Ampunan Sebelum Surga

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Ampunan Sebelum Surga

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah.

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS. Ali Imran: 133-136)

Alquran mengesankan bahwa maghfirah yakni keampunan dari Allah mendahului pintu Surga. Maksudnya orang hanya akan bisa masuk Surga bila mendapatkan ampunan dari Allah.

Karena itu Alquran menganjurkan agar mereka segera berbuat baik dan mendekatkan diri kepadaNya. Allah berfirman: wa saari’uu ilaa maghfiraatim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu u-‘iddat lilmuttaqiin (Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa).

Ada yang mengatakan bahwa firman Allah: jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu (Surga yang luasnya seluas langit dan bumi) dimaksudkan sebagai kabar akan keluasan Surga tersebut.

Sebagaimana firman-Nya yang menyifati perlengkapan Surga, Yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera (QS. Ar-Rahmaan: 54) Lalu bagaimana dugaan Anda mengenai bagian luarnya? Ada juga yang mengatakan lebarnya sama dengan panjangnya, karena ia berbentuk kubah yang berada di bawah `Arsy.

Dan sesuatu yang berbentuk seperti kubah dan bundar itu mempunyai lebar yang sama dengan panjangnya. Hal seperti itu telah ditegaskan dalam hadis shahih: Jika kalian memohon Surga kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus, karena ia adalah Surga yang paling tinggi dan paling tengah. Darinya mengalir sungai-sungai Surga, sedang atapnya adalah ‘Arsy ar-Rahmaan.

Selanjutnya Alquran mengidentifikasikan kualitas para calon penghuni Surga yang akan mendapatkan keampunan, yakni alladziin ayunfiquuna fis sarraa-i wadl-dlarraa-i (Yaitu orang-orang yang menafkahkan [harta-nya], baik pada waktu lapang maupun sempit). Yakni, pada waktu susah dan senang, dalam keadaan suka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan dalam seluruh keadaan, mereka tidak disibukkan oleh sesuatu pun untuk berbuat taat kepada Allah, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, baik kepada kerabat maupun kepada yang lainnya. Ayat ini mengesankan cara mudah mendapatkan ampunan Allah adalah membelanjakan harta di jalan Allah baik bersedekah, berinfak dan membayar zakat.

Cara kedua memperoleh keampunan dari Allah adalah, wal kaadhimiinal ghaidha wal ‘aafiina ‘anin naasi (Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang). Artinya, jika mereka marah, maka mereka menahannya, yakni menutupinya dan tidak melampiaskannya.

Selain itu mereka pun memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hishbah atau Ibnu AbiHushain, dari seseorang yang menyaksikan Nabi ketika beliau sedang ber-khutbah, Beliau bersabda: “Tahukah kalian siapakah sha’luk (orang yang miskin) itu?” Para Sahabat menjawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai harta kekayaan.”

Maka beliau pun bersabda: “Orang yang miskin adalah orang yang mempunyai harta lalu meninggal dunia, sedangkan ia tidak pernah memberikan sesuatu pun dari hartanya tersebut.” Imam Ahmad meriwayatkan pula dari salah seorang Sahabat Nabi SAW, ia berkata, ada seseorang berkata: “Ya Rasulullah, berikanlah wasiat kepadaku.” Maka beliau bersabda: “Jangan marah.”

Orang itu berkata, “Lalu kurenungkan perkataan beliau itu, ternyata (benarlah, bahwa) marah itu menghimpun seluruh macam keburukan.” Tiada seorang hamba yang menahan amarah karena Allah melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan iman.”

Mereka tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, tetapi sebaliknya, mereka menahannya dengan mengharapkan ampunan di sisi Allah. Kemudian firman-Nya, wal ‘aafiina ‘anin naasi (Serta memaafkan [kesalahan] orang). Artinya, di samping menahan amarah, mereka memberi maaf kepada orang yang telah menzhalimi mereka, sehingga tidak ada sedikit pun niat dalam diri mereka untuk balas dendam. Keadaan itu adalah keadaan yang paling sempurna.

Alquran kemudian menyatakan wallaaHu yuhibbul muhsiniin (Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan). Ini merupakan salah satu maqam (tingkatan) ihsan. Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dimuliakan tempat tinggalnya dan ditinggikan derajatnya, maka hendaklah ia memberi maaf kepada orang yang telah menzhalimi-nya, memberi orang yang tidak mau memberi kepadanya dan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.”

Cara ketiga memperoleh maghfirah dari Allah, wal ladziina idzaa fa’aluu faahisyatan au dhalamuu anfusaHum dzakarullaaHa fastaghfaruu lidzunuubiHim (Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka). Maksudnya, jika berbuat dosa, maka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Nabi SAW Beliau bersabda: Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya itu, lalu ia berdo’a: `Aku bersaksi bahwa tidak ada  yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah saja, Yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,’ melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Surga yang berjumlah delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Lalu Alquran menekankan ampunan itu mutlak milik Allah dengan firman-Nya, wa may yaghfirudz-dzunuuba illallaaHa (Dan siapa lagi yang dapat me-ngampuni dosa selain dari Allah?). Artinya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali hanya Allah. Jadi jangan pernah mempercayai ada orang yang menawarkan dan menjanjikan ampunan dari Allah dengan cara cara tertentu apalagi dengan sejumlah bayaran.

Begitu pun Alquran mensyaratkan, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa Hum ya’lamuun (Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui). Artinya, mereka bertaubat atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, segera kembali kepada Allah dan tidak terus menerus berbuat maksiat.

Jika mereka mengulanginya (berbuat dosa), maka mereka segera bertaubat darinya. Firman-Nya, wa Hum ya’lamuun isyarat bahwa berTuhan itu harus menggunakan ilmu. Setelah menyebutkan karakter mereka, maka Allah Ta’ ala berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum maghfiratum mir rabbiHim (Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka). *** Prof Dr Faisar A. Arfa, MA : Guru Besar Pascasarjana UINSU & UMSU ***