Waspada
Waspada » Urgensi Niat
Al-bayan Headlines

Urgensi Niat

Oleh Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi

Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana dia hijrah (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadis).

Niat itu faktor penentu sebuah amalan dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Ilmu yang kita pelajari merupakan sebagai ibadah, amalan yang mulia. Maka butuh niat ikhlas dalam menekuni dan menjalaninya. Amalan dan pekerjaan dengan pondasi utama keikhlasan itu sangat penting sebagaimana di sebutkan dalam Al-Quran:”…Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. al-Bayyinah [98]: 5).

Mempertegas ungkapan di atas bahkan Rasulullah SAW mencela mereka yang menuntut ilmu hanya demi kebanggaan untuk memamerkan kepandaian dan membantah orang awam (bodoh)—bukan demi sebuah keikhlasan dalam menegakkan dan mensyiarkan dinul Islam. Ini diungkapkan baginda Nabi SAW: Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka (HR. Ibnu Majah 253).

Bahkan para pendahulu kitapun mengakui keberkahan ilmu itu dengan tanpa keikhlasan akan lari dan hilang serta tidak akan singgah kepada thalibul ilmi (penuntut ilmu). Ungkapan ini sebagaimana di katakan Imam ad-Daruqutni: “Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Allah, akan tetapi ilmu itu enggan kecuali untuk Allah” (Tadzkiratus Sami hal. 47).

Penjelasan ini didukung perkataan Imam Syaukani, Beliau menyebutkan kewajiban perdana terhadap seorang penuntut ilmu (thalibul ilmi) dengan meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang dia kehendaki adalah syariat Allah, yang dengannya diturunkan para Rasul dan al-Kitab. Begitu juga penuntut ilmu membersihkan dirinya terhadap tujuan duniawi atau karena ingin mencapai kemuliaan, kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya (kitab Adabut Thalab wa Muntaha al-Arab: 21).

Beranjak dari itu biarkan dunia dan teknologi telah meraih kecanggihan dalam perkembangannya. Namun resensi meraih keberkahan ilmu termasuk urgensi niat menuntut ilmu lillahi ta’ala tidak boleh tergilas era. Laksana ikan dalam lautan, biarpun air asin, namun ikan tetap menjadi dirinya tidak terpengaruh dengan kondisi air laut. Mari kita raih keberkahan dalam menuntut ilmu demi kebaikan bersama dunia dan Akhirat.

Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga serta Mahasiswa Program Doktor UINAIR Banda Aceh

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2