Waspada
Waspada » Buya Hamka Dan Habib Rizieq
Budaya

Buya Hamka Dan Habib Rizieq

Catatan Budaya S. Satya Dharma

HARI ini, ketika seorang ulama coba dibungkam karena seruan “amar ma’rufnya” begitu keras, tiba-tiba saja aku teringat Buya Hamka.

Dulu, Ulama sastrawan kelahiran desa kampung Molek, Maninjau Sumatera Barat, 17 Februari 1908 bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu tidak hanya difitnah, dibenci, disingkirkan, tapi juga dijebloskan ke dalam penjara.

Di era Presiden Soekarno, Buya Hamka dua tahun harus mendekam di penjara dengan tuduhan pengkhianat bangsa tanpa sekalipun pernah diadili. Hebatnya Buya Hamka, ketika kemudian Presiden Soekarno meninggal dunia, justru beliaulah yang menjadi imam sholat jenazah sang Presiden.

Kini, “musibah” yang hampir sama menimpa Habib Muhammad Rizieq Shihab, ulama kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965. Seperti Buya Hamka, hari ini ulama lulusan King Saudi University Arab Saudi dengan predikat Cum Laude inipun mengalami nasib yang sama. Difitnah, dibenci, disingkirkan dan juga dijebloskan ke penjara.

Semua itu bermula ketika Habib Rizieq Shihab, pada tanggal 17 Agustus 1998, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-53, mendirikan Front Pembela Islam (FPI), ormas keagamaan yang tak kenal kompromi dalam melaksanakan aksi amar ma’ruf nahi munkar”. Apapun yang berbau maksiat, langsung mereka labrak.

Sejak itulah, sampai hari ini, bersebab aksi-aksi “nahi munkar” yang dilakukan FPI itu, Habib Rizieq berkali-kali diinterogasi, ditangkap dan bahkan dipenjara. Namun satu hal yang membuat umat semakin kagum padanya, semua tindakan represif itu tidak menghentikan keyakinannya untuk terus mendakwahkan “amar ma’ruf nahi munkar” dengan cara yang ia yakini kebenarannya.

Kriminalisasi ulama oleh penguasa sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah umat Islam di dunia. Hampir semua ulama besar di dunia pernah mengalami nasib yang sama. Al Hallaj dipancung. Imam Ahmad bin Hambal dan Iman Abu Hanifah dijebloskan ke penjara. Imam Malik disiksa dan dicambuk hingga puluhan kali. Imam Syafi’i bahkan diseret penguasa dalam keadaan tangan terbelenggu.

Di Indonesia, ketika para ulama mengadakan muktamar alim ulama di Palembang tahun 1957, Presiden Soekarno dengan lantang berteriak muktamar itu adalah wujud “komunis phobia” dan anti revolusi. Atas pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1958 itu, suratkabar- suratkabar pro komunis langsung mencaci maki para ulama, termasuk Buya Hamka.

Tapi Buya Hamka adalah ulama besar yang tawaduk dan rendah hati. Ketika Pramoedya Ananta Toer mengutus Astuti, anak perempuan dan menantunya untuk belajar agama Islam, Buya Hamka dengan sukacita menerimanya.

Begitu juga ketika Muhammad Yamin, orang yang sangat membencinya jatuh sakit, Buya Hamka justru datang membezuk ke RSPAD. Adalah Buya Hamka pula yang menuntun Yamin menghadapi sakaratul maut.

Hari ini, Habib Muhammad Rizieq Shihab adalah ulama paling fenomenal pasca wafatnya Buya Hamka. Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) ini mewujud sebagai “ikon” baru perjuangan umat Islam menegakkan “amar ma’ruf nahi munkar”. Apalagi ketika beliau berhasil memimpin jutaan umat Islam Indonesia dalam satu gerakan akbar bertajuk “Bela Islam” pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016.

Pada dua momentum itu, Habib Rizieq tidak hanya berhasil membangkitkan “ghirah” umat Islam yang ternistakan oleh pernyataan seorang pejabat calon gubernur yang menghinakan kitab suci Al Qur’an, tapi juga mampu meredam amarah umat dalam satu aksi damai yang menakjubkan.

Habib Rizieq mampu “meluluhkan” kemarahan jutaan umat Islam Indonesia menjadi sebuah aktivitas ritual maha dahsyat, yakni Sholat Jum’at terbesar sepanjang sejarah Indonesia pada 2 Desember 2016 di lapangan terbuka, Monas Jakarta.

Harus diakui, pasca Buya Hamka tidak banyak Ulama di Indonesia yang berani tampil beda dari arus besar yang dikehendaki penguasa. Umat menyaksikan, sejak masa orde baru dan orde reformasi saat ini, ada sangat banyak ulama bukan saja terkooptasi pada kepentingan penguasa, tapi bahkan terkotak-kotak pada kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan syahwat kuasa semata-mata. Namun Habib Rizieq adalah pengecualian.  (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2