Urgensi Tasawuf Dalam Kehidupan

  • Bagikan

Hendaknya kamu menyembah Allah SWT seakan-akan kamu melihat-Nya, kalau kamu tidak melihat-Nya maka Allah SWT sesungguhnya melihat dirimu” (HR.Muslim)

Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan perjalanan menuju (keridhaan) Allah SWT dan meninggalkan (larangan-larangan-Nya) menuju kepada (perintah-Nya).

Tasawuf merupakan salah satu bidang kajian Studi Islam yang memusatkan perhatiannya pada upaya pembersihan aspek batiniah manusia yang dapat menghidupkan kegairahan akhlak yang mulia.

Tasawuf juga mempelajari dan mendalami segala hal-hal yang dapat menghalangi manusia dari Allah SWT, sekaligus meluruskan penyimpangan-penyimpangan kejiwaan dan tindakan dalam masalah yang berkaitan dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan orang lain. 

Tasawuf merupakan metode ruhani dan praktis untuk mengangkat seseorang ke tingkat Ihsan yang dijelaskan oleh Nabi SAW: “Hendaknya kamu menyembah Allah SWT seakan-akan kamu melihat-Nya, kalau kamu tidak melihat-Nya maka Allah SWT sesungguhnya melihat dirimu” (HR.Muslim).

Apa yang diajarkan dalam ilmu Tasawuf tidak lain adalah bagaimana menyembah Allah SWT dengan suatu kesadaran penuh bahwa kita berada di dekat-Nya sehingga kita “melihat” Nya atau bahwa Dia senantiasa mengawasi kita dan kita senantiasa berdiri di hadapan-Nya.

Dengan hati yang jernih, menurut perspektif sufistik, seseorang dipercaya akan dapat mengikhlaskan amal peribadatannya dan memelihara perilaku hidupnya karena mampu merasakan kedekatan dengan Allah SWT yang senantiasa mengawasi setiap langkah perbuatannya.

Tasawuf bukan berarti mengasingkan diri dari keramaian hidup dunia melainkan hidup di tengah keramaian dunia tetapi tidak terpengaruh oleh keramaian suasananya maupun gemerlapnya.

Berdasarkan definisi-definisi yang ada, Tasawuf dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mengajarkan bagaimana meraih derajat sedekat-dekatnya dengan Allah SWT.

Karena orang yang paling dekat dengan Allah SWT adalah para Nabi dan Rasul, maka Tasawuf mengajarkan bagaimana perilaku para Nabi dan Rasul.

Di dalamnya kemudian ada ajaran ibadah, muamalah, dan akhlak sebagai perhiasan bagi para Nabi dan Rasul. Term Insan Kamil-manusia paripurna” menjadi tujuan para sufi, “ma’rifatullah-mengenal Allah SWT”menjadi harapan bagi mereka.

Sehingga mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang akan menghalanginya dalam mencapai tujuan tersebut. Para sufi, melakukan berbagai ritual tertentu yang mereka yakini dapat mencapai tujuannya.

Shalat, membaca Alquran, menjaga wudhu’, zikir, khalwat, mengurangi makan dan minum, sedikit tidur dan lain sebagainya, merupakan tradisi para sufi yang melekat erat pada diri mereka.

Semua itu dilakukan dalam rangka penyucian jiwa dari berbagai hal yang dapat merusak kedekatan seorang sufi dengan Tuhannya.

Tujuan Tasawuf diantaranya adalah; Memperoleh hubungan sedekat mungkin dengan Yang Mahakuasa, setelah terlebih dahulu membangun kesadaran dirinya.

Inilah yang diperoleh melalui taqarrub ila Allah, Mengarahkan dan membimbing kejiwaan ke arah jiwa yang bersih, sehat dan sempurna.

Inilah yang dicapai oleh tazkiyatun nafs,

Terkondisikannya sikap mental yang melahirkan karakter kepribadian yang luhur dan bijaksana.

Inilah yang dicapai dengan takhalluq bi al-akhlaaq al-karimah, Diperolehnya keyakinan yang bulat atas keimanan dan keislaman sehingga tidak tergoyahkan oleh suasana apapun.

Inilah yang dicapai oleh ilmu hakiki, Memperoleh jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Inilah yang hendak dituju semua manusia, yaitu kebahagiaan sejati.

Manusia adalah makhluk yang terdiri dari tiga dimensi, jasmani, rohani dan nafsani. Ketiga dimensi ini harus memperoleh porsi yang seimbang.

