Waspada
Waspada » ZAKAT, Dan Pengentasan Kemiskinan
Al-bayan Opini

ZAKAT, Dan Pengentasan Kemiskinan

Oleh : H. Hasan Bakti Nasution

 

Di antara pertanyaan yang sering muncul ketika membicarakan zakat ialah “apakah zakat mampu mengentaskan kemiskinan ?”. Pertanyaan ini tentu dihadapkan pada dua pilihan, antara antara kaum pesimis yang mengatakan “bisa”, dan kaum optimis yang mengatakan “tidak bisa”. Pilihan jawaban tentu terkait dengan narasi yang bersangkutan.

Pesimisme muncul karena sudah sejak dulu zakat selalu didengungkan bisa mengatasi kemiskinan, namun faktanya kemiskinan masih menjadi nasib 30-an juta dari 260 juta bangsa Indonesia. Angka ini tentu akan bertambah seiring dengan masih terus berlangsungnya wabah civid-19.

Seperti dibaca dalam media bahwa roda ekonomi dan perdagangan menghadapi mati suri sehingga PHK menjadi hal yang tidak terelakkan. Mereka yang diPHK yang mencapai jutaan orang tentu akan menambah persentase kemiskinan tersebut.
Sebaliknya kaum optimis tetap bekeyakinan bahwa zakat mampu mengentaskan kemiskinan. Ini dimaklumi karena optimisme ini didasarkan pada salah satu cuplikan ayat al-Qur’an bahwa fungsi zakat ialah untuk menghilangkan gap antara kaum miskin dan kaum kaya, sebagaimana tersurat pasa surat al-Hasyr/59: 7, yang artinya: “Agar harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”.

Bahwa masih ada kemiskinan, itu ditengarai sebagai akibat dari belum maksimalnya konsolidasi zakat, mulai dari pengumpulan sampai pendistribusian. Dalam hal pengumpulan, masih banyak muzakki (yang berzakat) yang mendistribusian secara langsung dengan berbagai alasan.

Misalnya, karena pertimbangan keluarga atau mengutakan keluarga menerima zakat. Terdapat juga alasan lain seperti keraguan komitmen lembaga pengelola zakat, dan sebagainya. Akibatnya sulit terukur efektifitas zakat.

Begitu juga dalam hal pendistribusian, zakat masih diarahkan pada yang konsumtif, belum produktif, sehingga hanya hitung hari dana yang diberikan sudah habis. Agar optimisme kaum optimis ini menjadi kenyataan, faktor di atas haruslah dihilangkan, atau minimal dikurangi. Untuk itu, ada tiga gerakan yang harus dilakukan secara simultan. Pertama, memaksimalkan sumber-sumber zakat, tidak hanya zakat fitrah dan mal dalam bentuk emas, perak, pertanian padi, dan ternak (kerbau dan kambing).

Tetapi juga zakat mal lainnya, seperti perdagangan, perkebunan sakit, karet, kopi, cengkeh dan tanaman pertanian lainnya. Juga zakat unggas seperti ayam, burung puyuh dan ternak ikan yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan juta perbulan. Tentu termasuk zakat profesi.

Dalam kaitan zakat profesi, jika dibuat simulasi, dari 2.200 trilyun (T) APBN, sekitar 600 T diperuntukkan untuk gaji dan tunjangan. Jika 50 persen saja mengelarkan zakat profesi berarti 300 T, akan terkumpul 7,5 T pertahun, atau 625 M perbulan. Jika dibagi Rp.500.000,- perorang, akan tersantuni 1.250 orang. Tentu jumlahnya akan bertambah jika dimasukkan zakat mal lainnya.

Gerakan kedua memperkuat peran lembaga pengelola zakat dengan memberi kepercayaan sebagai pengelola, sehingga hasilnya lebih terukur. Kemudian gerakan ketiga ialah mengarahkan pemanfaatan zakat dalam bentuknya yang produktif.

Melalui tiga gerakan ini kita meyakini bahwa peran zakat akan semakin dirasakan masyarakat, sehingga kemiskinan akan bisa dientaskan, bukan dipentaskan.
Mudah-mudahan. (26 Ramadhan 1442 H/8 Mei 2021 M).
-=o0o=-

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2