Waspada
Waspada » Asumsi
Budaya

Asumsi

Hebatnya Anies

WAKTU Ahok menafsirkan Surah Al-Maidah 51 atas dasar apa yang ada di kepalanya, umat Islam tak terlalu risau meski marah. Sebab mereka tau Ahok hanya sedang mempertontonkan kejumudan pikirannya, meski mereka tetap meminta Ahok dihukum.

Namun, ketika ada seorang menteri menyamakan good looking dengan radikalisme, lalu meminta para pengurus masjid mewaspadai para penghapal Al Qur’an, kemarahan itu tak bisa dibendung. Bukan saja karena asumsi itu datang dari seorang menteri, tapi lebih-lebih karena sang menteri berada di posisi sebagai menteri agama.

Yang lebih menjengkelkan, dua peristiwa yang menimbulkan pro kontra itu, justru terjadi di Indonesia, negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Dua peristiwa itu menunjukkan, betapa di abad milenial ini ternyata banyak orang, tak peduli pendidikan dan status sosialnya, mendadak “galau” sampai-sampai berasumsi buruk terhadap agama yang bahkan dianutnya.

Munculnya kegalauan, asumsi dan prilaku buruk terhadap agama itu bukan semata karena kurangnya pemahaman, tapi juga karena ketiadaan contoh dan teladan. Sementara orang alim terlalu asyik dengan paradigma berpikir dan bertindaknya sendiri, orang awam semakin tersesat dari kebenaran.

Fakta menunjukkan, dalam kehidupan masyarakat yang penuh gejolak di abad milenial ini, nilai-nilai luhur agama maupun budaya, semakin kehilangan kekuatannya. Nilai-nilai luhur agama dan budaya itu, yang selama ini sangat diagungkan para pemeluk dan pewarisnya, justru dengan mudahnya dilecehkan, dihina dan dinista.

Orang bilang situasi saat ini sekedar dinamika belaka. Ekses kemajuan peradaban yang memang sulit dibendung. Sungguh tak sesederhana itu persoalannya. Sebab, jika ruang-ruang publik (media massa, media sosial) terus menerus berisi informasi yang mengundang perdebatan, situasi ini jelas tidak sehat bagi kehidupan bernegara.

Kebebasan berekspressi yang dikampanyekan oleh peradaban global, membuat banyak orang lupa menjaga batas-batas kepatutannya. Mereka tak bisa atau memang tak peduli lagi pada mana yang menjadi wilayah privatnya, dan mana wilayah publik yang tak boleh dia masuki.

Lihatlah, betapa sering kita mendengar dan menyaksikan orang-orang yang menghina agama dan menistakan kitab sucinya sendiri. Lihat pula bagaimana sekelompok orang dengan gampangnya menghina, mengata-ngatai bahkan menyerang para Ulama.

Terus terang, hari ini ada ketidaksesuaian antara ajaran agama dengan implementasinya di kehidupan nyata. Ada ketidakseimbangan antara nilai-nilai budaya yang diajarkan di bangku sekolah dengan realitas sosial kita.

Orangtua dan guru di sekolah selalu mengajarkan anak-anak dan muridnya untuk menghormati orangtua dan menyayangi sesama. Untuk bersikap jujur dan sopan santun. Tapi pada saat yang sama kita menyaksikan ada begitu banyak orangtua dan guru yang tidak jujur, tidak sopan dan tidak sayang pada muridnya.

Dalam konteks negara, hal yang sama juga terjadi. Presiden selaku kepala negara selalu menghimbau rakyatnya untuk tidak menebarkan berita bohong (hoax). Tapi pada saat yang sama kita melihat dan membaca ada begitu banyak pembohongan publik yang muncul dari kalangan pejabat negara.

Maka, sebagai rakyat kita harus cerdas dan kritis dalam “memamah” informasi. Tentu saja agar kita tidak terus menerus terjebak dalam asumsi. Sebab, menirukan catatan Ahmad Wahid (alm), masalah utama bangsa Indonesia bukanlah disintegrasi, tapi “kejumudan” yang sudah cukup lama mencengkram. Baik jumud dalam sikap mental maupun jumud dalam intelektualitas.

Oleh karena itu, umat beragama di Indonesia, agama apapun yang dianutnya, harus segera sadar dan mengasah kembali penalaran imaniah-nya. Agar, dengan kesadaran itu, ia dapat melihat bahwa Indonesia hari ini, sebagai sebuah bangsa, sungguh-sungguh sedang berada di titik nadir persatuannya. Sedang berada di ambang pintu kehancuran nilai-nilai budayanya. Sedang diterjang gelombang Tsunami peradaban sekuler dan liberal maha dahsyat yang siap meluluhlantakkan semuanya. Percayalah! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2