSRD IKJ https://galeri.senirupaikj.ac.id/.

“Karya-karya pameran “Face to Face” juga telah melalui proses kurasi oleh kurator Asep Topan, M.Sn.”, papar Dekan FSRD IKJ saat pembukaan pameran Face to Face, Rabu (24/11).

Penghayatan para perupa dalam pameran ini hadir dalam berbagai ragam medium seni rupa seperti patung, lukisan, drawing, kriya, ilustrasi hingga seni multimedia. Selain dari pada itu, pameran akan dilaksanakan secara daring, yang berarti perlu adanya pertimbangan bagaimana karya akan dilihat oleh para ‘pengunjung’ pameran – sebuah tantangan lain bagi kita praktisi seni dan pembuat pameran seni rupa di masa pandemi.

Kurator pameran Face to Face, Asep Topan, M.Sn. menjelaskan, istilah face to face atau diartikan sebagai tatap muka, telah mengalami pergeseran makna di saat pandemi COVID-19 ini. Proses interaksi face to face yang sebelumnya diartikan secara harfiah, telah beralih menjadi makna konotatif yang dilakukan tanpa pertemuan fisik atau ‘tatap muka.’ Baik dalam proses belajar mengajar, ataupun interaksi sosial pada umumnya,” ujar Topan.

Dengan adanya pembatasan pergerakan manusia untuk mengatasi pandemi COVID-19, umumnya pertemuan ‘tatap muka’ dilakukan secara daring. Internet telah menjadi alat penting bagi akses masyarakat untuk belajar, bermain, mendapatkan hiburan, dan interaksi sosial.

“Singkatnya, kita semua bisa mendapat banyak keuntungan dari menghabiskan waktu di ruang digital. Di lain sisi, perilaku yang berubah ini tidak selalu menjadi hal positif. Beberapa penelitian menunjukan adanya dampak buruk dari pola interaksi kita melalui layar (screen) seperti kurangnya aktivitas fisik, hingga gangguan kesehatan mental,”imbuh Topan.

Dengan latar belakang di atas, pameran ‘Face to Face’ diselenggarakan dengan menghadirkan karya-karya seni rupa yang dapat berbicara dalam konteks aktual. Yaitu bagaimana pola interaksi bergeser di masa pandemi ini, pengaruhnya pada proses kreatif dan interaksi sosial, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dilakukan di masa pandemi COVID-19.(J02)

  • Bagikan