Waspada
Waspada » Didi Kempot
Budaya

Didi Kempot

Hebatnya Anies

HAMPIR dua bulan Didi Kempot, maestro Campursari itu meninggal dunia. Namun kenangan tentangnya masih melekat di benak banyak orang. Bukan semata karena karya-karyanya yang merakyat, tapi lebih karena kesetiaannya pada penggunaan Bahasa Jawa dalam 700 lagu ciptaannya.

Lahir di  Surakarta, Jawa Tengah pada 31 Desember 1966, penyanyi dan pencipta lagu bernama asli Didik Prasetyo ini adalah salah seorang seniman Indonesia di era modern yang setia menggunakan Bahasa Ibu (Bahasa Jawa) dalam berkarya.

Didi Kempot meninggal dunia di Solo pada 5 Mei 2020 dalam usia 53 tahun, beberapa minggu setelah menggelar konser Covid-19 di rumah saja pada 11 April 2020. Hebatnya, konser untuk melawan pandemic Covid-19 itu berhasil mengumpulkan donasi hingga Rp. 7,6 milyar. Luar biasa!

Terlahir dari keluarga seniman, Didi Kempot merupakan putra dari seniman tradisional Jawa terkenal, yakni mbah Ranto Edi Gudel dan adik kandung dari pelawak senior SrimulatMamiek Prakoso.

Karya-karyanya, meski terasa ringan dan bersahaja, tapi penuh makna hingga banyak diminati oleh kalangan muda. Penggemarnya berasal dari berbagai daerah dan menyebut diri mereka sebagai “Sad Boys” dan “Sad Girls”. Para penggemar ini kemudian membentuk komunitas yang menyebut dirinya Sobat Ambyar dan mendaulat Didi Kempot sebagai “Godfather of Broken Heart” dengan panggilan “Lord Didi”. Julukan itu muncul karena kebanyakan lagu-lagu Didi Kempot bertemakan kesedihan dan patah hati.https://id.wikipedia.org/wiki/Didi_Kempot – cite_note-4

Memulai kariernya pada 1984 sebagai musisi jalanan, berbekal ukulele dan kendang, Didi Kempot mengamen di jalanan Kota Solo. Selama lebih kurang tiga tahun Didi ngamen di kota kelahirannya itu sampai kemudian, pada tahun 1987, ia hijrah ke Jakarta.

Di ibukota ia berkumpul dan mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung dan Senen. Dari sinilah terbentuk istilah “Kempot” yang merupakan akronim dari “Kelompok Pengamen Trotoar” dan menjadi nama panggungnya hingga meninggal dunia.

Di Jakarta, sambil mengamen Didi Kempot dan kawan-kawannya mencoba rekaman. Mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio musik di Jakarta. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil menarik perhatian Musica Studio’s. Baru tahun 1989 album pertamanya muncul. Salah satu lagu andalan di album tersebut adalah “Cidro”.

Lagu “Cidro” diilhami kisah asmara Didi yang pernah gagal. Jalinan asmara dengan sang kekasih tidak disetujui oleh orangtua wanita tersebut. Lagunya sangat menyentuh dan membuat pendengar terbawa perasaan. Para penikmat musik pun mulai merilik Didik. Sejak itu pula Didi Kempot mulai menulis lagu-lagu berkisah kesedihan dalam genre campursari.

Tahun 1993 Didi Kempot diundang ke Suriname. Lagu “Cidro” sukses meningkatkan pamornya sebagai musisi terkenal di Suriname. Dari Suriname, Didi melanjutkan jejak karirnya di Eropa. Pada 1996, ia merekam lagu berjudul “Layang Kangen” di Rotterdam, Belanda.

Tahun 1998, di awal reformasi, Didi Kempot kembali ke Indonesia dan mengeluarkan lagu berjudul “Stasiun Balapan” yang langsung meledak di pasaran.

Namun, lebih dari perjuangan hidupnya yang penuh liku-liku dan karya-karyanya yang merakyat, kesetiaannya pada bahasa ibulah yang menjadikan Didi Kempot satu-satunya seniman campursari dengan jutaan penggemar hingga keluar negeri. Sang “Godfather of Broken Heart” telah membuktikan bahwa menggunakan bahasa ibu tidak berarti kuno dan jadul.

Kini, lebih dari sekedar karya-karyanya yang menghibur dan diminati berbagai kalangan, kegigihan dan kesetiaan Didi Kempot menggunakan Bahasa Ibu dalam karya-karyanya, sangat patut untuk diapresiasi oleh pemerintah.

Apa yang sudah dilakukan Didi Kempot, lebih dari sekedar performanya sebagai seniman, adalah contoh baik bagaimana ke-Indonesia-an, bahkan arus deras globalisasi, tidak membuat Bahasa ibu harus tergerus dari keseharian. Damailahj di sisiNya mas Didi. (*)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2