Usaha Dan Doa

  • Bagikan

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu” (Q.S Ali Imran: 26)

Usaha dan doa adalah dua hal yang harus saling beriringan. Usaha tanpa doa sama dengan sombong, sedangkan doa tanpa usaha akan sia-sia.

Begitu juga dalam mewujudkan cita-cita, kita harus terus usaha sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah SWT, agar diberi kemudahan untuk menggapai cita-cita.

Semua orang punya cita-cita dan keinginan untuk mewujudkannya tergantung seberapa kuat niatnya. Semakin kuat niatnya maka akan semakin terbuka jalan untuk menggapainya.

Tapi tak jarang kita lihat sebagian manusia ada yang sampai mengalami kegagalan, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a, yang menjadi penentu adalah Allah SWT.

Beragam cita-cita manusia karena itu adalah fitrahnya, semua manusia pasti terlintas dalam pikirannya ingin menjadi ini dan itu.

Namun yang paling penting adalah jangan sampai cita-cita yang terlalu tinggi sehingga merasa sombong dan merendahkan yang lain. Jangan sampai sebuah cita-cita membutakan mata hati dan lari dari fitrah manusia.

Cita-cita bukanlah angan-angan, cita-cita adalah pandangan jauh ke depan yang membuat kita termotivasi untuk berbuat lebih baik sekaligus merencanakan kehidupan yang akan datang.

Tentu sebagai umat Islam yang telah mengikrarkan beriman sejatinya menjalani kehidupan ini dengan nilai-nilai Islam. Tidak ada orang yang beriman menghendaki suatu keburukan, semua pasti ingin meraih kebahagiaan dunia dan juga akhirat. Keduanya harus seimbang.

Firman Allah dalam Al-Qur’an: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Q.S Al-Qashash: 77).

Pentingnya bercita-cita agar kita bisa merencanakan sesuatu untuk melakukan perubahan. Umat Islam yang beriman harus memiliki keberanian untuk berhijrah atau melakukan ikhtiar, agar kita mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Inilah salah satu peran cita-cita dalam kehidupan, apa saja bisa dilakukan demi untuk menggapai ridha-Nya.

Cita-cita sejatinya tumbuh dan terwujud sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang tidak hanya mementingkan dunia sehingga melupakan akhirat.

Dunia dan Akhirat memang dua hal yang sangat jauh berbeda. Namun kita sebagai manusia ciptaan-Nya pasti akan melewati keduanya.

Kalau saat ini kita hidup di Dunia, maka suatu saat akan tiba masanya nanti menuju Akhirat. Jika kita hanya bercita-cita hanya menginginkan kehidupan Akhirat, tentu tidak mungkin.

Karena saat ini kita masih hidup di dunia yang masih membutuhkan makan, minum, pakaian dan pergaulan sesama manusia.

Tapi jika kita terlalu cinta kepada dunia, maka kita akan tertipu, bahkan bisa mengakibatkan mata hati kita buta sehingga tidak bisa membedakan mana kehidupan yang kekal dan mana kehidupan yang tidak kekal.

Hal inilah yang membuat kita semua sangat sulit untuk menyeimbangkannya. Umat Islam Tidak dibenarkan untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat dan melalaikan kehidupan dunia.

Begitu juga sebaliknya, umat Islam tidak boleh terlalu tamak kpada kehidupan dunia hingga melupakan akhirat. Artinya kita tidak boleh mengganggap bahwa dunia adalah surga atau tujuan hidup, dan dunia bukan juga neraka bagi orang muslim.

Namun, dunia adalah kebunnya surga. Intinya Kehidupan dunia perlu diperhatikan bukanlah sebagai tujuan hidup, akan tetapi seabagai sarana untuk mencapai kehidupan akhirat.

Kemudian dalam meraih cita-cita, selain harus lebih bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, kita juga harus bisa mengendalikan diri untuk lebih kuat ketika mengalami sebuah kegagalan.

Umat Islam yang beriman tidak boleh berputus asa, mungkin masih ada jalan lain menuju kesuksesan. Intinya dalam diri manusia ada banyak potensi dan peran yang harus kita cari yang sesuai dengan fitrah masing-masing.

Jika kita gagal,maka segeralah untuk mengingat Allah SWT, jangan sampai hati kita tergoda dengan kesesatan-kesesatan yang menyebabkan kita resah dan gelisah.

Justru dengan kegagalan dalam sebuah cita-cita, kita bisa berusaha untuk memperbaiki sekaligus mengevaluasi diri.

Bagaimanapun buruknya sebuah kegagalan, kita harus tetap menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang maha memberi segalanya.

Intinya, kita harus berpikir positif terhadap segala pemberian Allah. Sejatinya kita sudah memahami, bahwa orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah orang-orang yang tidak meyakini kekuasaan Allah.

Kemudian hal yang paling utama dalam meraih cita-cita adalah doa, baik doa dari diri sendiri, orang tua dan lain sebagainya. Jangan bosan, teruslah berdo’a dan merendah diri kepada Allah SWT, sebab semua do’a pasti akan didengar oleh Allah SWT.

Berdoa adalah permintaan dari derajat yang paling bawah kepada derajat yang paling tinggi, bahkan tidak ada yang lebih tinggi dari pada-Nya.

Selalu berdoa kepada yang Mahapencipta adalah salah satu tanda hubungan manusia dengan Tuhan-Nya sudah semakin dekat, sebab dengan berdo’a, seorang hamba akan semakin mengakui kekuasaan-Nya.

Firman Allah dalam Al-Qur’an: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah/2:186).

Doa punya peranan sangat penting dalam menggapai cita-cita. Doa juga merupakan permohonan sekaligus pengakuan seorang hamba yang mengaku lemah di hadapan Allah SWT.

Sebab hanya kepada Allah lah tempat kita semua untuk meminta. Tidak ada kekuasaan yang paling sempurna kecuali kekuasaan Allah SWT.

Maka dalam segala hal dalam hidup dan kehidupan kita, hendaknya sebagai seorang hamba terus berdoa, agar semua yang kita cita-citakan bisa berhasil dengan baik serta membawa kepada keberkahan hidup Dunia Akhirat. WASPADA

Oleh Tantomi Simamora, Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid/PDM, Kab. Tapanuli Selatan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.