Waspada
Waspada » Akhlak
Budaya

Akhlak

Hebatnya Anies

SYEKH Ali Jaber, ulama dengan wajah nan teduh itu, ditikam seorang pemuda justru saat ia sedang mengajar. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di negeri ini?

Kita sedang menuju collapse, kata seorang teman. Di negeri ini krisis tak lagi berdimensi satu, tapi sudah multidimensional. Berbagai permasalahan saling tumpang tindih dan menjadi kompleks. Dan semua krisis itu berpuncak pada rusaknya akhlak.

Lihatlah media massa, baik televisi maupun medsos. Setiap saat mata dan telinga kita dihadapkan pada tingkah laku anak bangsa yang semakin kehilangan adab, sopan santun, rasa malu. Kerusakan akhlak itu muncul telanjang dan tanpa rasa sungkan.

Di negeri ber-Pancasila ini ajaran agama sudah tak lagi menjadi way of life, tambahnya. Tak lagi menjadi tuntunan hidup. Padahal Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama Pancasila yang disepakati sebagai dasar hidup berbangsa.

Faktanya justru berbeda. Hari ini bangsa kita malah lebih “membarat” dari orang-orang barat. Lebih “mengeropa” dan orang Eropa. Lebih “mengamerika” dibanding orang Amerika. Lebih liberal dari mereka yang menganut paham liberal.

Di televisi kita bahkan tak tabu lagi menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan Indonesia, terutama yang mengaku selebritis, memamerkan tonjolan buah dadanya atau belahan pantat maupun selangkangannya.

Di televisi pula kita menyaksikan bagaimana para elit negeri, termasuk para pejabat dan anggota parlemennya, berlomba-lomba memamerkan kepongahannya. Menuding-nuding dan membentak dalam setiap percakapan yang anehnya tanpa solusi.

Situasi yang menimpa bangsa Indonesia hari ini, khususnya di kalangan umat Islam, sebenarnya sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam dalam sebuah hadistnya. Bahwa; “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan, saling iri, dengki dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman.  (Hadist Riwayat Al Hakim).

Apa yang dialami Syekh Ali Jaber pekan lalu di Lampung itu, adalah contoh kasus dari rusaknya akhlak sebagai akibat sikap saling permusuhan, rasa iri, dendam dan dengki itu.

Maka, sebelum kerusakan akhlak itu semakin parah, sebelum rasa cinta dan kasih sayang semakin pupus dari kehidupan bangsa ini, adalah menjadi tugas para pemimpin bangsa ini untuk mengembalikan akhlak bangsa ini kepada akhlak Pancasila. Yakni akhlak kebangsaan yang dilandasi pada rasa hormat, sopan santun dan kasih sayang pada sesama.

Dalam Islam, terminologi akhlak atau Al-Akhlaq tidak bisa dipisahkan dengan Al-Khaliq (Tuhan Sang Pencipta). Artinya akhlaknya harus selaras dan seirama dengan nilai-nilai ketuhanan. Seseorang bisa disebut manusia paripurna (insan kaffah) manakala mampu menselaraskan akhlaknya dengan nilai-nilai ketuhanan itu. Memisahkan akhlak dengan nilai-nilai ketuhanan, sama artinya dengan mereduksi jatidirinya sebagai manusia.

Akhlak ada bukan sekedar untuk menjadi jargon, statemen atau “lips service”. Akhlak adalah tingkah laku. Akhlak adalah pengamalan bukan cuma ucapan. Oleh karena itu, orang yang telah mengerti makna dan konsepsi akhlak, namun dia tidak bertingkah-laku seperti apa yang dimengertinya itu, maka di dalam Islam orang tersebut dinyatakan munafik.

Akhlak yang baik adalah implementasi sifat ketuhanan yang melekat pada setiap manusia. Akhlak tidak tergantung pada strata sosial, pendidikan, ekonomi dan jabatan politik. Perwujudan akhlak tidak bisa dipalsukan. Akhlak itu menyatu dalam diri. Implementasinya tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Sayangnya, sejak reformasi bergulir, akhlak sebagian anak bangsa ini telah jungkir balik. Terlalu sering kita menyaksikan orangtua dan anak sama bobrok akhlaknya. Pemimpin dan rakyat sama buruk kelakuannya. Tak aneh kalau negeri ini terus dilanda bencana.

Maka, jangan pernah berharap kita akan menjadi bangsa yang berkemajuan dan bermartabat jika negara ini masih dipenuhi orang-orang berakhlak tercela. Camkanlah! (*)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2