Apabila salah satunya diabaikan, maka manusia akan mengalami kepincangan dalam hidupnya. Sisi jasmaninya memerlukan makanan, minuman, pakaian, hubungan perkawinan dan sesuatu yang bersifat biologis lainnya.

Sementara rohaninya memerlukan hubungan yang dekat dengan Allah SWT sehingga merasakan ketenangan, kedamaian, kasih sayang dan kebahagiaan.

Adapun Nafsaninya merupakan integritas antara hati, akal dan hawa nafsu yang akan menyelamatkan manusia dari segala perbuatan tercela jika nafsani itu dikendalikan dengan cahaya iman dan ilmu.

Sehingga manusia memiliki martabat yang mulia, tetapi jika nafsaninya tidak dapat dikendalikan, akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang hina.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”(QS.Al-A’raf : 179).

Tasawuf merupakan sisi batin dari ajaran Islam, sementara sisi lahirnya adalah syari’at, yang mengandung hukum-hukum keagamaan formal, mengenai apa yang harus dilakukan oleh seseorang (wajibat), serta apa yang seharusnya tidak dilakukan (nahiyat).

Tasawuf selain mengisi sisi batiniah dari syari’at juga memberikan makna tentang bagaimana hidup ber-Tuhan dengan benar.

Dalam konteks ini, tasawuf memberikan penegasan bahwa hidup tanpa memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, adalah hidup yang kosong dan hampa.

Manusia yang mencampakkan sisi batin pada dirinya serta tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan merupakan manusia yang hidup tanpa aturan-aturan dan norma-norma kebaikan.

Aturan dan norma ini mereka anggap sebagai pengekangan kebebasan dalam berekspresi. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi mengindahkan nilai halal dan haram, melainkan mengutamakan sesuatu yang enak serta menyenangkan.

Paham hedonisme, bahwa yang baik itu adalah sesuatu yang enak dan menyenangkan tanpa harus terikat dengan aturan dan norma yang ada telah menjadi motto keseharian mereka.

Ketika aturan dan norma tidak lagi diindahkan, manusia telah kehilangan arah tanpa pegangan.

Ia banyak mengalami kegalauan dan kesemrawutan hidup, sehingga hidup seakan-akan sendiri di tengah keramaian dan mengalami keterasingan di tengah masyarakatnya sendiri.

Manusia seperti ini adalah manusia kosong (the hollow man), yang telah mencampakkan sisi-sisi kemanusiaan dan kehidupannya.

Ia telah melupakan eksistensinya sebagai seorang hamba di hadapan Tuhan, sehingga akhirnya terjerat dan terperangkap dalam kehampaan. Hidup tidak lagi bermakna dan manusia tidak lagi mampu menjawab berbagai tantangan dan persoalan.

Sebagai akibat modernisasi dan industrialisasi, banyak manusia mengalami degradasi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabatnya.

Wajah kehidupan kontemporer cenderung menampilkan al-hirsh, yakni keinginan yang berlebih-lebihan terhadap materi, sehingga menyebabkan banyak penyimpangan, seperti korupsi, kolusi, manipulasi dan tidak peduli kepada kaum lemah.

Kecenderungan kehidupan modern yang berlatar belakang falsafah kapitalisme bukan saja menjadikan gaya kehidupan manusia ke arah materialistic-hedonistic tetapi juga menimbulkan rasa terancam dan kekacauan dalam masyarakat.

Kehidupan manusia dipenuhi kezhaliman, kesedihan dan keruntuhan akhlak, seolah-olah tiada lagi harapan dan cinta dalam kehidupan seharian.

Berdasarkan hal ini, modernisme dilihat gagal memberikan kehidupan yang lebih bermakna dalam kehidupan manusia, sehingga keadaan ini telah menimbulkan berbagai persoalan dalam masyarakat.

Tasawuf adalah solusi bagi masyarakat modern yang dalam kehidupannya hanya berorientasi pada perilaku materialisme dan perilaku hedonisme. Tasawuf perlu dimasyarakatkan pada kehidupan modern karena 3 alasan.

Pertama, turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.

Kedua, memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoterik (kebatinan) Islam, terhadap masyarakat yang mulai melupakannya untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoterik Islam.

Yakni sufisme, adalah jantung dari ajaran Islam sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam.

Ketiga, Tasawuf akan membawa pada pencerahan hidup. Tasawuf akan melahirkan manusia berkepribadian yang shalih dan berperilaku baik dan mulia serta ibadahnya berkualitas. Pengajaran Tasawuf dan institusinya yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah bisa menambah dalamnya spiritualitas agama dan menjadi sarana pembinaan akhlak mulia. WASPADA

Oleh Prof Muzakkir, Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *